Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel, Sekar Jawi Menyambung Rantai Ekonomi
Sekar Jawi: Ketika Tangan Seorang Perempuan Mengubah Rempah Bantul Menjadi Produk Ekonomi
Beritahitam.com – Rak kayu sederhana di sebuah sudut Kalurahan Kalirandu, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, memajang deretan botol dan sachet berwarna-warni. Label pada tiap kemasan menyebut nama-nama yang jarang ditemui di rak supermarket modern: sabun jebuksari, sari sereh, masker bengkoang, masker susu, wedang telang, wedang jahe sereh, wedang uwuh, hingga kunyit latte. Di balik setiap produk itu berdiri satu nama — Septi Setiani — perempuan asal Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang memilih mengolah bahan alam menjadi barang bernilai jual dengan tangannya sendiri.
Usaha yang ia beri nama Sekar Jawi bukan sekadar toko kecil di pinggir jalan. Ia merupakan wujud konkret dari upaya mengangkat potensi rempah dan tanaman herbal lokal ke ranah ekonomi formal, sekaligus menjadi contoh bagaimana satu orang dengan bekal akademik yang tepat mampu membangun rantai nilai dari bahan mentah hingga produk jadi yang siap dikonsumsi.
Akar Akademik di UGM
Keputusan Septi untuk terjun ke dunia pengolahan bahan alam berawal dari ruang kelas. Pada angkatan 2004, ia mendaftar ke program Diploma II (D2) Farmasi Jamu di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Kurikulum program tersebut menempatkan praktik di atas teori: mahasiswa diajak mengenal anatomi tumbuhan, fisiologi tanaman, teknik pengolahan simplicia (bahan herbal kering), hingga tahap akhir berupa formulasi produk jadi.
"Jadi pembelajarannya mulai dari nol, seperti pengenalan anatomi tumbuhan,生理ologi tanaman, pengolahan simplicia (tanaman herbal kering), sampai ke goals-nya adalah pembuatan produk."
Septi menuturkan kalimat itu saat ditemui di gerainya pada Rabu (19/8/2026). Bagi perempuan kelahiran Cilacap tersebut, ilmu yang diserap selama berkuliah bukan sekadar nilai di transkrip akademik. Ia menjadi fondasi yang memungkinkannya, sebelum wisuda, sudah memiliki produk nyata di tangan.
Pertemuan di Dalam Bus
Momen yang mengubah pengetahuan menjadi praktik terjadi secara tak terduga. Suatu hari, dalam perjalanan menuju kampus dengan bus umum, Septi duduk bersebelahan dengan seorang pria yang mengaku berdomisili di Jakarta. Percakapan singkat berubah menjadi tantangan: pria itu meminta Septi meracik herbal bath — campuran rempah yang lazim dipakai untuk keperluan spa, mandi, atau berendam. Tanpa ragu, Septi menerima tawaran tersebut. Pria itu bahkan langsung memesan dua puluh pieces herbal bath.
Pesanan pertama itu menjadi laboratorium hidup bagi Septi. Ia sendiri yang mencari bahan baku, memetik daun pandan, mengiris simplicia, lalu membawa seluruh bahan ke kampus untuk dikeringkan. Proses pengeringan tidak mungkin dilakukan di kos karena keterbatasan ruang dan paparan sinar matahari.
"Saya cari bahan baku sendiri, cari daun pandan sendiri, ngrajang (mengiris) simplicia, terus dibawa ke kampus, tak keringin di kampus karena nggak mungkin bisa kering kalau dijemur di kos-kosan."
Wajahnya menyala saat mengenang episode tersebut. Namun, euforia itu tidak bertahan lama.
Pemesan yang Menghilang dan Putaran Baru
Produk selesai diracik, tetapi pemesan tak pernah muncul. Nomor telepon yang sempat diberikan tidak lagi aktif. Septi, yang semula bersemangat, merasakan kekecewaan yang dalam. Situasi diperparah oleh fakta bahwa herbal bath termasuk produk segmented — segmen konsumennya sempit dan tidak semua orang menjadi calon pembeli alami.
Daripada membiarkan kekecewaan mengendap, Septi memilih jalur lain. Ia membawa dua varian kemasan herbal bath — ukuran kecil dan besar — ke sebuah toko oleh-oleh ternama di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Strategi sederhana: membiarkan pihak toko memilih kemasan yang paling sesuai untuk dipasarkan. Langkah ini menandai pergeseran dari model pesanan satu-klien ke model distribusi ritel, sekaligus membuka pintu bagi produk-produk Sekar Jawi berikutnya.
Konteks Ekonomi dan Peluang
Perjalanan Septi tidak berdiri sendiri. Ia berada di persimpangan dua arus besar: kebangkitan minat konsumen terhadap produk herbal tradisional dan dorongan pemerintah untuk mendigitalisasi UMKM. Produk seperti wedang telang atau kunyit latte, yang berakar pada resep turun-temurun, kini menemukan pasar baru melalui media sosial dan platform e-commerce. Di sisi lain, regulasi yang semakin jelas mengenai standar keamanan pangan dan kosmetik herbal memberi kerangka bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas tanpa kehilangan identitas lokal.
Bagi masyarakat Bantul dan sekitarnya, keberadaan usaha seperti Sekar Jawi juga berarti perputaran ekonomi di tingkat mikro: petani rempah lokal memperoleh pembeli tetap, tenaga kerja di sekitar gerai terserap, dan nilai tambah yang sebelumnya tertinggal di hulu rantai pasok kini berpindah ke tangan pelaku usaha di hilir. Dalam skala yang lebih luas, setiap botol sabun jebuksari atau sachet wedang uwuh yang terjual merupakan bukti bahwa pengetahuan akademik, kreativitas peracikan, dan keberanian mengambil risiko dapat bersatu dalam satu entitas ekonomi kecil yang berkelanjutan.
Septi sendiri tidak melihat usahanya sebagai akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebagai satu tahap dalam proses panjang. Rak kayu di Kalirandu itu, dengan seluruh label dan kemasannya, tetap menjadi titik berangkat — bukan titik akhir — dari cerita yang masih terus ditulis.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel?Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel matter?Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.