Pemerataan Layanan Paliatif Terkendala Geografis, Perdopin Rumuskan Empat Strategi
Perdopin Dorong Perluasan Layanan Paliatif hingga Daerah
Beritahitam.com – Perawatan paliatif di Indonesia masih belum dapat diakses secara merata, terutama karena tantangan jarak antarwilayah, keragaman kondisi penduduk, dan pembiayaan layanan yang belum sepenuhnya berjalan optimal. Perkumpulan Dokter Paliatif Indonesia (Perdopin) menyiapkan empat langkah utama untuk memperluas layanan ini, termasuk pelatihan tenaga kesehatan berbasis wilayah dan pembentukan Program Studi Spesialis Satu (Sp-1) Paliatif.
Agenda tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Ilmiah Nasional Perdopin untuk memperingati World Hospice and Palliative Care Day (WHPCD) 2026. Kegiatan yang berlangsung di RS MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mengangkat tema “Pain Management: An Essential of Palliative Care”.
Seminar diikuti unsur Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, organisasi profesi kedokteran, akademisi, serta organisasi nonpemerintah di bidang kesehatan. Sebanyak 13 ahli paliatif hadir untuk membahas pengelolaan nyeri yang menyeluruh, melibatkan berbagai disiplin, dan menempatkan kebutuhan pasien sebagai pusat perhatian.
Pengendalian Nyeri Menjadi Bagian Penting
Pengelolaan nyeri tidak hanya berkaitan dengan pemberian obat. Dalam perawatan paliatif, nyeri dapat memiliki dimensi fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Karena itu, pendekatan yang menyeluruh diperlukan untuk membantu mengurangi penderitaan pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa, sekaligus memberi dukungan kepada keluarga yang merawatnya.
Ketua Umum Perdopin dr. Dradjat Ryanto Suardi, Sp.B, Subsp.Onk.(K), menilai pemahaman tentang paliatif masih perlu diperkuat, baik di masyarakat maupun di kalangan tenaga kesehatan. Layanan ini kerap dipersempit sebagai pendampingan pada fase akhir kehidupan atau identik dengan kanker, padahal cakupannya jauh lebih luas.
“Perawatan paliatif harus diberikan sejak awal diagnosis penyakit kronis progresif ditegakkan, mencakup penyakit paru, tuberkulosis, diabetes, penyakit jantung, hingga stroke,” kata Dradjat.
Paliatif juga tidak ditujukan untuk menggantikan peran dokter yang menangani penyakit utama. Kehadirannya justru memperkaya kemampuan tim medis dan membuka kerja sama lintas bidang agar keluhan pasien dapat ditangani secara lebih utuh.
Dukungan bagi pengembangan layanan tersebut telah datang dari berbagai organisasi profesi, di antaranya PAPDI, IDAI, PERDOSRI, PDSKJI, PERABOI, dan PDKI. Kolaborasi antardisiplin menjadi penting karena pasien dengan penyakit kronis progresif sering membutuhkan penanganan dari lebih dari satu bidang keahlian.
Tantangan Indonesia yang Luas dan Beragam
Perdopin menilai karakter geografis Indonesia membuat pengembangan pelayanan paliatif membutuhkan perencanaan yang cermat. Wilayah Indonesia mencapai sekitar dua juta kilometer persegi, membentang sekitar 6.000 kilometer, dan mencakup 17.400 pulau. Kondisi ini juga diikuti keberagaman 1.340 suku bangsa serta perbedaan kemampuan ekonomi di berbagai daerah.
“Pengembangan pelayanan paliatif tidak semudah menjawab hambatan yang muncul. Dengan luas wilayah Indonesia mencapai sekitar dua juta kilometer persegi yang membentang sepanjang 6.000 kilometer melintasi 17.400 pulau, ditambah keberagaman 1.340 suku bangsa dan variasi ekonomi antardaerah, pengembangan layanan paliatif tidak dapat dilakukan secara serentak tanpa strategi yang terukur,” ujarnya.
Keadaan tersebut membuat kebutuhan layanan di setiap daerah tidak dapat diperlakukan dengan pola yang sama. Ketersediaan tenaga kesehatan, akses menuju fasilitas layanan, kondisi sosial keluarga pasien, serta kemampuan daerah untuk membangun dukungan kesehatan dapat berbeda secara signifikan.
Dradjat juga mengajak pemerintah daerah untuk memberi perhatian lebih besar terhadap perawatan paliatif. Pemerintah Kota Surabaya disebut sebagai contoh daerah yang telah memberikan dukungan penuh, termasuk dengan mendirikan gedung khusus untuk layanan paliatif.
Empat Strategi untuk Pemerataan
Langkah pertama yang dirancang Perdopin adalah program Training of Trainers atau ToT berdasarkan zonasi wilayah. Pola ini diharapkan membantu penguatan kapasitas tenaga medis lebih dekat dengan kebutuhan daerah, sehingga pelatihan tidak hanya bertumpu di kota-kota besar.
Strategi kedua adalah pendirian Program Studi Sp-1 Paliatif. Kehadiran pendidikan spesialis di bidang ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan tenaga profesional dengan kompetensi khusus dalam menangani kebutuhan pasien paliatif secara komprehensif.
Perdopin juga menekankan pentingnya praktisi paliatif yang luwes bekerja bersama disiplin lain. Pasien tidak hanya menghadapi gejala medis, tetapi juga persoalan mobilitas, kebutuhan perawatan di rumah, dukungan keluarga, dan perubahan kualitas hidup. Karena itu, koordinasi dengan berbagai tenaga kesehatan menjadi unsur penting dalam layanan.
Strategi keempat berkaitan dengan pemanfaatan teknologi maju untuk memantau pasien yang menjalani home care. Pemantauan jarak jauh dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan perawatan, khususnya bagi pasien yang tidak mudah menjangkau fasilitas kesehatan secara langsung.
Pembiayaan dan Rujuk Balik Masih Perlu Diperkuat
Pembiayaan turut menjadi perhatian dalam perluasan layanan paliatif. Perdopin mencatat penerapan perawatan paliatif di sistem BPJS Kesehatan belum sepenuhnya berjalan, terutama ketika pasien memasuki proses rujuk balik ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama atau Faskes 1.
Padahal, layanan paliatif telah dicantumkan dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. Penguatan implementasi di tingkat layanan primer menjadi penting agar pasien dan keluarga tidak kehilangan dukungan saat perawatan berlanjut di luar rumah sakit rujukan.
Dengan pelatihan yang lebih tersebar, pendidikan spesialis, kerja sama lintas profesi, serta dukungan teknologi untuk perawatan di rumah, Perdopin berharap akses paliatif dapat berkembang lebih merata. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, melainkan membantu pasien menjalani hidup dengan kenyamanan dan kualitas hidup sebaik mungkin selama menghadapi kondisi kronis progresif.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pemerataan Layanan Paliatif Terkendala Geografis Perdopin?Pemerataan Layanan Paliatif Terkendala Geografis Perdopin is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pemerataan Layanan Paliatif Terkendala Geografis Perdopin matter?Pemerataan Layanan Paliatif Terkendala Geografis Perdopin matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.