Key Issue: Konflik Sarwendah-Ruben Onsu Memanas, Kuasa Hukum Minta Penuhi Kewajiban Sesuai Kesepakatan
Key Issue – Konflik yang terjadi antara Sarwendah dan Ruben Onsu semakin memanas, dengan key issue utamanya menjadi perhatian publik. Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, menegaskan bahwa sengketa ini tidak hanya tentang hak asuh anak, tetapi juga terkait kewajiban penuhi perjanjian nafkah yang telah disepakati sebelumnya. “Kami ingin menyudahi ketegangan ini, baik untuk kepentingan anak maupun keharmonisan keluarga,” ujar Chris dalam wawancara terbarunya, Kamis (4/6/2026). Ia menyoroti bahwa keputusan pembayaran nafkah sebesar Rp200 juta per bulan bukanlah tuntutan belakangan, tetapi kesepakatan yang sudah jelas.
Latar Belakang Konflik dan Kesepakatan Perceraian
Konflik ini berawal dari pernikahan Sarwendah dan Ruben Onsu yang berlangsung selama beberapa tahun. Meski mereka telah bercerai pada 2024, proses perpisahan tetap berdampak pada kehidupan anak-anak mereka. Kesepakatan perceraian menyebutkan bahwa Ruben Onsu berkewajiban memberikan uang pensiun anak secara rutin, dengan nilai yang disepakati kedua belah pihak. Namun, perlahan-lahan kepercayaan mulai retak ketika Ruben Onsu tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut secara konsisten.
Dalam pernyataannya, Chris Sam Siwu menjelaskan bahwa pihak Sarwendah hanya ingin Ruben Onsu menjalankan perjanjian yang telah ditandatangani. “Key issue ini jelas: ada kesepakatan, dan sekarang Ruben Onsu yang perlu memenuhinya,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa pihak Sarwendah tidak memaksa pembayaran nafkah, melainkan mendorong Ruben Onsu untuk konsisten mengikuti perjanjian sebelumnya. Hal ini memicu kekecewaan dari sisi Sarwendah, yang merasa hak-hak anak tidak lagi dilindungi dengan baik.
Langkah dan Tuntutan dari Kuasa Hukum Sarwendah
Chris Sam Siwu memberikan instruksi jelas kepada Ruben Onsu agar segera memenuhi kewajibannya sesuai dengan kesepakatan. “Bila dia ingin memberi uang pensiun anak, maka dia harus mengikhlaskan pembayaran tersebut tanpa hambatan,” jelasnya. Dalam beberapa kesempatan, Ruben Onsu mengungkapkan kesulitan untuk bertemu anak-anak setelah perceraian, yang dianggap sebagai alasan utama keterlambatan pembayaran nafkah.
Masalah key issue ini semakin kompleks ketika Sarwendah menyebutkan bahwa keputusan pembayaran nafkah tidak lagi didasarkan pada kebutuhan aktual anak, melainkan keinginan pribadi Ruben Onsu. “Dulu pembayaran lancar, sekarang justru ada penghambatannya. Itu yang membuat kami harus bertindak,” kata Chris. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya terus memantau keadaan keuangan Ruben Onsu untuk memastikan kewajibannya tetap dipenuhi tanpa adanya penundaan.
Terlebih dalam situasi key issue ini, media massa dan masyarakat menginginkan adanya kejelasan. “Anak-anak kita yang paling terdampak. Kami ingin kehidupan mereka tetap stabil, bukan karena perselisihan orang tua,” imbuhnya. Chris juga menyoroti bahwa sengketa ini tidak hanya tentang uang, tetapi juga tentang tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan merawat anak.
Potensi Dampak dan Solusi Konflik
Konflik antara Sarwendah dan Ruben Onsu berpotensi mengganggu hubungan keluarga dan kenyamanan anak-anak mereka. Dengan key issue ini, pihak kuasa hukum Sarwendah berharap muncul solusi yang adil dan segera. “Mau tidak mau, semua pihak harus mematuhi kesepakatan. Jika tidak, maka akan ada langkah hukum yang lebih tegas,” tegas Chris. Ia mengingatkan bahwa pembayaran nafkah bukanlah tuntutan baru, tetapi kewajiban yang sudah jelas sejak awal.
Menurut Chris, kesepakatan dalam perceraian telah dibuat secara resmi dan harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. “Ruben Onsu telah menandatangani dokumen tersebut. Maka, semua yang terjadi sekarang adalah karena keengganan atau ketidakmampuan memenuhi kewajibannya,” katanya. Dalam upaya menyelesaikan key issue ini, pihak Sarwendah juga menggandeng media untuk menyampaikan pesan yang jelas kepada Ruben Onsu.
Chris Sam Siwu berharap melalui upaya ini, konflik yang terjadi bisa segera diakhiri. “Kami ingin semua orang melihat bahwa key issue ini bukanlah perselisihan yang tidak selesai, tetapi tuntutan untuk menjaga kepentingan anak dan keharmonisan keluarga,” tuturnya. Dengan terbukanya kesepakatan secara jelas, ia yakin akan ada penyelesaian yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Namun, keberhasilan ini bergantung pada kepatuhan Ruben Onsu terhadap kewajibannya sesuai perjanjian sebelumnya.
