Nasional

Pramono Anung: Orang yang Tinggalkan Partainya Sendiri Tak Pernah Jadi Besar

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kembali menegaskan prinsip penting dalam dunia politik Indonesia. Dalam pernyataannya yang terbaru, ia menyampaikan

Desk Nasional
Published Juli 23, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments
Foto : Emily Garcia - beritahitam.com

Pramono Anung: Loyalitas Partai Kunci Kesuksesan Politik

Beritahitam.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kembali menegaskan prinsip penting dalam dunia politik Indonesia. Dalam pernyataannya yang terbaru, ia menyampaikan pandangan tegas bahwa seseorang yang meninggalkan partai tempatnya bernaung cenderung tidak akan meraih kesuksesan besar. Pesan ini disampaikan secara personal kepada Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, yang lebih dikenal dengan panggilan Cak Imin.

Konferensi pers ini berlangsung saat Pramono menghadiri acara pelantikan Pimpinan Dewan Pengurus Cabang PKB untuk periode 2026-2031. Lokasi acara yang dipilih adalah Taman Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta. Tanggal pelantikan tersebut jatuh pada hari Rabu, 22 Juli 2026. Dalam momen tersebut, Pramono sempat berdiskusi singkat dengan Cak Imin mengenai pentingnya loyalitas dalam politik.

“Tadi saya bisik-bisik sama beliau, ‘Cak, hafal enggak? Semua orang yang meninggalkan partainya, enggak pernah ada yang menjadi besar’. Di PDI Perjuangan ada, di PKB juga ada. Dan inilah yang kemudian makin membuat kokoh,” kata Pramono.

Sejarah Pencalonan Megawati oleh PKB

Pramono juga mengambil kesempatan untuk mengingatkan kembali sejarah penting yang mungkin terlupakan oleh generasi muda PKB saat ini. Pada Pemilu 1999, PKB memiliki peran krusial dalam mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Hal ini terjadi karena PDI saat itu tidak mengajukan nama Megawati sebagai calon wakil presiden.

Menurut penjelasan Pramono, PKB-lah yang mengambil inisiatif penuh untuk mencalonkan putri Presiden pertama Indonesia tersebut. “Singkat cerita, alhamdulillah, Ibu Mega menjadi Wakil Presiden itu yang mencalonkan adalah PKB. 100 persen PKB. Pada waktu itu PDI tidak mengajukan, PKB yang mengajukan,” jelas Pramono dengan penuh kebanggaan. Kedekatan personal antara Pramono dengan para tokoh PKB menjadi faktor penting yang memungkinkan langkah berani ini diambil.

Apresiasi untuk Kepemimpinan Cak Imin

Politikus PDIP ini juga tidak lupa memberikan apresiasi kepada Cak Imin atas kepemimpinannya selama ini. Pramono mengingat kembali awal perkenalannya dengan Cak Imin pada tahun 1999, ketika keduanya masih sering dipanggil dengan gelar “Cak”. Saat gerakan mahasiswa 1998, mereka berdua sering bersama-sama dalam berbagai forum diskusi yang ada.

“Saya dengan Cak Imin dulu masih dipanggil Cak Imin, sekarang sudah Ketum. Ketika gerakan mahasiswa 1998, kami berdua sering bersama-sama dalam berbagai forum diskusi yang ada,” ujar Pramono.

Pramono menilai bahwa prestasi PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. “Prestasi PKB dan juga kepemimpinan Bapak Muhaimin Iskandar sudah sangat teruji,” ungkap Pramono dengan penuh keyakinan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan baik antara PDIP dan PKB tetap terjaga hingga saat ini.

Pernyataan Pramono ini menjadi pengingat penting bagi seluruh kader partai di Indonesia. Loyalitas kepada partai asal bukan hanya soal prinsip, tetapi juga menjadi fondasi kesuksesan dalam berpolitik. Banyak contoh nyata yang membuktikan bahwa mereka yang setia kepada partai cenderung meraih pencapaian yang lebih besar dalam karir politik mereka.

Leave a Comment