Vitamin D Jadi Tren Sejak Covid-19, Dokter Jelaskan Perbedaan D2 dan D3
Memahami Vitamin D2 dan D3 di Tengah Meningkatnya Perhatian pada Kesehatan
Beritahitam.com – Perhatian masyarakat terhadap vitamin D meningkat sejak masa Covid-19. Banyak orang mulai memeriksa kadarnya, mencari suplemen, hingga mempertimbangkan asupan vitamin ini sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Meski demikian, konsumsi vitamin D perlu disertai pemahaman mengenai sifatnya, bentuk yang tersedia, serta cara tubuh memprosesnya.
Vitamin D dikenal memiliki peran yang berkaitan dengan daya tahan tubuh dan kesehatan tulang. Popularitasnya selama pandemi membuat topik ini semakin sering dibahas, tetapi vitamin D bukan sekadar suplemen yang dapat dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah asupan maupun kebutuhan masing-masing orang.
Termasuk Vitamin Larut Lemak
Medical and Training Manager PT Guardian Pharmatama, dr. Maria Magdalena, menjelaskan bahwa vitamin D masuk kelompok vitamin larut lemak. Kelompok yang sama juga mencakup vitamin A, vitamin E, dan vitamin K.
Sifat tersebut membedakannya dari vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin B dan C. Vitamin larut air umumnya tidak disimpan dalam tubuh dalam jumlah besar, sedangkan vitamin larut lemak dapat bertahan lebih lama. Karena itu, asupan vitamin D perlu diperhatikan dengan baik, terutama ketika seseorang memilih mengonsumsinya dalam bentuk suplemen.
Pemeriksaan kadar vitamin D dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum menentukan kebutuhan tambahan. Pemahaman ini penting agar perhatian terhadap kesehatan tidak semata-mata mengikuti tren, melainkan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan anjuran tenaga kesehatan.
Peran Vitamin D yang Banyak Dibicarakan Saat Pandemi
Pada periode Covid-19, vitamin D menjadi salah satu topik kesehatan yang sangat populer. Perannya terhadap sistem daya tahan tubuh membuat banyak orang memasukkannya ke dalam rutinitas harian. Di sisi lain, vitamin ini juga berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan tulang.
Dalam podcast HEALTHY TALK “Is Taking Vitamins Every Day Actually Safe?” di kanal YouTube Tribun Health pada Senin, 14 September 2026, dr. Maria Magdalena menggambarkan besarnya perhatian terhadap vitamin D pada masa pandemi.
“Vitamin D ini pas Covid-19 ini, vitamin D ini banyak. Lagi nge-hit. Viral banget lah pokoknya. Saya termasuk pengikut vitamin D. Iya. Covid-19 saya minum. Perannya banyak sekali,”
Popularitas tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mencukupi kebutuhan gizi. Namun, pembahasan vitamin D sebaiknya tidak berhenti pada manfaatnya secara umum. Penting pula memahami perbedaan bentuk vitamin D yang ditemukan dalam makanan, suplemen, dan proses alami tubuh.
Vitamin D2 dan Vitamin D3
Vitamin D yang masih belum aktif hadir dalam beberapa bentuk. Dua bentuk yang paling dikenal adalah vitamin D2 dan vitamin D3. Keduanya sama-sama berkaitan dengan vitamin D, tetapi memiliki sumber yang berbeda.
Vitamin D2 umumnya berasal dari jamur dan ragi. Sementara itu, vitamin D3 biasanya bersumber dari hewan. Vitamin D3 juga dapat diperoleh melalui paparan sinar matahari.
Baik D2 maupun D3 pada tahap awal disebut sebagai bentuk vitamin D yang belum aktif. Tubuh kemudian menjalankan proses lanjutan untuk mengolahnya. Inilah alasan pembahasan mengenai vitamin D tidak hanya berfokus pada nama suplemen atau sumbernya, tetapi juga pada proses yang terjadi setelah zat tersebut masuk ke dalam tubuh.
Bagi pembaca yang ingin memperhatikan kecukupan vitamin D, mengenali sumbernya dapat menjadi langkah awal yang bermanfaat. Jamur dan ragi dapat berkaitan dengan vitamin D2, sedangkan sumber hewani serta paparan sinar matahari berkaitan dengan vitamin D3. Informasi ini juga membantu masyarakat membaca label produk dengan lebih cermat.
Asupan Perlu Dipertimbangkan dengan Bijak
Karena vitamin D tergolong larut lemak dan dapat bertahan lebih lama dalam tubuh, jumlah konsumsi tidak sebaiknya diabaikan. Keinginan untuk menjaga imunitas atau tulang tetap perlu disertai sikap hati-hati, khususnya jika vitamin D dikonsumsi sebagai suplemen tambahan.
Perhatian terhadap vitamin D yang berkembang sejak pandemi pada dasarnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kesehatan secara lebih menyeluruh. Selain melihat tren, masyarakat perlu mengenali perbedaan D2 dan D3, memahami sifat vitamin larut lemak, serta mempertimbangkan kebutuhan tubuh sebelum menjadikan suplemen sebagai kebiasaan sehari-hari.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Vitamin D Jadi Tren Sejak Covid 19?Vitamin D Jadi Tren Sejak Covid 19 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Vitamin D Jadi Tren Sejak Covid 19 matter?Vitamin D Jadi Tren Sejak Covid 19 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.