Kebakaran TPA Jatiwaringin Picu Risiko Kesehatan, Penanganan Berbasis Sains Dianjurkan Ahli
Facing Challenges – Kebakaran di Tempat Pengolahan Sampah (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, memicu perhatian serius karena menghasilkan asap berbahaya yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar. Profesor Tjandra Yoga Aditama, ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), mengatakan bahwa penanganan kebakaran di area ini harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah agar efektif dan berkelanjutan. Dalam keterangan di Jakarta, Kamis (9/7/2026), ia menekankan bahwa tindakan pemadaman yang hanya mengandalkan helikopter penyemprot air atau teknik suntik udara belum cukup untuk mengatasi kontaminasi udara yang terus berlangsung.
Facing Challenges dalam Menghadapi Dampak Asap
Dokter paru tersebut menjelaskan bahwa asap dari kebakaran TPA mengandung berbagai zat kimia berbahaya, seperti amonia (NH3), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), serta partikel halus (PM10 dan PM2,5). Selain itu, senyawa aromatik polisiklik (VOC) juga terlibat, yang dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran pernapasan. Menurut Prof. Tjandra, asap yang mengandung polutan ini berisiko menyebabkan gangguan pernapasan jangka panjang, termasuk gejala seperti batuk, sesak napas, atau bahkan penyakit paru kronis.
“Facing Challenges dalam penanganan kebakaran TPA bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga soal mengurangi dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia. Pemadaman api secara langsung tidak cukup, kita perlu mengambil langkah mitigasi yang didasarkan pada riset ilmiah dan data empiris,” jelas Prof. Tjandra dalam pernyataannya.
Studi dari jurnal Sustainability tahun 2023 menyoroti bahwa kebakaran sampah dalam skala besar menghasilkan polutan yang mengikis kualitas udara, terutama di wilayah perkotaan. Prof. Tjandra menyebutkan bahwa kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma, lebih rentan terpapar efek negatif dari asap. Pada saat yang sama, pemerintah dan warga sekitar perlu bekerja sama untuk mengurangi emisi dari sumber lain, seperti pembakaran plastik di tempat-tempat terbuka, yang menurut laporan dari Wisconsin Department of Natural Resources, melepaskan zat beracun seperti dioksin dan benzo(a)pyrene.
Penanganan Berbasis Sains untuk Masa Depan
Facing Challenges dalam mengatasi kebakaran TPA juga memerlukan inovasi teknologi dan pengawasan yang lebih ketat. Prof. Tjandra menyarankan penggunaan alat deteksi polutan berbasis sensor canggih untuk memantau kualitas udara secara real-time. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat mengambil keputusan tepat waktu, seperti memberlakukan pembatasan lalu lintas atau mengarahkan warga ke tempat yang lebih aman. Selain itu, teknik pemadam yang lebih efektif, seperti penggunaan alat penutupan udara atau sistem penyerapan karbon, perlu diuji secara ilmiah sebelum diterapkan secara massal.
Studi dari Mongabay yang diterbitkan 17 Juni 2025 menegaskan bahwa pembakaran limbah plastik secara terus-menerus menjadi ancaman kesehatan publik yang meningkat. Asap yang berasal dari TPA Jatiwaringin, yang mencakup serpihan plastik, kertas, dan limbah organik, berpotensi menyebabkan keracunan berat, terutama bagi warga yang tinggal di dekat area pembuangan sampah. Prof. Tjandra mengingatkan bahwa penanganan berbasis sains bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga langkah strategis untuk meminimalkan risiko kesehatan di masa depan.
Untuk meningkatkan kualitas udara, Prof. Tjandra menyarankan pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi pembakaran sampah secara terencana. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus memperkuat regulasi pengelolaan sampah, serta melibatkan ilmuwan dan ahli kesehatan dalam perencanaan mitigasi. Selain itu, di bulan Ramadan, pasien penyakit paru perlu memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik agar tidak terganggu oleh asap yang mengandung partikel halus. Prof. Tjandra menyoroti bahwa Facing Challenges dalam kesehatan masyarakat memerlukan keberlanjutan dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin menjadi peringatan bahwa isu lingkungan dan kesehatan saling berkaitan. Dengan pendekatan ilmiah yang terpadu, masyarakat dapat menghadapi ancaman polusi udara secara lebih bijak. Prof. Tjandra menyatakan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari asap tersebut, serta mencari solusi yang dapat diterapkan secara efektif di berbagai wilayah. Maka, penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin bukan hanya soal api, tetapi juga soal perubahan pola hidup dan kebijakan berbasis sains.
