Regional

Jalan Panjang Koperasi Jamu Indonesia Jaga Jamu Nguter: Rawat Kemurnian Tradisi – Tak Antimodernisasi

disi Nguter dalam Modernisasi Jalan Panjang Koperasi Jamu Indonesia Jaga - Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI) terus berjuang menjaga keaslian jamu Nguter sambil

Desk Regional
Published Juni 28, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Jalan Panjang Koperasi Jamu Indonesia: Menjaga Tradisi Nguter dalam Modernisasi

Jalan Panjang Koperasi Jamu Indonesia Jaga – Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI) terus berjuang menjaga keaslian jamu Nguter sambil mengakomodasi perkembangan industri modern. Pasar jamu Nguter, Sukoharjo, yang terkenal sejak abad ke-18, menjadi pusat kehidupan tradisional ini. Suwarsi Moertedjo, ketua koperasi, menjelaskan bahwa jalan panjang KOJAI mencakup pengembangan produk jamu yang tetap mempertahankan nilai-nilai lokal. “Kami ingin menjaga tradisi jamu Nguter, tapi juga menggabungkannya dengan inovasi,” katanya.

Sejarah dan Perkembangan Tradisi Jamu Nguter

Jamu Nguter diawali dari kebiasaan Mbah Djoyo, seorang ahli bahan alami yang dulu bekerja di Keraton Solo. Masa kecilnya, Mbah Djoyo mengolah rimpang dan rempah menjadi minuman kesehatan. Dengan pengetahuan itu, tradisi jamu Nguter berkembang dari kegiatan pribadi menjadi usaha kolektif. Dukungan dari KOJAI sejak tahun 1994 membantu memperkuat keberlanjutan produk tersebut. “Sejak awal, koperasi ini hadir untuk menjaga kualitas dan keaslian ramuan,” ujar Moertedjo.

Pasar Nguter, yang berlokasi di ujung selatan Sukoharjo, menjadi simbol keberhasilan koperasi. Di sini, berbagai bahan baku jamu tersedia, lengkap dengan alat tradisional seperti alu dan lumpang. Sri Ningsih, pedagang yang telah bertahun-tahun berada di pasar, menyatakan bahwa keberagaman bahan alami membuat Nguter menjadi sentra jamu yang unik. “Jamu tradisional seperti untuk pegel dan masuk angin masih diminati, meski ada produk pabrikan,” tambahnya.

Pengembangan Industri dan Tantangan Modernisasi

Perkembangan industri jamu Nguter tidak hanya tergantung pada bahan alami, tetapi juga pada pengelolaan yang profesional. KOJAI memastikan proses produksi tetap diawasi secara ketat untuk mempertahankan standar kualitas. Meski banyak produk modern muncul, koperasi ini tidak mengabaikan tradisi. “Kami tetap mengedepankan bahan baku lokal, tapi juga mengadopsi teknologi untuk efisiensi,” jelas Moertedjo.

Tradisi jamu Nguter kini menjangkau pasar nasional dan internasional. Dengan menggabungkan keahlian tradisional dan metode modern, koperasi ini mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini. Namun, tantangan utama adalah menjaga rasa asli jamu tanpa kehilangan daya tarik pasar global. “Kami ingin menjaga kesan tradisional tetapi juga memberi nilai tambah untuk pemasaran,” kata Moertedjo.

“Sejak usia 15, saya belajar membuat jamu dari Mbah Djoyo. Dari satu resep, sekarang ada banyak variasi, tapi intinya tetap bahan alami,” cerita Moertedjo.

“Koperasi ini tidak hanya menjaga jamu Nguter, tapi juga memberi pelatihan kepada anggota agar mereka bisa mengelola bisnis secara mandiri,” tambahnya.

“Sekarang, pasar Nguter tidak hanya menjual bahan jamu, tapi juga peralatan dan ide kreatif untuk pengembangan produk,” ujar Sri Ningsih.

“Inovasi tidak harus menghilangkan tradisi, tapi bisa menjadi cara baru menghidupkannya,” pungkas Moertedjo.

Dengan pendekatan yang konsisten, KOJAI telah menumbuhkan ekosistem jamu yang sehat. Koperasi ini juga menjadi contoh sukses bagaimana tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. Jalan panjang Koperasi Jamu Indonesia terus berlanjut, menggabungkan warisan leluhur dengan tuntutan pasar yang semakin dinamis. “Kami percaya bahwa jamu Nguter bisa menjadi bagian dari ekonomi Indonesia yang modern,” kata Moertedjo dalam wawancara terbaru.

Leave a Comment