Beritahitam
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ganindra Bimo Sebut Indonesia Pecahkan “Kutukan” Usai Juara ASEAN Cup 2026

Published Oktober 6, 2026 · Updated Oktober 6, 2026 · By Karen Martinez - beritahitam.com

Foto : Karen Martinez - beritahitam.com

Ganindra Bimo Terbawa Euforia Usai Indonesia Menangi ASEAN Cup 2026

Beritahitam.com – Atmosfer kemenangan Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026 masih membekas bagi Ganindra Bimo. Aktor berusia 39 tahun tersebut menyaksikan sendiri perjuangan tim nasional Indonesia menghadapi Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Senin malam, 5 Oktober 2026.

Ganindra datang bersama istrinya, Andrea Dian, dan menjadi saksi pertandingan dramatis yang berlangsung lebih dari 120 menit. Indonesia akhirnya merebut gelar setelah unggul 4-2 dalam adu penalti atas Thailand, sebuah hasil yang diraih setelah kedua tim bermain imbang 2-2 hingga akhir perpanjangan waktu.

Bagi Ganindra, alur pertandingan itu terasa layaknya kisah layar lebar. Indonesia sempat berada di posisi unggul, kemudian harus menghadapi tekanan hingga tertinggal, sebelum kembali menyamakan kedudukan dan membawa penentuan ke titik putih.

“Ini melihat pertandingan di dalam absolute cinema sih. Gua enggak nyangka bakal jadi sebaik ini, gua respect banget sama perjuangan semua pemain kita,” kata Ganindra Bimo seusai pertandingan.

Final yang Penuh Perubahan Situasi

Ketegangan mencapai puncaknya pada menit-menit akhir pertandingan. Dean James membawa Indonesia unggul pada menit ke-84. Keunggulan tersebut belum mampu dipertahankan lama karena Iklas Sanron mencetak gol penyama tiga menit kemudian.

Ketika laga memasuki masa perpanjangan waktu, Thailand kembali mengambil alih keadaan. Peeradol Chamratsamee mencetak gol pada menit ke-111 dan membuat Indonesia tertinggal. Namun, Elkan Baggott memberikan respons penting lima menit kemudian untuk mengubah skor menjadi 2-2.

Gol Elkan membuat laga harus ditentukan melalui adu penalti. Dalam situasi yang menuntut ketenangan tinggi, Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, serta Shayne Pattynama berhasil menunaikan tugas mereka sebagai penendang Indonesia.

Di sisi Thailand, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya gagal mengonversi kesempatan. Emil Audero Mulyadi kemudian menggagalkan eksekusi penentu Thailand, sekaligus mengunci kemenangan Indonesia dengan skor 4-2 pada babak adu penalti.

Ganindra mengaku ikut merasakan tekanan luar biasa saat pertandingan memasuki fase terakhir. Momen setelah 120 menit menjadi bagian yang paling membuat emosinya terkuras selama menyaksikan laga secara langsung.

“Tapi memang tadi gua pas melihat beberapa menit terakhir, 120 menit plus, jantung gua udah jatuh banget, enggak tahu gimana rasanya,” jelasnya.

Apresiasi untuk Indonesia dan Thailand

Ganindra menilai permainan Indonesia sangat baik di hadapan puluhan ribu pendukung yang memadati stadion. Ia melihat para pemain mampu terus berjuang meski pertandingan berkali-kali berubah arah dan tekanan semakin besar menjelang akhir laga.

Perhatian khusus juga ia berikan kepada Emil Audero. Penjaga gawang Indonesia itu menjadi salah satu figur sentral pada babak adu penalti, terutama melalui penyelamatan terakhir yang memastikan gelar juara berada di tangan Indonesia.

“Gimana permainan timnas? Bagus, bagus banget! Sampai Emil Audero setiap menepis tendangan penalti selalu memberikan reaksi sesudahnya,” ucap Bimo.

Walau larut dalam kegembiraan atas hasil Indonesia, Ganindra tidak mengabaikan kualitas permainan lawan. Thailand disebutnya memberikan tantangan serius sepanjang final, sehingga kemenangan Indonesia terasa semakin berarti.

“Tapi harus diakui, timnas Thailand bagus banget,” lanjutnya.

Gelar yang Dipandang Memutus Penantian Panjang

Kemenangan di ASEAN Cup 2026 memiliki arti emosional bagi Ganindra sebagai pendukung sepak bola Indonesia. Ia memandang keberhasilan tersebut sebagai titik penting setelah penantian panjang tim nasional senior untuk meraih pencapaian besar di ajang kawasan.

Dalam ungkapannya, ia menyebut kemenangan ini sebagai pecahnya sebuah “kutukan”. Istilah itu menggambarkan besarnya beban harapan dan rentetan penantian yang selama ini melekat pada perjalanan timnas senior Indonesia di turnamen regional.

Final di SUGBK juga memperlihatkan bahwa sebuah gelar tidak hanya dibentuk oleh gol atau penyelamatan, melainkan oleh kemampuan tim bertahan saat momentum berubah. Indonesia mampu bangkit setelah kebobolan, lalu menjaga keyakinan hingga kesempatan terakhir dalam adu penalti.

Bagi para suporter yang hadir di stadion maupun mengikuti pertandingan dari tempat lain, laga tersebut menjadi pengalaman yang bergerak cepat dari harapan menuju kecemasan, lalu kembali menjadi selebrasi. Indonesia tidak memenangkan final ini dengan jalan mudah, tetapi justru melalui rangkaian momen yang membuat pencapaian tersebut semakin dikenang.

Ganindra Bimo pun menyampaikan rasa hormatnya kepada seluruh pemain yang telah berjuang hingga akhir. Kemenangan 4-2 atas Thailand melalui adu penalti menutup malam penuh drama di Jakarta dan menempatkan Indonesia sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ganindra Bimo Sebut Indonesia Pecahkan Kutukan?

Ganindra Bimo Sebut Indonesia Pecahkan Kutukan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ganindra Bimo Sebut Indonesia Pecahkan Kutukan matter?

Ganindra Bimo Sebut Indonesia Pecahkan Kutukan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.