Beritahitam
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tujuan Penyembelihan Kambing di Karnaval Pekalongan, MUI Sebut Tak ada Unsur Ritual

Published September 16, 2026 · Updated September 16, 2026 · By David Wilson - beritahitam.com

Foto : David Wilson - beritahitam.com

Klarifikasi MUI soal penyembelihan kambing di SKNC Pekalongan

Beritahitam.com – Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi sorotan di media sosial menyusul penampilan salah satu kelompok dengan kostum bertema iblis. Dalam acara yang berlangsung pada Kamis, 10 September 2026, juga terlihat penyembelihan seekor kambing di atas panggung.

Sejumlah pihak menilai perpaduan kostum dan adegan tersebut memiliki kemiripan dengan gambaran ritual satanisme serta tidak selaras dengan ajaran Islam. Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pekalongan menyatakan tidak menemukan adanya niat atau unsur penyembahan setan dalam penampilan itu.

Sekretaris MUI Kabupaten Pekalongan, M. Mansur Nasri, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan tabayyun dengan panitia SKNC dan kelompok peserta yang memakai kostum viral tersebut. Klarifikasi dilakukan untuk memahami tujuan penampilan, termasuk konteks penyembelihan kambing yang muncul dalam rekaman acara.

"Karnaval tersebut digelar dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW."

SKNC merupakan agenda tahunan warga Simbang Kulon. Karnaval malam itu menghadirkan aneka dekorasi cahaya, ogoh-ogoh, tarian, serta busana kreasi peserta. Selain menjadi ruang hiburan dan ekspresi warga, kegiatan ini berkaitan dengan promosi potensi lokal desa yang dikenal sebagai salah satu sentra batik dan konveksi di Kabupaten Pekalongan.

Kostum dibuat tanpa memahami simbol satanisme

Dari hasil tabayyun, MUI mendapatkan penjelasan bahwa peserta yang mengenakan kostum tersebut tidak memahami keterkaitan visual yang mereka tampilkan dengan simbol atau ritual satanisme. Konsep penampilan disebut terinspirasi oleh adegan yang pernah mereka lihat di media sosial, tanpa pemahaman lebih jauh mengenai makna simboliknya.

"Namun, berdasarkan hasil klarifikasi MUI, kelompok yang tampil tidak mengetahui bahwa konsep dan kostum yang digunakan memiliki kemiripan dengan simbol maupun ritual satanisme," ucapnya, Selasa (15/9/2026).

Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya literasi budaya dan visual dalam penyusunan konsep karnaval. Sebuah kostum dapat dipahami berbeda oleh penonton, terlebih jika unsur yang digunakan berkaitan dengan kepercayaan, agama, atau simbol yang memiliki makna sensitif. Kreativitas dalam acara warga tetap dapat berkembang, tetapi perlu disertai pertimbangan terhadap pesan yang muncul di ruang publik.

Penjelasan dari perwakilan kelompok peserta juga mengarah pada persoalan keterbatasan literasi. Hal tersebut menjadi alasan di balik pemilihan kostum yang kemudian ramai diperbincangkan. MUI menekankan bahwa kelompok tersebut telah menyatakan komitmen untuk tidak kembali memakai konsep atau simbol yang berpotensi menimbulkan persoalan serupa.

"Mereka berkomitmen, agar penggunaan konsep atau simbol yang dapat menimbulkan persoalan serupa tidak kembali terjadi," terangnya.

Penyembelihan dilakukan untuk konsumsi bersama

Selain kostum, video penyembelihan kambing di tengah rangkaian SKNC turut memicu pertanyaan publik. Panitia memberikan penjelasan bahwa penyembelihan itu dilakukan sesuai ketentuan syariat Islam. Prosesnya disertai pembacaan bismillah dan tidak dimaksudkan sebagai bagian dari praktik ritual tertentu.

"Berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan, penyembelihan tersebut dilakukan dengan membaca bismillah," lanjutnya.

Daging kambing tersebut kemudian dimanfaatkan untuk makan bersama para peserta karnaval. Dengan tujuan tersebut, MUI Pekalongan tidak melihat adanya kesengajaan untuk menjadikan penyembelihan sebagai bentuk pemujaan setan atau praktik yang menyimpang dari agama.

Klarifikasi ini menjadi penting karena potongan video di media sosial dapat menyebar tanpa konteks lengkap. Adegan panggung, pilihan kostum, dan prosesi penyembelihan yang ditampilkan secara terpisah dapat menimbulkan kesan berbeda dari maksud para peserta. Penjelasan langsung kepada panitia dan kelompok yang terlibat membantu membedakan antara unsur artistik yang keliru dipilih dengan tindakan yang memang memiliki tujuan ritual.

Bagi penyelenggara kegiatan budaya, peristiwa SKNC dapat menjadi bahan evaluasi dalam proses kurasi penampilan. Panitia dapat memperkuat komunikasi dengan peserta sejak tahap persiapan, terutama terkait tema busana, simbol, narasi panggung, serta kegiatan yang dapat memunculkan sensitivitas keagamaan. Langkah tersebut juga dapat membantu melindungi peserta dari kesalahpahaman yang meluas setelah acara berlangsung.

SKNC juga menyisakan duka

Di tengah perhatian terhadap penampilan yang viral, SKNC turut menyisakan kabar duka. Seorang peserta bernama Ahmad Faiz, 41 tahun, meninggal dunia. Kejadian itu menambah kesedihan dalam pelaksanaan karnaval tahunan warga Simbang Kulon tersebut.

SKNC pada dasarnya menjadi wadah warga untuk memperlihatkan keterampilan, seni, dan kreativitas lokal. Karena itu, evaluasi setelah peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan kostum yang menuai perdebatan, tetapi juga dengan keselamatan peserta serta kesiapan penyelenggaraan kegiatan berskala besar di lingkungan desa.

MUI Kabupaten Pekalongan telah menyampaikan bahwa tidak ditemukan unsur penyembahan setan dalam penampilan tersebut. Meski demikian, pelajaran dari polemik ini tetap relevan: kebebasan berkreasi dalam karnaval perlu berjalan bersama pemahaman terhadap nilai sosial, agama, dan makna simbol yang digunakan. Dengan pengawasan serta komunikasi yang lebih baik, kegiatan budaya warga dapat tetap meriah tanpa memunculkan tafsir yang tidak diharapkan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Tujuan Penyembelihan Kambing di Karnaval Pekalongan?

Tujuan Penyembelihan Kambing di Karnaval Pekalongan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tujuan Penyembelihan Kambing di Karnaval Pekalongan matter?

Tujuan Penyembelihan Kambing di Karnaval Pekalongan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.