BNPT Ajak Pelajar Jabodetabek Perkuat Perdamaian dan Literasi Digital
Beritahitam.com – Ribuan pelajar SMA dari kawasan Jabodetabek mendapat ajakan untuk mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan sekolah yang damai, terbuka, dan menghargai keberagaman. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menekankan bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak perubahan, termasuk dalam menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Pesan itu disampaikan kepada sekitar 1.600 siswa dari 58 sekolah dalam Kemah Kebangsaan BP2M bertajuk “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan”. Kegiatan tersebut berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026), sebagai wadah pembelajaran mengenai kebangsaan, toleransi, dan persaudaraan.
Di lingkungan sekolah, pelajar diharapkan tidak hanya memahami nilai persatuan sebagai gagasan, melainkan juga membawanya ke dalam perilaku sehari-hari. Sikap saling menghormati, kesediaan menerima perbedaan, penolakan terhadap perundungan, serta keberanian menghentikan diskriminasi menjadi bentuk nyata menjaga suasana damai.
Pelajar Didorong Menjadi Agen Perubahan
Eddy Hartono menyampaikan harapannya agar peserta kemah dapat membawa semangat positif tersebut kembali ke sekolah masing-masing. Peran pelajar dinilai penting karena mereka berada langsung di tengah pergaulan sekolah dan aktivitas digital yang berkembang sangat cepat.
“Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini saya harap teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing, ini ada 58 sekolah. Kemarin saya juga sudah deklarasi dengan komite sekolah. Komite sekolah ada tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua,” ujar Kepala BNPT.
Keterlibatan komite sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk ekosistem pendidikan yang aman. Upaya menjaga anak dan remaja tidak dapat dibebankan kepada siswa semata, karena pendampingan dari orang dewasa dibutuhkan dalam kegiatan di sekolah maupun saat menggunakan internet.
Lingkungan yang inklusif memberi ruang bagi siswa untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan belajar menghadapi perbedaan tanpa harus saling merendahkan. Dalam konteks ini, sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya rasa percaya, persahabatan, dan tanggung jawab sosial.
Prinsip 3T untuk Menyaring Informasi
Perhatian BNPT juga tertuju pada derasnya arus informasi di media digital. Anak dan remaja berhadapan dengan beragam unggahan, percakapan grup, video, hingga narasi yang belum tentu akurat atau aman untuk dikonsumsi. Karena itu, kemampuan berpikir kritis diperlukan sebelum seseorang mempercayai atau menyebarkan suatu informasi.
Untuk membantu pelajar menghadapi situasi tersebut, Eddy mengajak mereka menerapkan prinsip 3T: Tahan, Telusuri, dan Timbang. Prinsip ini dapat digunakan sebagai kebiasaan sederhana ketika menemukan konten yang mengandung provokasi, kebencian, atau ajakan kekerasan.
“Jangan sampai terpapar oleh info-info kekerasan, ujaran kebencian. Jadi, teman-teman harus menerapkan 3T. Pertama Tahan, tahan dulu, lihat dulu informasinya. Kedua Telusuri, jangan langsung bagikan, telusuri dulu. Ketiga Timbang, pertimbangkan ini perlu tidak di-share,” tegasnya.
Tahap pertama mengajak pengguna internet untuk tidak bereaksi secara terburu-buru. Informasi yang memancing emosi sering kali mendorong orang segera membagikannya tanpa memahami isi secara utuh. Menahan diri memberi kesempatan untuk membaca lebih cermat dan menghindari penyebaran pesan yang berpotensi merugikan.
Setelah itu, informasi perlu ditelusuri. Pelajar dapat memperhatikan konteks, memeriksa apakah sebuah unggahan memuat klaim yang masuk akal, dan tidak langsung menganggapnya benar hanya karena datang dari grup percakapan atau akun yang dikenal. Tahap terakhir adalah menimbang manfaat serta dampak sebelum konten diteruskan kepada orang lain.
Perlindungan Anak di Ruang Digital
BNPT menghimpun data mengenai 782 anak di 18 provinsi yang terpapar konten kekerasan melalui berbagai grup digital. Salah satu ruang percakapan yang disebut adalah true crime community atau TCC, yang membahas kasus kriminal dan berbagai peristiwa kekerasan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ruang digital dapat membawa dampak yang berbeda bagi setiap anak. Tidak semua konten yang tersebar luas layak dikonsumsi atau dibagikan, terutama bila memuat gambaran kekerasan, ujaran kebencian, atau narasi yang mendorong tindakan berbahaya. Pendampingan menjadi semakin relevan ketika komunikasi digital berlangsung cepat dan tidak selalu terlihat oleh keluarga maupun sekolah.
Perlindungan anak bukan hanya soal membatasi paparan konten, tetapi juga membangun kemampuan mereka untuk memahami risiko. Empati, tanggung jawab, dan kecakapan menilai informasi dapat membantu remaja membuat keputusan yang lebih baik saat berinteraksi di dunia digital.
Kolaborasi antara orang tua, guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat pendampingan tersebut. Percakapan yang terbuka dapat membantu anak merasa aman menyampaikan pengalaman yang membuat mereka bingung, takut, atau tidak nyaman ketika menggunakan media digital.
Kemah Kebangsaan sebagai Ruang Belajar Bersama
Ketua Umum Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir), Muhammad Hanif, memandang Kemah Kebangsaan sebagai kesempatan bagi pelajar untuk menguatkan ikatan persaudaraan serta mengembangkan karakter kritis dan demokratis.
“Harapan saya semoga di kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk memperkuat tali persaudaraan dan membuktikan bahwa pelajar Indonesia adalah pelopor perubahan yang kritis serta demokratis,” ungkap Muhammad Hanif.
Semangat tersebut selaras dengan tujuan kegiatan, yaitu mendorong pelajar agar tidak berhenti pada pemahaman tentang nilai kebangsaan. Nilai itu dapat diwujudkan melalui tindakan kecil yang konsisten: menghargai teman yang berbeda latar belakang, tidak ikut menyebarkan kebencian, menolak perundungan, dan menggunakan media sosial dengan pertimbangan yang matang.
BNPT meyakini keamanan dan kedamaian Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan generasi muda, sekolah diharapkan terus menjadi ruang yang menghargai perbedaan, mempererat persahabatan, dan mewariskan nilai perdamaian kepada pelajar berikutnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Cegah Paparan Konten Radikal BNPT Minta?
Cegah Paparan Konten Radikal BNPT Minta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Cegah Paparan Konten Radikal BNPT Minta matter?
Cegah Paparan Konten Radikal BNPT Minta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

