Kematian Satpam Waduk Jatiluhur: Investigasi Polisi dan Evaluasi Keamanan
Beritahitam.com – Kasus kematian satpam di Waduk Jatiluhur kembali menjadi perhatian publik. Profesi keamanan melalui petugas satpam terus menghadapi tantangan besar terkait keselamatan kerja di lapangan. Kasus terbaru terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026, ketika jenazah Sumarna berusia 40 tahun ditemukan di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sebelumnya, pada Rabu, 22 Juli 2026, juga terjadi insiden serupa yang menimpa Fiktor Harefa, seorang satpam proyek MRT di Bundaran HI, Jakarta, yang dianiaya pengemudi Toyota Alphard setelah menegur mobil tersebut karena melanggar lampu penyeberangan.
Proses Autopsi dan Identifikasi Penyebab Kematian
Tim medis telah melakukan prosedur autopsi untuk menentukan penyebab pasti kematian Sumarna. Waduk Jatiluhur dikenal sebagai waduk serbaguna terbesar di Indonesia dengan berbagai fungsi strategis, termasuk sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sumber irigasi pertanian, penyedia air baku, serta lokasi wisata populer. Kondisi jenazah saat ditemukan menunjukkan Sumarna masih mengenakan seragam dinas lengkap, dengan kedua tangannya terborgol di bagian belakang tubuh. Temuan ini menjadi salah satu poin penting dalam investigasi lebih lanjut.
Para ahli forensik bekerja keras untuk memastikan tidak ada indikasi kekerasan eksternal yang signifikan. Proses identifikasi juga telah dilakukan untuk memastikan identitas korban sesuai dengan data yang dimiliki pihak berwenang. Keluarga korban telah memberikan informasi penting terkait aktivitas terakhir Sumarna sebelum kejadian.
Kunjungan Bupati dan Evaluasi Sistem Keamanan
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein yang akrab disapa Om Zein, langsung mengunjungi rumah duka di Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur. Dalam kunjungannya pada Minggu, 26 Juli 2026, ia menyampaikan ucapan belasungkawa kepada istri dan keluarga korban. Kehadirannya menunjukkan kepedulian pemerintah daerah terhadap keselamatan para petugas keamanan yang bertugas di wilayahnya.
Kami datang untuk bertahlil sekaligus menyampaikan belasungkawa. Mudah-mudahan almarhum diberikan tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta kesabaran, ujarnya.
Om Zein juga menekankan pentingnya peningkatan sistem keamanan di area waduk. Menurutnya, wilayah yang luas dengan tingkat kerawanan tinggi tidak dapat hanya dijaga oleh satu orang saja. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan untuk memastikan standar keamanan yang memadai bagi seluruh petugas.
Kalau areanya luas dan tingkat kerawanannya tinggi, tentu tidak bisa hanya dijaga satu orang. Harus ada penambahan personel, penerangan harus memadai, dan wajib dilengkapi CCTV. Ini menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi PJT II, tetapi juga bagi pemerintah daerah, tambahnya.
Investigasi Polisi: 12 Saksi Diperiksa dan CCTV diamankan
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, menjelaskan bahwa tim investigasi telah memeriksa 12 saksi, meliputi keluarga korban maupun rekan kerja. Selain itu, rekaman CCTV di lokasi kejadian juga telah dikumpulkan untuk analisis lebih mendalam. Proses pemeriksaan saksi dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan keterangan yang komprehensif.
HP korban sudah kami amankan. Rekaman CCTV juga sudah kami periksa, namun hingga saat ini masih dilakukan pendalaman, jelasnya, sebagaimana dikutip dari TribunJabar.id.
Investigasi masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian satpam Sumarna. Para penyidik juga akan memeriksa catatan kehadiran dan aktivitas petugas pada hari kejadian. Hasil akhir investigasi diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian dan rekomendasi perbaikan sistem keamanan di masa depan.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak terkait pentingnya perlindungan bagi petugas keamanan di berbagai lokasi strategis. Pemerintah daerah dan perusahaan pengelola waduk akan bekerja sama untuk meningkatkan standar keselamatan kerja bagi seluruh satpam yang bertugas.

