Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Ahli: Ekonomi Makro RI Masih Rentan
Rupiah Tembus Rp18 000 per Dolar – Rupiah kembali melemah ke level Rp18.000 per dolar AS pada hari Senin (6/7/2026), mengulangi tren penurunan yang terjadi beberapa waktu lalu. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mencapai titik Rp18.007 per dolar AS pada pukul 14.02 WIB, lalu bergerak naik ke Rp17.995 per dolar AS saat penutupan perdagangan. Meski kenaikan terjadi di akhir hari, kecenderungan rupiah melemah tetap menjadi sorotan pasar. Pelemahan ini memperkuat pernyataan para ahli bahwa ekonomi makro RI masih rentan terhadap tekanan eksternal.
Faktor yang Memengaruhi Pelemahan Rupiah
Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan global memperhatikan berbagai indikator yang menunjukkan ketidakstabilan ekonomi makro Indonesia. Perubahan evaluasi utang negara oleh Fitch Ratings menjadi salah satu faktor utama. Peringatan dari lembaga pemeringkat tersebut menyoroti risiko peningkatan beban utang pemerintah dan kebutuhan pembiayaan tambahan, yang dikhawatirkan memicu inflasi atau tekanan pada kurs rupiah. Selain itu, defisit neraca perdagangan yang kembali muncul menjadi sumber ketidakpastian lain. Menurut Badan Pusat Statistik, defisit tersebut mencapai 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, memutus tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.
“Kondisi ekonomi makro RI memperlihatkan kelemahan yang signifikan. Pelemahan rupiah menjadi indikator bahwa pasar sedang memantau ketidakstabilan di sektor keuangan dan perdagangan,” ungkap Ibrahim Assuaibi, ahli ekonomi. Ia menambahkan, pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar valuta asing, terutama dalam menghadapi persaingan dengan mata uang asing lain.
Langkah Bank Indonesia untuk Stabilkan Rupiah
Untuk mengatasi tekanan pada rupiah, Bank Indonesia (BI) telah melakukan beberapa intervensi. BI memperkuat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah ini bertujuan mengurangi volatilitas dan memastikan kestabilan kurs. Selain itu, BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai upaya menarik dana ke dalam negeri.
Intervensi BI dilakukan secara bersamaan dengan peningkatan komunikasi dengan pelaku pasar. Tindakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan sistem keuangan, terutama dalam menghadapi defisit neraca perdagangan dan risiko utang yang terus meningkat. Namun, sejumlah ahli menyatakan bahwa BI perlu bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk menciptakan dampak yang lebih luas. “Kurs rupiah melemah karena faktor eksternal dan internal, jadi BI harus memastikan kebijakan moneter berjalan efektif dalam mendukung stabilitas ekonomi makro,” tambah salah satu ekonom yang diwawancarai.
Kondisi Ekonomi Makro RI dan Potensi Rantai Dampak
Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi cerminan dari dinamika ekonomi makro Indonesia yang sedang tidak stabil. Beberapa indikator, seperti inflasi yang terus naik dan pertumbuhan ekspor yang melambat, turut memengaruhi persepsi pasar. Kenaikan inflasi yang mencapai 4,87% pada Mei 2026, menurut data BPS, menunjukkan tekanan pada sektor produksi dan konsumsi. Di sisi lain, ekspor Indonesia juga mengalami perlambatan akibat persaingan global yang ketat, terutama dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap rantai dampak ekonomi. Pelemahan kurs dapat meningkatkan biaya impor, yang berpotensi memperburuk inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peningkatan utang negara memerlukan pinjaman dari lembaga keuangan internasional, yang menimbulkan risiko peringkat utang Indonesia turun. Dalam konteks ini, rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi tanda bahwa pasar masih memantau keberlanjutan perekonomian nasional.
Proyeksi Kondisi Rupiah di Minggu Berikutnya
Analisis dari ahli ekonomi mengungkapkan bahwa rupiah akan terus bergerak fluktuatif pada minggu mendatang. Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs rupiah berpotensi berada dalam rentang Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada ketidakpastian yang masih menghiasi pasar, terutama terkait dengan defisit neraca perdagangan dan tekanan dari persaingan global.
“Kurs rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS, tapi BI tetap berupaya menstabilkan. Jika defisit neraca perdagangan tidak segera ditekan, rupiah bisa terus mengalami tekanan hingga akhir tahun,” prediksi Ibrahim Assuaibi. Ia menambahkan, kebijakan moneter yang diterapkan
