Suara Dentuman Terdengar Lagi di Bandung
Beritahitam.com – Pada Minggu dini hari, 6 September 2026, sekitar pukul 01.05 WIB, warga Kota Bandung kembali digegerkan oleh dentuman keras yang menggema di langit malam. Ini bukan kejadian tunggal: sehari sebelumnya, Sabtu (5/9/2026), getaran serupa telah menghantui kawasan yang sama. Dengan kata lain, suara dentuman terdengar lagi di Bandung dalam rentang waktu yang sangat singkat, memicu kepanikan dan pertanyaan besar tentang asal-usulnya.
Apa yang Dirasakan Warga di Lapangan
Mustika, penghuni kawasan Ciroyom, Kota Bandung, Jawa Barat, menggambarkan malam itu sebagai pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. Baginya, bunyi tersebut bukan satu letusan singkat lalu reda, melainkan rangkaian suara yang terus berkepanjangan.
“Awalnya seperti dentuman terus ada kayak suara pesawat dan suara ngebor sampai sekarang belum selesai.”
Di wilayah Sarijadi, seorang perempuan bernama Mei mengonfirmasi hal serupa. Ia menambahkan bahwa tiupan angin kencang menyertai fenomena tersebut, membuat suasana terasa semakin mencekam bagi ribuan keluarga di dataran tinggi Bandung.
“Iya benar suaranya nggak hilang-hilang ada angin kencang juga.”
Kombinasi antara getaran berkepanjangan dan cuaca ekstrem membuat malam itu menjadi salah satu yang paling tidak nyaman bagi penduduk metropolitan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Dua Penjelasan Resmi yang Berbeda
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di bawah Kementerian ESDM, menyatakan bahwa dentuman yang tercatat pada Sabtu dini hari terjadi serentak dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa hanya erupsi bertipe tertentu—khususnya erupsi freatik yang melibatkan interaksi mendadak magma dan air—mampu membebaskan energi akustik dalam skala yang dapat merambat ratusan kilometer.
“Tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia. Ketika erupsi besar terjadi, atau erupsi dengan tipe tertentu, seperti freatik, biasanya memang disertai dentuman yang nyaring.”
Penjelasan itu disampaikan Rita melalui konferensi pers daring di kanal YouTube Badan Geologi. Ia menekankan bahwa fenomena tersebut merupakan konsekuensi fisika dari pelepasan energi termal dan mekanik secara tiba-tiba di kolom erupsi, yang kemudian merambat sebagai gelombang tekanan melalui atmosfer.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuka kemungkinan lain. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Suaidi Ahadi, menyebut bahwa beberapa literatur ilmiah mengaitkan fenomena serupa dengan aktivitas gas metana di bawah permukaan tanah kawasan danau purba. Namun ia menegaskan bahwa hipotesis tersebut masih sebatas kecurigaan dan belum dapat dikonfirmasi secara definitif.
“Ada beberapa literatur yang menyatakan bahwa adanya aktivitas gas metana di Danau Purba. Tapi itu masih menjadi kecurigaan kita.”
Dengan demikian, dua lembaga pemerintah yang berwenang memberikan interpretasi berbeda terhadap peristiwa yang sama. PVMBG mengarahkan penjelasan ke arah erupsi vulkanik, sementara BMKG membuka ruang bagi proses geokimia bawah permukaan. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang menutup perdebatan tersebut.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Dentuman di Bandung
Apakah suara dentuman yang terdengar di Bandung berbahaya bagi kesehatan? Berdasarkan penjelasan PVMBG, gelombang tekanan dari erupsi freatik yang merambat ratusan kilometer umumnya tidak menimbulkan bahaya langsung bagi tubuh manusia. Namun, warga tetap disarankan untuk tidak panik dan memantau informasi resmi dari lembaga terkait.
Berapa jarak antara Gunung Anak Krakatau dan Bandung? Jarak antara Selat Sunda, lokasi Gunung Anak Krakatau, dan kawasan Bandung mencapai ratusan kilometer. Meski demikian, energi akustik dari erupsi tertentu mampu merambat sejauh itu melalui atmosfer.
Apakah fenomena ini akan terulang? Selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan kondisi atmosfer mendukung propagasi gelombang tekanan, kemungkinan dentuman serupa terdeteksi kembali di wilayah Bandung tetap ada. Warga diimbau mengikuti pembaruan informasi dari PVMBG dan BMKG secara berkala.
Gunung Anak Krakatau sendiri berasal dari peristiwa apa? Gunung Anak Krakatau terbentuk kembali setelah letusan dahsyat tahun 1883 yang menghancurkan Gunung Krakatau. Aktivitas erupsinya tercatat secara berkala oleh PVMBG dan dapat memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah yang jauh dari lokasi erupsi.

