Special Plan: Arie Untung Ungkap Mendiang Ayahnya Sempat Alami Patah Tulang Akibat Jatuh Setelah Selesai Itikaf
Arie Untung Ceritakan Peristiwa Mengerikan Sebelum Ayah Meninggal
Special Plan - Sebagai bagian dari rangkaian Special Plan yang menjadi sorotan, Arie Untung mengungkapkan kejadian tragis yang terjadi sebelum ayahnya, Untung Rumekso, wafat pada Sabtu (18/7/2026) pukul 11.14 WIB. Peristiwa ini terjadi setelah ayahnya selesai melakukan itikaf di masjid, yang sebelumnya menjadi rutinitas khas dalam Special Plan keluarga. Arie menjelaskan bahwa kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk akibat demensia membuatnya lupa akan bahaya di sekitar. Saat berjalan kaki, ia terjatuh ke area yang mirip jurang sampah, menyebabkan patah tulang. "Beliau pulang itikaf, jalan lalu jatuh ke jurang sampah atau tempat pembuangan sampah yang seperti jurang. Beliau lupa kalau di situ bahaya, akhirnya kakinya patah," ujar Arie dalam wawancara terbaru.
Duka dan Hikmah dari Penyakit Demensia
Kejadian yang mengakibatkan patah kaki tersebut membuat Untung Rumekso harus beristirahat cukup lama. Ia bahkan sering tidur di kasur rumah hingga menyebabkan komplikasi medis tambahan. Meski demensia dianggap sebagai tantangan, istri Arie, Fenita, menilai ada kehikmatan dalam kondisi tersebut. "Demensianya itu menurut saya malah seperti menyelamatkan Pukung juga. Jadi beliau itu kalau sakit seperti apa, dia lupa," kata Fenita. "Beliau mau apa, lalu lupa kalau sedang sakit. Makanya kami bilang Allah itu sayang sekali dengan Pukung."
Dalam Special Plan kehidupan sehari-hari, demensia sering kali mengganggu kemampuan ayah Arie untuk mengingat hal-hal penting. Fenita mengungkapkan bahwa mertuanya kerap lupa wajah anggota keluarga, termasuk dirinya sendiri. Namun, sifatnya yang hangat dan murah hati tetap terjaga meski ingatannya terbatas. Fenita menambahkan bahwa kejadian ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menghargai momen-momen kecil dalam kehidupan seorang orang tua.
Sosok Ayah yang Selalu Tulus dan Penuh Cinta
Arie Untung menegaskan bahwa sang ayah adalah orang yang baik dan tidak pernah menunjukkan kemarahan dalam hidupnya. Bahkan selama menjalani perawatan di rumah sakit, ia tetap memanggil perawat dengan penuh kasih. "Bahkan selama dirawat di rumah sakit, Pukung selalu manggil susternya sayang," tutur Fenita. Sosok yang dikenal tulus dan penuh cinta ini sering kali menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam berperilaku sehari-hari.
Sebagai bagian dari Special Plan kehidupan keluarga, itikaf yang dilakukan ayah Arie sebelum kejadian patah tulang menjadi ritual yang penuh makna. Aktivitas ini tidak hanya sebagai kegiatan ibadah, tapi juga sebagai cara untuk merenungkan kehidupan dan berdoa untuk kesehatan. Fenita menjelaskan bahwa meskipun kondisi ayahnya memburuk, Special Plan ini tetap dijaga dengan sabar. "Beliau selalu menyisihkan waktu untuk melaksanakan itikaf, meski kadang lupa dengan urusan sehari-hari," katanya.
Keluarga Arie juga bersyukur karena anaknya berhasil lolos seleksi menjadi mahasiswa UI. Meski kondisi ayahnya memengaruhi ingatannya, jiwa sosial yang tinggi dan sikap ramah tetap menjadi ciri khas dari sosok yang meninggalkan kenangan mendalam. Fenita menekankan bahwa meski demensia menyebabkan penurunan fungsi kognitif, sifat baik sang ayah tidak pernah berkurang. "Beliau tetap memberi dukungan dan kehangatan, bahkan saat lupa akan nama-nama keluarga," ujar Fenita.
Dalam Special Plan kehidupan keluarga, kejadian patah tulang ayah Arie menjadi titik balik yang mengubah cara mereka memandang kehidupan. Fenita mengungkapkan bahwa keluarga merasa Special Plan ini memberikan pelajaran tentang kelemahan manusia dan kebesaran Tuhan. "Kami belajar bahwa kehidupan tidak selalu terjaga, dan yang terpenting adalah menerima apa yang telah ditentukan," kata Fenita. Arie juga menambahkan bahwa kejadian ini memperkuat ikatan keluarga mereka, meski sering kali mengingatkan tentang pentingnya perawatan lebih awal untuk kondisi seperti demensia.