Panduan Co-Parenting bagi Orangtua yang Bercerai, Dampingi Anak Meski Tak Lagi Satu Atap
Panduan Co Parenting bagi Orangtua yang Tetap Mendampingi Anak
Beritahitam.com – Panduan Co Parenting bagi Orangtua dapat membantu ayah dan ibu yang telah bercerai tetap hadir dalam kehidupan anak. Perceraian memang mengakhiri hubungan sebagai pasangan, tetapi tidak menghapus tanggung jawab kedua orangtua untuk memberi kasih sayang, perlindungan, dan dukungan bagi tumbuh kembang anak.
Co-parenting atau pengasuhan bersama berarti mantan pasangan membangun kerja sama sebagai tim pengasuhan. Tujuannya bukan untuk kembali menjalani hubungan suami istri, melainkan memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi meski ayah dan ibu tidak lagi tinggal serumah.
Konselor sekaligus purnabakti dosen PPK dan BK Universitas Negeri Semarang, Dr. Heru Mugiarso, menjelaskan pentingnya pengasuhan bersama dalam podcast Momspiration di kanal YouTube Tribun Health. Menurutnya, perbedaan tempat tinggal tidak menghalangi ayah dan ibu untuk menjalankan peran sebagai orangtua.
“Jadi co-parenting ini adalah tim pengasuhan anak. Tim pengasuhan anak bisa jadi antara ayah dan ibu berbeda tempat.”
Samakan Tujuan untuk Kepentingan Anak
Dasar utama co-parenting adalah kesamaan tujuan, yaitu mendukung anak agar tetap tumbuh dengan baik. Kedua orangtua perlu menempatkan kepentingan anak di atas persoalan pribadi yang pernah terjadi dalam rumah tangga.
Setiap keluarga dapat menyusun pola pengasuhan sesuai kondisi masing-masing. Ada yang membutuhkan jadwal kunjungan terperinci, sementara keluarga lain dapat menerapkan kesepakatan yang lebih fleksibel. Apa pun bentuknya, aturan perlu jelas agar anak memiliki kepastian mengenai waktu bersama ayah dan ibu.
Jadwal bertemu, kegiatan akhir pekan, kehadiran dalam acara sekolah, hingga cara mengambil keputusan penting dapat dibicarakan sejak awal. Kesepakatan yang konsisten membantu anak merasakan bahwa kedua orangtuanya tetap terlibat dalam hidupnya.
Bangun Komunikasi yang Berfokus pada Anak
Dalam Panduan Co Parenting bagi Orangtua, komunikasi menjadi bagian yang sangat penting. Pembicaraan antara mantan suami dan istri sebaiknya diarahkan pada kebutuhan anak, bukan pada masalah hubungan yang telah berlalu.
Hal yang dapat dikomunikasikan meliputi jadwal sekolah, kondisi kesehatan, perkembangan belajar, kegiatan harian, kebutuhan biaya, serta perubahan rutinitas anak. Informasi yang jelas dan tepat waktu membuat kedua orangtua lebih mudah memberi dukungan yang selaras.
Orangtua juga dapat memanfaatkan media komunikasi khusus untuk koordinasi, misalnya grup percakapan. Jika anak ikut berada di dalam grup, ayah dan ibu perlu menjaga isi percakapan agar tetap nyaman dan tidak menjadikannya tempat membahas konflik pribadi.
Jangan Libatkan Anak dalam Konflik
Anak tidak seharusnya menjadi perantara pesan, pendengar pertengkaran, atau pihak yang diminta memilih salah satu orangtua. Membawa konflik orang dewasa ke hadapan anak dapat membuatnya merasa tertekan dan bingung terhadap situasi keluarga.
Heru mengingatkan bahwa kesalahan atau persoalan antara ayah dan ibu tidak perlu diungkit di depan anak. Fokus pengasuhan harus kembali kepada kebaikan anak, bukan pada keinginan untuk membuktikan siapa yang benar.
“Yang pertama adalah untuk kebaikan anak. Maka jangan mengungkit masalah, kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Itu nggak boleh kayak begitu.”
Sikap saling menghormati dapat ditunjukkan melalui tindakan sederhana, seperti tidak merendahkan mantan pasangan di depan anak, mematuhi jadwal yang telah disepakati, dan menyampaikan perubahan rencana dengan cara yang baik. Anak akan lebih mudah beradaptasi apabila melihat kedua orangtuanya mampu bekerja sama secara dewasa.
FAQ Seputar Co-Parenting Setelah Perceraian
Apakah co-parenting harus dilakukan oleh orangtua yang masih akur?
Tidak harus. Orangtua tidak perlu kembali dekat sebagai pasangan untuk menjalankan pengasuhan bersama. Yang dibutuhkan adalah kesediaan berkomunikasi secara terbatas, sopan, dan berorientasi pada kebutuhan anak.
Bagaimana jika komunikasi dengan mantan pasangan sering memicu konflik?
Buat batas komunikasi yang jelas, misalnya menggunakan pesan tertulis untuk urusan anak dan membahas topik tertentu saja. Bila diperlukan, kesepakatan pengasuhan dapat ditulis agar kedua pihak memiliki pedoman yang sama.
Apakah anak boleh diberi tahu mengenai jadwal bersama ayah atau ibu?
Ya. Anak justru perlu mengetahui jadwalnya agar memiliki rasa aman dan kepastian. Namun, sampaikan informasi dengan bahasa yang sesuai usia anak tanpa membebani mereka dengan masalah orangtua.
Dengan komunikasi yang sehat, aturan yang konsisten, dan sikap saling menghormati, co-parenting dapat menjadi cara bagi kedua orangtua untuk tetap membersamai anak. Meski keluarga berubah bentuk, anak tetap berhak merasakan kehadiran dan dukungan dari ayah maupun ibu.