Menata Hidup Setelah Pandemi, dari Kisah Rusmiliani hingga Tahu Kupat Manahan
Menata Hidup Setelah Pandemi melalui Adaptasi Usaha Kecil
Beritahitam.com – Menata Hidup Setelah Pandemi menjadi perjalanan yang tidak mudah bagi banyak pelaku UMKM. Pembatasan aktivitas saat Covid-19 membuat usaha yang bergantung pada kunjungan pelanggan dan interaksi langsung harus menghadapi penurunan pemasukan, penutupan tempat usaha, hingga perubahan besar dalam cara melayani konsumen.
Kisah Rusmiliani, Heriyanto dengan warung tahu kupat di kawasan Manahan, Solo, serta Ira yang mengembangkan kerajinan batik di Muara Enim menunjukkan bahwa pemulihan dapat ditempuh melalui langkah yang berbeda-beda. Setiap pelaku usaha perlu menyesuaikan layanan, mengelola biaya, dan membaca kebutuhan pelanggan yang berubah.
Rusmiliani Memulai Lagi lewat Layanan Homecare
Rusmiliani merintis usaha perawatan ibu dan anak di Makassar sejak 2009. Usaha yang kemudian dikenal sebagai Rayhana Mom & Baby Spa itu berawal dari keinginannya memanfaatkan perlengkapan salon milik orang tuanya. Untuk memperdalam keahlian, ia belajar perawatan bayi selama dua tahun di Martha Tilaar Jakarta.
Rayhana Baby Spa awalnya melayani perawatan bayi, lalu memperluas layanan untuk anak-anak, ibu, dan pelanggan dewasa. Pandemi menghentikan operasional usaha tersebut. Rusmiliani kemudian pindah ke Jakarta untuk melanjutkan hidup sekaligus mencari kesempatan baru.
Pemulihan juga diwarnai persoalan keuangan. Tabungan yang sebelumnya digunakan untuk membeli rumah tua tidak dapat menyelamatkan aset tersebut dari lelang bank. Dengan sumber daya yang lebih terbatas, Rusmiliani perlu menyusun kembali arah usahanya secara realistis.
Ia memilih kembali menawarkan layanan homecare, yakni perawatan yang dilakukan di rumah pelanggan. Model ini membantu mengurangi beban biaya sewa dan operasional gerai fisik, sambil tetap memungkinkan pelanggan memperoleh layanan yang dibutuhkan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menata hidup setelah pandemi bagi dirinya.
Mengelola Usaha Berdasarkan Data
Rusmiliani juga membenahi pengelolaan bisnis setelah mengikuti Inkubasi Tomang Batch 1 bersama Mitra Inkubator Yayasan Indonesia Setara, Mirai. Dari program tersebut, ia mempelajari pentingnya mengambil keputusan usaha berdasarkan data dan fakta, bukan semata-mata perasaan atau emosi.
Ia mulai memanfaatkan teknologi dan media sosial, memperhatikan perubahan perilaku pelanggan, serta memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha. Pencatatan yang lebih rapi membantu pemilik usaha mengetahui arus uang, jumlah transaksi, dan kondisi usaha secara terukur.
Dalam pengukuran selama empat pekan, Rayhana mencatatkan revenue Rp6,96 juta dari 69 transaksi. Penjualan pada pekan pertama dan kedua mencapai Rp2,8 juta, sedangkan pada pekan ketiga dan keempat masing-masing tercatat Rp2,08 juta.
Pendampingan bagi pelaku usaha tidak cukup hanya melalui pelatihan.
Pernyataan tersebut disampaikan Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno. Pendampingan berkelanjutan penting saat pelaku UMKM sedang mengubah pola kerja, memperbaiki layanan, dan menjaga keberlanjutan pendapatan.
Pelajaran dari Tahu Kupat Manahan dan Batik Muara Enim
Pengalaman usaha perawatan ibu dan anak, tahu kupat Manahan, serta kerajinan batik di Muara Enim memperlihatkan bahwa tidak ada satu formula pemulihan yang berlaku untuk semua usaha. Pelaku UMKM perlu mengenali kekuatan produk, keterampilan yang dimiliki, serta cara paling sesuai untuk menjangkau pelanggan.
Bagi usaha jasa, layanan ke rumah dapat menjadi pilihan untuk mengurangi biaya tetap dan mempertahankan hubungan dengan konsumen. Usaha kuliner perlu menjaga kualitas produk, kemudahan akses pelanggan, dan aktivitas di sekitar lokasi usaha. Sementara itu, pelaku kerajinan perlu mempertahankan nilai produk, keterampilan produksi, dan hubungan dengan calon pembeli.
Menata Hidup Setelah Pandemi tidak selalu berarti kembali ke cara lama. Adaptasi, pengelolaan keuangan yang disiplin, dan keberanian memulai dari skala yang tersedia dapat membantu usaha kecil menemukan pijakan baru.
FAQ Menata Hidup Setelah Pandemi untuk Pelaku UMKM
Bagaimana UMKM dapat menekan biaya setelah pandemi?
Pelaku usaha dapat mengevaluasi biaya tetap, termasuk sewa tempat dan operasional harian. Layanan homecare, penjualan melalui media sosial, atau penyesuaian jam operasional dapat dipertimbangkan sesuai jenis usaha dan kebutuhan pelanggan.
Mengapa keuangan pribadi dan usaha perlu dipisahkan?
Pemisahan keuangan membuat pemilik usaha lebih mudah melihat pendapatan, biaya, dan keuntungan bisnis. Catatan yang jelas juga membantu menentukan keputusan usaha berdasarkan kondisi nyata.
Apa langkah awal untuk membangun kembali usaha kecil?
Mulailah dari layanan atau produk yang paling dikuasai, catat setiap transaksi, dengarkan kebutuhan pelanggan, dan kembangkan usaha secara bertahap. Pendekatan tersebut dapat membantu pelaku UMKM mengelola risiko selama proses pemulihan.