Nelayan Ampel Keluhkan Dugaan Dampak Bongkar Batu Bara di Perairan
Pengeluhan Masyarakat Nelayan Terkait Pencemaran Lingkungan
Nelayan Pulau Ampel Keluhkan Dugaan Dampak – Nelayan di Pulau Ampel, Kecamatan Pulau Ampel, Kabupaten Serang, Banten, terus mengeluhkan dugaan dampak kegiatan bongkar muat batu bara yang berlangsung di perairan setempat. Aktivitas ini dinilai mengganggu ekosistem laut dan mengurangi jumlah ikan yang bisa ditangkap, sehingga banyak nelayan terpaksa melaut lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peralatan dan teknik pengangkutan batu bara yang digunakan di laut dituduh menyebabkan polusi dan kerusakan terumbu karang, yang berpotensi mengancam keberlanjutan usaha nelayan lokal.
Dampak Lingkungan pada Ekosistem Perairan
Aktivitas bongkar muat batu bara di Pulau Ampel telah berlangsung cukup lama, dengan kapal vesell yang secara rutin mengangkut batu bara ke kapal tongkang. Menurut Nurjen, salah satu nelayan yang terdampak, batu bara yang jatuh ke laut mencemari air dan merusak habitat ikan. “Selama ini, kegiatan itu mengganggu hasil tangkapan kami. Ikan yang biasanya banyak di sekitar sini kini semakin langka karena aktivitas bongkar muat batu bara,” katanya kepada wartawan, dikutip pada hari Minggu (7/6/2026). Kebisingan dari mesin kapal dan partikel batu bara juga disebutkan menjadi faktor utama mengurangi aktivitas ikan.
“Kita nelayan rakyat kecil, harusnya diberi perlindungan berupa plastik atau terpal agar batu bara tidak berjatuhan ke laut saat diangkut dari kapal besar ke kapal kecil,” tambah Nurjen. Ia menyoroti kurangnya perhatian dari para pekerja di lapangan terhadap keselamatan lingkungan.
Aktivitas tersebut juga menyebabkan perubahan kondisi perairan, termasuk penurunan kualitas air dan aliran nutrisi yang penting bagi pertumbuhan ikan. Nelayan setempat menyebutkan bahwa lokasi bongkar muat batu bara yang dipilih justru tidak optimal, karena jaraknya dari PLTU Jawa Tujuh yang lebih dekat. “Mengapa tidak dilakukan di Perairan Salira atau area yang lebih dekat? Ini bisa mengurangi risiko pencemaran,” tegas Nurjen.
Permintaan Perbaikan dari Nelayan Lokal
Nelayan lain, seperti Ahmad Sahruji, juga mengungkapkan keluhan serupa. Menurutnya, kebisingan dari operasi bongkar muat menyulitkan mereka mencari ikan, terutama di daerah dekat. “Kalau ikan sudah tidak banyak di sini, kita harus pergi jauh ke tengah lautan. Ini menguras energi dan waktu, tapi hasilnya tidak menjamin,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini bisa diatur lebih baik dengan sistem penutupan yang efektif untuk mencegah batu bara tercecer ke laut.
“Kita berharap pihak terkait memperhatikan dampak lingkungan dan memberi perlindungan untuk nelayan. Jika tidak, keberlanjutan usaha mereka akan terganggu,” jelas Sahruji. Ia menyoroti pentingnya koordinasi antara perusahaan tambang dan komunitas nelayan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan.
Pengeluhan nelayan juga terkait dengan limbah industri yang mengalir ke perairan. Berbagai aktivitas bongkar muat yang dilakukan di sekitar Pulau Ampel dinilai memperparah kondisi ekosistem laut, karena batu bara dan partikel debu bisa menumpuk di dasar laut dan mengurangi oksigen terlarut. Para nelayan menyebutkan bahwa kondisi ini membuat ikan kesulitan bertahan hidup, terutama spesies yang sensitif terhadap polusi.
Solusi yang Diharapkan oleh Masyarakat Nelayan
Nelayan setempat meminta pihak terkait untuk memperbaiki metode bongkar muat batu bara, seperti menggunakan alat pengangkutan yang lebih aman dan membangun sistem penangkapan limbah. Mereka juga berharap ada penguasaan lebih ketat dari pemerintah setempat terhadap aktivitas bongkar muat di perairan yang berdampak pada ekosistem laut. “Kita tidak menuntut perusahaan menghentikan kegiatan, tapi paling tidak mereka bisa menjaga kebersihan laut agar ikan tetap bisa bertahan,” harap Sahruji.
Menurut laporan, selama ini kegiatan bongkar muat batu bara di Pulau Ampel berlangsung tanpa pengawasan yang cukup ketat. Nelayan menyebutkan bahwa penggunaan peralatan yang tidak tepat dan kurangnya pengelolaan limbah menjadi penyebab utama masalah ini. Mereka berharap ada regulasi yang lebih ketat dan pendidikan bagi pekerja di lapangan tentang dampak lingkungan dari aktivitas tersebut.
Dengan adanya peningkatan kepedulian terhadap ekosistem laut, para nelayan menilai bahwa langkah-langkah pencegahan polusi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan usaha mereka. Mereka juga menginginkan adanya pengawasan terhadap kegiatan bongkar muat yang dilakukan di wilayah pesisir, agar dampak negatifnya dapat diminimalkan. “Kita ingin laut tetap bersih agar ikan bisa berkembang biak,” tutup Nurjen, yang telah merasakan langsung dampak dari kegiatan ini selama beberapa bulan terakhir.
