FITT Melakukan Penjualan Hotel untuk Mendukung Akuisisi Bisnis Tambang
Key Discussion – Jakarta, TRIBUNNEWS.CPOM — PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kinerja keuangan dan menyesuaikan fokus bisnis melalui perubahan model operasional. Dalam Key Discussion yang diungkapkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (26/6/2026), manajemen perusahaan menyatakan bahwa penjualan dua hotel merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk fokus pada sektor pertambangan.
Transformasi Bisnis dan Strategi Diversifikasi
Perusahaan perhotelan yang sebelumnya mengalami penurunan pendapatan menurut laporan keuangan 2025 ini, memutuskan untuk memprioritaskan pertumbuhan melalui akuisisi PT Venturi Tambang Perkasa (VTP), perusahaan jasa tambang dan penggalian beroperasi di Luwuk, Sulawesi. Dengan memperoleh 50% saham VTP, FITT bertujuan mengubah struktur bisnisnya dari layanan perhotelan menjadi perusahaan induk investasi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Key Discussion menyebutkan bahwa transaksi ini diperkirakan akan membuka peluang keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang.
Dalam Key Discussion, Ou Yang, Direktur FITT, menjelaskan bahwa akuisisi VTP merupakan langkah transformasi yang disusun secara bertahap. “Kami berharap melalui Key Discussion ini, bisnis akan bergerak dari sisi yang merugi ke sisi yang lebih menguntungkan,” kata Ou Yang dalam paparan publik, menambahkan bahwa kontrak jangka menengah hingga panjang yang dimiliki VTP akan memberikan visibilitas pendapatan yang lebih konsisten dibandingkan bisnis perhotelan yang rentan terhadap fluktuasi tingkat hunian.
Kinerja VTP dan Alasan Akuisisi
PT Venturi Tambang Perkasa mencatat pendapatan sebesar Rp128,7 miliar dan laba operasional sekitar Rp36 miliar pada tahun lalu. Total aset perusahaan mencapai Rp169 miliar, sementara volume produksi nikel mencapai 742.321 ton. Angka-angka ini menjadi dasar bagi FITT untuk memutuskan diversifikasi ke sektor pertambangan. Dalam Key Discussion yang disampaikan, manajemen FITT menegaskan bahwa bisnis tambang lebih menjanjikan dalam konteks pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan sumber daya alam.
Sebagai perusahaan jasa penunjang tambang, VTP beroperasi dengan model bisnis business-to-business (B2B) berbasis volume produksi wet metric ton (WMT). Hal ini memberikan kepastian pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan layanan perhotelan, yang tergantung pada permintaan turis dan keadaan ekonomi. Dalam Key Discussion, Ou Yang menekankan bahwa akuisisi ini akan memperkuat posisi FITT di pasar keuangan dan memperluas peluang ekspansi ke industri pertambangan.
Divestasi Hotel dan Pembiayaan Akuisisi
Untuk mendanai akuisisi VTP, FITT memutuskan menjual dua anak usahanya yang bergerak di bidang perhotelan. Perusahaan melepas 99,99% saham PT BMP kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BBS) senilai Rp21,9 miliar, serta 99,96% saham PT FAW kepada PT Pratama Global Servindo (PGS) senilai Rp46,9 miliar. Dari transaksi tersebut, FITT diperkirakan menerima dana sekitar Rp67,9 miliar, yang akan digunakan untuk memperoleh saham VTP dari PT Sheng Yue Hengli.
“Dengan Key Discussion ini, kami akan mengoptimalkan portofolio usaha dan meningkatkan daya saing di pasar global,” ujar Ou Yang. Pembiayaan dari divestasi hotel ini dinilai cukup untuk mendukung langkah strategis ini, terutama dalam menyeimbangkan utang dan memperkuat modal perusahaan.
Strategi Jangka Panjang dan Tujuan Transformasi
Dalam Key Discussion, manajemen FITT menyatakan bahwa transformasi tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui beberapa tahap. Pada
