Internasional

Latest Update: Mayoritas Dewan Keamanan PBB Kecam Perluasan Operasi Militer Israel di Lebanon

iter Israel di Lebanon Latest Update - Pada hari Senin (1 Juni 2026), sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB menyampaikan kecaman terhadap tindakan Israel

Desk Internasional
Published Juni 2, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Majelis Keamanan PBB Kecam Perluasan Operasi Militer Israel di Lebanon

Latest Update – Pada hari Senin (1 Juni 2026), sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB menyampaikan kecaman terhadap tindakan Israel yang memperluas operasi militer di Lebanon. Pertemuan darurat yang diadakan di bawah tekanan eskalasi konflik di wilayah tersebut menyoroti kekhawatiran internasional terhadap perluasan pertumpahan darah. Anggota dewan menilai bahwa tindakan Israel berpotensi memicu ketegangan lebih luas di kawasan Timur Tengah, terutama setelah gencatan senjata yang berlaku sejak 17 April lalu di bawah mediasi Amerika Serikat (AS) diabaikan.

France: Operasi Militer Israel Bertentangan dengan Gencatan Senjata

Utusan Prancis untuk PBB, Jerome Bonnafont, mengkritik tindakan Israel dalam sidang yang berlangsung di New York. Menurutnya, perluasan operasi militer terus berlanjut meski telah terjadi gencatan senjata di Lebanon. “Pendudukan baru yang dilakukan Israel hanya akan memperdalam konflik dan memperburuk ketidakstabilan,” tegas Bonnafont. Ia menekankan bahwa eskalasi ini bertentangan dengan kesepakatan yang telah dicapai, yang seharusnya menjadi titik awal untuk mencapai perdamaian.

Trump Murka pada Netanyahu soal Eskalasi Israel di Lebanon: Kau Benar-benar Gila!

Selain itu, Trump, mantan presiden Amerika Serikat, secara terbuka mengkritik tindakan Israel dalam sebuah wawancara terpisah. Ia menyebut langkah pemerintah Israel sebagai “tindakan kacau” yang tidak terukur. “Kau benar-benar gila, Netanyahu!” kata Trump dalam pengamatan yang dipublikasikan pada Selasa (2 Juni 2026). Penilaian Trump menyamai pernyataan sejumlah negara anggota dewan, yang menilai perluasan operasi militer Israel semakin mengancam keamanan Lebanon.

Rusia dan China: Kesamaan Pandangan tentang Ketidakadilan Militer

Utusan Rusia, Vassily Nebenzia, yang juga memberikan pernyataan dalam sidang darurat, menyoroti kemiripan antara konflik Lebanon dan perang di Gaza. “Situasi yang terjadi di Lebanon sangat mirip dengan eskalasi di wilayah Palestina,” jelas Nebenzia. Ia menambahkan bahwa Rusia mengutamakan penarikan pasukan Israel sebagai syarat untuk gencatan senjata yang efektif. “Kecuali pasukan Israel mundur, konflik akan terus memburuk,” tegasnya.

Dari sisi China, Fu Cong, utusan PBB negara tersebut, menilai operasi darat Israel sebagai bentuk pendudukan militer terdalam yang pernah terjadi di Lebanon dalam lebih dari dua dekade. “Kehadiran pasukan Israel di wilayah Lebanon kini mencapai level yang baru,” kata Fu Cong. Ia menyoroti bahwa tindakan ini berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan memperpanjang periode ketegangan antara pihak-pihak terlibat.

Kritik Inggris: Tindakan Israel Tidak Proporsional

Sementara itu, Inggris juga mengeluarkan kecaman terhadap operasi militer Israel, menganggapnya sebagai tindakan yang tidak seimbang. “Pertumpahan darah di Lebanon terus meningkat meski pihak-pihak terlibat berkomitmen untuk gencatan senjata,” kata utusan Inggris dalam pernyataan resmi. Ia menekankan bahwa serangan terhadap penduduk sipil menjadi faktor utama yang memperburuk penderitaan rakyat Lebanon.

Inggris menyoroti bahwa kebijakan militer Israel berpotensi merusak infrastruktur Lebanon dan meningkatkan jumlah korban. “Setiap serangan militer harus memiliki tujuan jelas dan keuntungan yang sepadan,” imbuh utusan Inggris. Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ini dapat mengganggu upaya penyelesaian konflik di wilayah lain, seperti di Gaza.

Melalui Diplomasi, Harapan Perdamaian Dicari

Para anggota Dewan Keamanan PBB sepakat bahwa penyelesaian konflik Lebanon harus dilakukan melalui jalur diplomatik. “Situasi yang terjadi menunjukkan bahwa perluasan operasi militer tidak lagi menjadi opsi terbaik, kecuali ada kepastian kesepakatan yang jelas,” kata perwakilan dari sejumlah negara. Pertemuan darurat ini menjadi momentum untuk meninjau ulang perjanjian gencatan senjata dan mendorong negosiasi baru.

Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh utusan Rusia, yang menekankan bahwa pasukan Israel harus ditarik dari Lebanon agar gencatan senjata dapat berjalan efektif. “Tanpa kehadiran militer Israel, upaya untuk memulihkan ketenangan akan lebih cepat tercapai,” ujarnya. Sementara itu, China mengingatkan bahwa penyerangan Israel ke Lebanon telah mengubah sifat perang menjadi lebih terbuka, memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap hubungan antarnegara.

Dewan Keamanan PBB menetapkan bahwa eskalasi konflik di Lebanon berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam perang. “Operasi militer Israel yang berlanjut tanpa henti harus dihentikan secepat mungkin,” kata perwakilan dari negara-negara anggota dewan. Ia menambahkan bahwa konflik di Lebanon kini menjadi pengingat bahwa langkah-langkah militer yang tidak terukur dapat memicu efek domino di wilayah lain.

Kesimpulan: Harapan untuk Perdamaian dan Konsensus Internasional

Setelah berbagai kritik dan pernyataan yang disampaikan, dewan keamanan menegaskan komitmen untuk mencapai resolusi politik. Meski tidak semua negara sepakat, mayoritas anggota dewan menyetujui bahwa kebijakan Israel perlu direvisi agar tidak melanggar kesepakatan. “Konsensus internasional menjadi kunci untuk mencegah konflik memburuk,” kata perwakilan dari negara-negara lain yang turut mengkritik tindakan Israel.

Secara keseluruhan, sidang darurat ini menjadi bukti bahwa Dewan Keamanan PBB aktif dalam mengawasi konflik antara Israel dan Lebanon. Meski ada keberagaman pandangan, kesamaan tujuan untuk mencegah perluasan ketegangan menjadi dasar bagi upaya perdamaian. Dengan kecaman yang disampaikan, para delegasi berharap langkah-langkah konstruktif dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Dewan Keamanan PBB juga menekankan pentingnya penggunaan diplomasi dalam mengatasi konflik. “Serangan militer yang berkepanjangan tidak lagi menjadi solusi, kecuali ada kepastian bahwa pihak-pihak terlibat benar-benar bersedia berunding,” kata utusan dari negara-negara anggota. Ia menambahkan bahwa penyelesaian konflik harus melibatkan semua pihak, termasuk Lebanon, Israel, dan negara-negara pendukung mereka.

Kebijakan Israel yang terus diperluas menimbulkan perdebatan antara pendukung dan kritikus. Beberapa anggota dewan berpandangan bahwa Israel berhak bertindak dengan keras untuk menegakkan keamanan. Namun, kebanyakan menilai bahwa tindakan ini melebihi batas yang telah ditetapkan. “Semangat perang harus terkendali agar tidak menyebabkan kerusakan yang tidak terkira,” kata salah satu perwakilan yang turut memberikan komentar. Hal ini menunjukkan bahwa per

Leave a Comment