New Policy: Pemerintah Berhasil Beri Penugasan ke Agrinas Palma Tanam 670 Ribu Hektare Sawit untuk B60
Beritahitam.com – Sebagai bagian dari New Policy yang sedang dijalankan, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa penugasan khusus telah diberikan kepada sejumlah perusahaan agribisnis untuk mempercepat produksi kelapa sawit. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah memastikan pasokan Crude Palm Oil (CPO) cukup untuk mendukung campuran biodiesel B60, yang diharapkan dapat meningkatkan kemandirian energi nasional. Menteri Pertanian menyampaikan bahwa langkah ini merupakan salah satu dari beberapa strategi untuk menghadapi tantangan global dalam penggunaan bahan bakar minyak nabati.
Kemitraan Strategis dengan Perusahaan BUMN
Kebijakan New Policy ini mencakup penugasan khusus kepada beberapa perusahaan besar milik negara, termasuk PT Agrinas Palma Nusantara dan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV), atau dikenal sebagai Palmco. Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, menyatakan bahwa penugasan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas produksi sawit. Dalam pidato utamanya di acara Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026 di Borobudur Hotel, Jakarta, Heru mengungkapkan bahwa komitmen pemerintah terhadap peningkatan produksi B60 sudah sangat jelas.
“Kebijakan New Policy ini mengharuskan kami menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan lingkungan. Dengan penugasan kepada Agrinas Palma, kita bertujuan untuk menanam 670.000 hektare sawit dalam dua tahun mendatang,” ujar Heru.
Agrinas Palma menjadi salah satu perusahaan yang diharapkan menjadi motor penggerak dalam mencapai target produksi B60. Menurut Heru, penugasan ini tidak hanya menitikberatkan pada jumlah areal, tetapi juga pada kualitas dan efisiensi produksi. “Kita tidak hanya memperluas lahan, tetapi juga harus memastikan bahwa setiap hektare yang ditanami sawit dapat memberikan kontribusi optimal,” tambahnya.
Transisi B50 ke B60 dan Dampak Ekonomi
Penerapan biodiesel B60 menjadi fokus utama New Policy dalam dua tahun terakhir. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia mulai menggantikan biodiesel B50 dengan B60, yang memungkinkan pengurangan emisi karbon sebesar 12 persen dibandingkan bahan bakar minyak konvensional. Menteri Pertanian menjelaskan bahwa transisi ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian energi nasional sekaligus mendukung industri sawit dalam memenuhi permintaan internasional.
Dalam konteks ekonomi, Heru menyebutkan bahwa kebijakan New Policy diharapkan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun per tahun. “Dengan meningkatkan produksi B60, kita bisa memperkuat ekspor sawit yang saat ini menjadi salah satu komoditas utama Indonesia,” ujarnya. Selain itu, penugasan ini juga dianggap sebagai langkah untuk menjaga stabilitas harga CPO di pasar global, mengingat permintaan dari negara-negara Eropa dan Asia yang semakin tinggi.
Peran BUMN dalam Swasembada Energi
Heru Tri Widarto menekankan bahwa kemitraan strategis dengan perusahaan BUMN agribisnis menjadi pilar utama New Policy. Dalam kebijakan ini, PT Agrinas Palma Nusantara ditargetkan menanam 670.000 hektare sawit, sementara PTPN IV (Palmco) bertugas menanam sekitar 240.000 hektare. “Penugasan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai swasembada energi melalui bahan bakar minyak nabati,” jelasnya.
Menurut Heru, capaian New Policy akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. “Kami sudah memastikan bahwa infrastruktur dan sumber daya manusia siap untuk mendukung produksi B60,” tambahnya. Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan keuangan dan teknis kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penanaman sawit, sehingga mereka dapat fokus pada peningkatan produktivitas dan kualitas hasil.
Keberhasilan New Policy dalam mengembangkan produksi B60 juga tergantung pada koordinasi yang baik antara pemerintah, perusahaan, dan petani. “Kerja sama ini sangat krusial karena kita harus memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berdampak nyata pada ekosistem sawit nasional,” kata Heru. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga mencakup penguatan regulasi untuk melindungi lingkungan, termasuk penegakan standar kualitas sawit yang ramah lingkungan.
Kontribusi Industri Sawit untuk Ekonomi Nasional
Dengan New Policy yang berfokus pada peningkatan produksi B60, industri sawit diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian Indonesia. Heru menyebutkan bahwa sektor ini telah menjadi salah satu pilar pendapatan negara, terutama dalam menyumbang devisa melalui ekspor CPO. “Target New Policy ini tidak hanya untuk menciptakan kemandirian energi, tetapi juga untuk memastikan industri sawit tetap berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut data Kementerian Pertanian, produksi sawit nasional telah mencapai rekor tertinggi pada 2025, dengan total 62 juta ton. Dengan adanya penugasan tambahan sebesar 670.000 hektare, pemerintah berharap produksi dapat terus meningkat hingga mencapai 70 juta ton dalam 2027. “Ini akan menjadi dasar bagi kita untuk memenuhi kebutuhan nasional dan ekspor,” kata Heru, yang menekankan pentingnya New Policy dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.
Keberhasilan New Policy ini juga dilihat sebagai langkah awal menuju transformasi industri sawit menjadi lebih modern dan berkelanjutan. Dengan peningkatan investasi dan teknologi, pemerintah yakin bahwa produksi B60 dapat tercapai secara optimal. “Kita tidak hanya menanam lebih banyak, tetapi juga harus mengelola lahan secara lebih efisien dan berkelanjutan,” tutup Heru, menegaskan bahwa New Policy adalah strategi jangka panjang untuk memastikan industri sawit tetap menjadi andalan ekonomi Indonesia.

