Regional

Announced: 2 Kasus Ledakan di Sekolah Disebut Dipicu Bullying, Densus 88: Terinspirasi Kasus di SMAN 72 Jakarta

Bullying, Densus 88 Terinspirasi Kasus SMAN 72 Jakarta Announced that dua kasus ledakan bom rakitan kembali mengejutkan masyarakat pendidikan, dengan dua aksi

Desk Regional
Published Juli 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

2 Kasus Ledakan di Sekolah Disebut Dipicu Bullying, Densus 88 Terinspirasi Kasus SMAN 72 Jakarta

Announced that dua kasus ledakan bom rakitan kembali mengejutkan masyarakat pendidikan, dengan dua aksi teror yang terjadi di lingkungan sekolah. Aksi pertama terjadi di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025, ketika seorang siswa bernama F melakukan pengeboman yang mengakibatkan kondisi kritis bagi para korban. Pemerintah dan Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa rasa sakit hati pelaku terhadap lingkungan sekolah memuncak, hingga ia memutuskan nekat merakit bom di dalam sekolah saat siswa sedang bersekolah. Ini menunjukkan bagaimana bullying bisa menjadi pemicu kejahatan yang berdampak besar.

Sejumlah detail mengenai kasus ini telah diungkap oleh tim investigasi. Dari hasil pemeriksaan awal, terdapat tujuh bom rakitan yang ditemukan oleh Tim Gegana Brimob dan Puslabfor Polri. Empat dari bom tersebut meledak, sementara tiga lainnya diamankan dalam kondisi aktif. Total korban luka mencapai 96 orang, terdiri dari siswa, guru, dan warga sekitar. Densus 88 Antiteror Polri mengatakan bahwa aksi ini tidak hanya didorong oleh emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh kecemburuan yang terus menumpuk sejak masa SMP hingga SMA.

Pemicu Utama: Bullying yang Mengakar

Kasus serupa di SMAN 72 Jakarta menjadi perhatian publik karena terbukti menimbulkan dampak signifikan. Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa kejadian ini tidak terlepas dari riwayat bullying yang dialami pelaku. Dalam wawancara, pelaku mengungkapkan bahwa ia merasa ditinggalkan dan dihina oleh teman-temannya selama bertahun-tahun. Kejadian ini memicu hasrat untuk melampiaskan kemarahan melalui aksi ekstrem. “Saya merasa dikhianati dan dipermalukan, hingga akhirnya memutuskan untuk melakukannya,” kata F, menurut sumber dari Densus 88.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, F sebelumnya mengalami tekanan psikologis akibat sering dikucilkan dalam lingkungan pertemanan. Perundungan ini dimulai saat ia duduk di bangku SMP dan berlanjut hingga SMA, membuatnya mengalami isolasi sosial yang berat. Dengan kondisi ini, pelaku pun memutuskan untuk membuat bom rakitan sebagai bentuk penegakan keadilan. “Announced bahwa ini bukan aksi spontan, tetapi dipicu oleh kejadian bullying yang terus-menerus,” tambah Budi Hermanto dalam pernyataannya.

Bullying yang berlangsung di SMAN 72 Jakarta menimbulkan gelombang perhatian di lingkungan pendidikan. Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana konflik antar teman bisa berujung pada kejahatan serius. Pelaku menyatakan bahwa ia mempelajari teknik pembuatan bahan peledak melalui media daring, lalu mengadaptasi metode tersebut sesuai kebutuhan. “Saya terinspirasi dari cara mereka membuat bom, lalu menyalinnya sendiri,” jelas pelaku dalam wawancara dengan polisi.

Kasus di MAN 3 Padang: Terinspirasi dari Pemicu di Jakarta

Kasus ledakan di MAN 3 Padang, Sumatera Barat, pada 14 Juli 2026, menjadi bukti bahwa masalah bullying di sekolah bisa merambat ke berbagai wilayah. Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa aksi teror di sana dipicu oleh riwayat perundungan yang dialami siswa berinisial R. Pelaku mengakui bahwa ia belajar dari pengalaman di SMAN 72 Jakarta, termasuk cara merakit bom dan memilih target yang dirasa adil.

“Pelaku juga mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025,” jelas Kombes Mayndra Eka Wardhana, Juri Bicara Densus 88, dalam keterangan Selasa (14/7/2026).

Dalam pengungkapan awal, polisi menyebutkan bahwa R memiliki riwayat dicerca dan dihina oleh teman-temannya selama beberapa bulan. Beberapa dari korban kejadian ini adalah siswa yang sering tertawa di belakang pelaku, menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan. Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa investigasi masih terus berjalan, dan mungkin akan ada lebih banyak keterlibatan siswa lain dalam kasus serupa. “Announced bahwa bullying bisa menjadi bahan bakar untuk tindakan teror, oleh karena itu kita perlu memperhatikan psikologis siswa,” tambah Mayndra.

Kasus ledakan di sekolah juga memicu kekhawatiran mengenai keamanan institusi pendidikan. Densus 88 Antiteror Polri announced bahwa ini menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan pemantauan di lingkungan sekolah, terutama terhadap siswa yang merasa terisolasi. Penyebab utama dari dua aksi ini adalah faktor psikologis yang berujung pada keinginan membalaskan dendam. “Announced bahwa bullying yang berlangsung lama bisa berubah menjadi trauma yang memicu tindakan ekstrem,” tegas Mayndra. Dengan adanya dua kasus ini, Densus 88 Antiteror Polri berharap bisa memperkuat kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mencegah kejadian serupa.

Leave a Comment