Penanganan Karhutla dengan Sekat Bakar, Chanee Kalaweit: Tak Perlu Lagi Kementerian Kehutanan
Chanee Kalaweit Dorong Perlindungan Tutupan Hutan Jadi Prioritas Utama
Beritahitam.com – Meluasnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali memunculkan dorongan untuk memperkuat arah kebijakan perlindungan hutan di Indonesia. Aktivis lingkungan Chanee Kalaweit mengajukan gagasan perubahan besar: mengganti Kementerian Kehutanan menjadi Kementerian Perlindungan Hutan.
Gagasan tersebut disampaikan Chanee melalui video di akun Instagram pribadinya, @chaneekalaweit, pada Selasa (20/10/2026). Dalam video itu, ia membahas penyebab kebakaran, langkah penanganan yang telah dijalankan pemerintah, serta kebutuhan untuk membangun pencegahan yang lebih kuat menghadapi musim kemarau berikutnya.
Inti usulannya adalah menempatkan kelestarian tutupan hutan sebagai perhatian utama negara. Kawasan yang masih memiliki hutan baik, dalam pandangannya, perlu tetap dijaga tanpa bergantung pada pengelompokan statusnya dalam tata ruang.
“Saya punya mimpi besar, mimpi besar saya itu mungkin tidak masuk akal ya. Tetapi bagi saya harapan saya, mimpi besar saya adalah tidak ada lagi kementerian kehutanan, yang adanya kementerian perlindungan hutan,” kata Chanee dalam pernyataannya.
Pemisahan Perlindungan dan Perizinan
Chanee mengusulkan adanya kementerian khusus yang fokus menjalankan perlindungan hutan. Sementara itu, urusan pemberian izin kegiatan usaha yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam dapat ditempatkan di kementerian lain.
Pemisahan tersebut dimaksudkan agar kepentingan menjaga hutan tidak bercampur dengan proses perizinan pemanfaatan lahan. Aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan di area yang telah terbuka, tetapi tidak diarahkan untuk memperluas pembukaan kawasan berhutan.
Dalam konteks ini, citra satelit dipandang dapat menjadi salah satu alat penting untuk melihat kondisi tutupan hutan. Area dengan tutupan yang masih baik dapat diidentifikasi dan dijadikan fokus perlindungan, termasuk ketika status tata ruangnya berbeda-beda.
“Dari citra satelit di mana ada tutupan hutan yang baik, kita lestarikan apa pun statusnya di tata ruang. Dan itu tanggung jawab dari kementerian perlindungan hutan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa nilai hutan tidak hanya terletak pada penetapan administratif sebuah kawasan. Keberadaan tutupan vegetasi yang masih terjaga juga berkaitan dengan perlindungan lingkungan, pengendalian risiko kebakaran, dan keberlanjutan ruang hidup di sekitarnya.
Respons Karhutla Dinilai Lebih Intensif
Chanee melihat penanganan karhutla tahun ini dilakukan lebih intensif dibandingkan sejumlah musim kemarau sebelumnya. Selama hampir 30 tahun tinggal di Indonesia, ia mengamati adanya pengerahan personel yang besar ke lapangan, kesiapan puluhan helikopter, serta keterlibatan pejabat kementerian dalam koordinasi penanganan api.
Upaya pemadaman dari udara dan darat menjadi bagian dari respons ketika titik api telah berkembang. Helikopter dapat digunakan untuk operasi water bombing, sementara personel di lapangan dibutuhkan untuk menjangkau area terdampak dan membantu pengendalian kebakaran.
Namun, peningkatan sumber daya itu dinilai belum cukup ketika kebakaran sudah membesar. Chanee menekankan pentingnya kecepatan bertindak sebelum kondisi api dan asap berkembang menjadi lebih sulit dikendalikan.
“Tetapi apakah cukup? Tidak. Karena telat,” katanya.
Penilaian itu menyoroti perbedaan antara penanganan saat kebakaran telah meluas dan pencegahan sebelum api membesar. Ketika kebakaran sudah memasuki skala luas, kebutuhan sumber daya meningkat dan pilihan operasi di lapangan dapat semakin terbatas.
Tantangan Kebakaran di Lahan Gambut
Karhutla dalam skala besar bukan persoalan sederhana, terutama apabila api melibatkan kawasan gambut. Chanee mengakui pemadaman pada kondisi seperti ini dapat menjadi pekerjaan yang sangat sulit. Kebakaran yang telah meluas bisa terus menjadi masalah hingga musim hujan tiba, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain yang menghadapi situasi serupa.
Lahan gambut menghadirkan tantangan tersendiri karena api dapat sulit ditangani setelah menjalar luas. Karena itu, kesiapan sebelum musim kering menjadi bagian penting dari upaya mengurangi dampak kebakaran yang berulang.
Kendala lain yang disorot adalah asap tebal. Kondisi tersebut dapat mengganggu penerbangan untuk patroli udara maupun operasi pengeboman air. Saat jarak pandang terganggu, mobilisasi udara dan pemantauan titik kebakaran menjadi lebih rumit.
Bagi masyarakat di wilayah terdampak, asap juga membuat krisis karhutla terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, pembahasan perlindungan hutan tidak semata berkaitan dengan pengelolaan kawasan, melainkan juga dengan kebutuhan untuk mencegah kebakaran berkembang hingga menimbulkan gangguan yang luas.
Usulan Chanee menghadirkan penekanan pada perlindungan tutupan hutan sebagai langkah jangka panjang. Penanganan saat api sudah terjadi tetap diperlukan, tetapi pencegahan melalui penjagaan kawasan berhutan dipandang sebagai bagian penting untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Penanganan Karhutla dengan Sekat Bakar Chanee?Penanganan Karhutla dengan Sekat Bakar Chanee is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Penanganan Karhutla dengan Sekat Bakar Chanee matter?Penanganan Karhutla dengan Sekat Bakar Chanee matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.