Gus Rozin Tak Menyangka Namanya Masuk 5 Besar Kandidat Ketum PBNU, Awalnya Ada di Urutan Ke-8
Dari Peringkat Delapan ke Lima Besar: Perjalanan Tak Terduga Gus Rozin di Muktamar ke-35 NU
Beritahitam.com – Sidang Pleno V Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang menghadirkan kejutan yang tidak banyak diprediksi para pengamat organisasi. KH Abdul Ghofar Rozin, yang selama proses perolehan suara berada di posisi kedelapan, tiba-tiba melompat menjadi salah satu dari lima nama bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031. Pergeseran peringkat ini terjadi bukan karena perubahan jumlah suara, melainkan karena sejumlah nama yang semula menempati posisi lebih tinggi dinyatakan tidak memenuhi syarat administratif sesuai ketentuan yang berlaku dalam tata tertib Muktamar.
Mekanisme Seleksi dan Pergeseran Peringkat
Proses pemilihan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 mengikuti tahapan yang ketat. Setiap muktamirin memberikan suara kepada kandidat yang mereka dukung, dan hasil perolehan suara menentukan urutan awal para bakal calon. Namun, sebelum tahap pencalonan resmi dimulai, setiap nama harus melewati verifikasi kelayakan. Dalam sidang pleno kelima kali ini, beberapa kandidat yang menempati peringkat lebih tinggi dari Gus Rozin gagal lolos verifikasi tersebut. Akibatnya, posisi-posisi di atasnya kosong, dan Gus Rozin yang semula di urutan kedelapan naik secara otomatis ke posisi kelima.
Kondisi ini bukan hal yang sepenuhnya baru dalam sejarah Muktamar NU. Aturan kelayakan pencalonan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tata kelola organisasi sejak beberapa periode terakhir, dan tidak jarang terjadi pergeseran peringkat akibat diskualifikasi administratif. Yang membedakan situasi kali ini adalah jarak lompatan yang cukup signifikan — dari posisi yang secara matematis berada di luar zona lima besar menuju ke dalam zona tersebut — sehingga menimbulkan reaksi yang lebih kuat di kalangan peserta Muktamar.
Reaksi Gus Rozin: Optimisme di Tengah Ketidakyakinan
Setelah sidang pleno kelima berakhir, Gus Rozin memberikan keterangan singkat kepada awak media. Ia mengaku tidak pernah membayangkan namanya akan muncul dalam daftar lima besar bakal calon. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda di Kajen, Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ia memandang pencalonan ini sebagai amanah yang datang di luar ekspektasi awal.
"Ya optimis dan siap," ujar Gus Rozin seusai sidang.
Ia kemudian menjelaskan secara terbuka bagaimana pergeseran peringkat itu terjadi. Dengan nada yang tenang, Gus Rozin mengakui bahwa dirinya semula berada di posisi kedelapan berdasarkan hasil perolehan suara, dan bahwa beberapa nama di atasnya tidak dapat melanjutkan proses karena terbentur ketentuan yang berlaku.
"Ya saya kira tidak menyangka karena tadi saya nomor urut 8. Memang beberapa nomor urut yang atas saya tidak bisa karena sesuatu aturan. Alhamdulillah saya bisa nomor urut 5 dan semoga bisa memberikan yang terbaik," katanya.
Ucapan Terima Kasih kepada Muktamirin
Gus Rozin tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada para muktamirin yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Baginya, peralihan dari delapan besar ke lima besar bukan sekadar soal angka, melainkan bentuk amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.
"Terima kasih kepada muktamirin sudah mempercayakan saya dari delapan besar kemudian menjadi lima besar," ujarnya.
Visi Melampaui Individu: NU yang Menang, Bukan Ketumnya
Di tengah euforia masuknya namanya ke lima besar, Gus Rozin justru memilih untuk menggeser fokus dari figur dirinya sendiri ke arah keberlangsungan organisasi. Ia menegaskan bahwa Muktamar ke-35 bukan panggung untuk menentukan siapa yang akan duduk di kursi Ketua Umum, melainkan forum untuk memastikan arah kebijakan Nahdlatul Ulama bagi generasi mendatang.
"Nahdlatul Ulama harus menang, bukan ketuanya, bukan orangnya, tetapi anak cucunya yang harus memerangi Muktamar ini," pungkasnya.
Pernyataan ini sejalan dengan tradisi NU yang menempatkan organisasi di atas individu. Sejak berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926, prinsip kolektivitas dan keberlanjutan selalu menjadi fondasi pengambilan keputusan di tingkat tertinggi organisasi. Muktamar, sebagai forum tertinggi, dirancang bukan untuk memunculkan figur, melainkan untuk merumuskan kebijakan yang akan mewarisi dampaknya lintas generasi.
Konteks Muktamar ke-35 dan Masa Khidmat 2026–2031
Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Jombang merupakan forum periodik tertinggi Nahdlatul Ulama yang digelar setiap lima tahun sekali. Agenda utamanya mencakup pemilihan kepemimpinan PBNU, penetapan kebijakan organisasi, serta evaluasi program kerja periode sebelumnya. Masa khidmat 2026–2031 yang akan dijalani oleh Ketua Umum terpilih akan mencakup periode yang sensitif secara sosial-politik, termasuk dinamika hubungan NU dengan negara, pengelolaan ribuan pesantren di bawah naungannya, serta peran NU dalam wacana keagamaan nasional.
Kehadiran Gus Rozin dalam lima besar bakal calon menambah dimensi baru dalam dinamika persaingan internal Muktamar. Latar belakangnya sebagai pengasuh pesantren di wilayah pesisir utara Jawa Tengah membawa perspektif yang berbeda dari kandidat-kandidat lain yang umumnya berasal dari pusat-pusat keilmuan NU di Jawa Timur. Bagi sebagian pengamat, keberagaman latar geografis dan keilmiahan di antara bakal calon justru memperkaya diskursus kebijakan yang akan dirumuskan dalam sisa tahapan Muktamar.
Tahapan selanjutnya dari proses pemilihan akan menentukan apakah nama Gus Rozin bertahan hingga tahap akhir atau tersingkir oleh dinamika perolehan suara lanjutan. Apa pun hasilnya, pergeseran peringkatnya dari kedelapan ke kelima telah menjadi catatan tersendiri dalam sejarah Muktamar ke-35 — sebuah pengingat bahwa dalam tata kelola organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, aturan dan mekanisme tetap menjadi penentu akhir, bukan sekadar jumlah suara awal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gus Rozin Tak Menyangka Namanya Masuk 5?Gus Rozin Tak Menyangka Namanya Masuk 5 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gus Rozin Tak Menyangka Namanya Masuk 5 matter?Gus Rozin Tak Menyangka Namanya Masuk 5 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.