Iran Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb, AS Blokade Selat Hormuz: Harga Minyak Menggila
Pemblokiran Strategis dan Ancaman Ekonomi
Latest Program – Tindakan pemblokiran Selat Hormuz oleh Amerika Serikat memicu reaksi tajam dari Iran, yang menegaskan kemungkinan menutup Selat Bab el-Mandeb sebagai bentuk tekanan terhadap negara-negara penghasil dan pengirim minyak utama. Ancaman ini terjadi setelah AS menghimpun kekuatan laut dan udara untuk mengganggu arus minyak dari Iran, yang menjadi salah satu poros ekonomi global. Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran mengingatkan bahwa ekspor bahan bakar di Selat Bab el-Mandeb harus mencakup akses yang adil bagi semua negara atau dihentikan secara total.
“Kita tidak akan menerima kesepakatan yang tidak menjamin Iran tidak memiliki senjata nuklir,” tegas Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News. Pernyataan ini menegaskan komitmen AS untuk menegakkan kebijakan ekonomi yang memprioritaskan kepentingan pihak barat, meski berisiko mengganggu pasokan energi ke Asia Tenggara.
Langkah blokade oleh AS sejauh ini fokus pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak ke pasar internasional. Dalam operasi terbaru, Komando Pusat Angkatan Bersenjata AS (CENTCOM) melaporkan peningkatan penggunaan kapal perang dan pesawat tempur untuk menutup akses minyak Iran ke dunia luar. Laksamana Brad Cooper, pimpinan CENTCOM, menyebutkan bahwa tujuh kapal dagang telah menjadi sasaran serangan dalam seminggu terakhir, termasuk rudal dan drone yang ditembakkan ke wilayah Teluk.
Dampak Global pada Pasar Minyak
Pemblokiran Selat Hormuz dan ancaman menutup Selat Bab el-Mandeb memicu ketegangan global, terutama di pasar minyak. Sumber daya energi yang melewati kawasan ini mencapai sekitar 20% dari total produksi minyak dunia, sehingga langkah Iran untuk mengganggu pasokan dapat meningkatkan volatilitas harga. Berdasarkan laporan internasional, harga minyak mentah Arab Saudi dan minyak mentah Iran telah naik tajam dalam beberapa hari terakhir, dengan konflik memperparah ketidakpastian pasokan.
Kondisi ini semakin memburuk ketika sistem pertahanan udara Iran di sekitar Pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm dinyalakan untuk menangkal serangan udara. Selat Hormuz, yang juga menjadi pintu masuk minyak ke Asia Selatan, dilaporkan mengalami bentrok antara pasukan militer dan kapal-kapal dagang. Ancaman ini menegaskan bahwa Iran ingin menegakkan kebijakan ekonomi yang lebih mandiri, dengan Latest Program sebagai bagian dari upaya tersebut.
Kelompok-kelompok seperti Yordania, Kuwait, dan Bahrain juga menjadi korban serangan dari Iran. Otoritas Yordania mengklaim pertahanan udara mereka berhasil menangkal tiga rudal balistik, sementara Kuwait mengungkapkan penangkapan drone Iran. Bahrain, di sisi lain, melibatkan warga untuk berpindah ke tempat aman setelah menegaskan bahwa negara mereka menjadi sasaran serangan. Semua kejadian ini menunjukkan intensifikasi konflik antara Iran dan pihak barat.
Kebijakan Ekonomi dan Geopolitik yang Terancam
Latest Program yang diusung oleh Iran menegaskan prioritas utama negara tersebut: kebebasan ekonomi dan politik tanpa intervensi asing. Ancaman menutup Selat Bab el-Mandeb mencerminkan keinginan Iran untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi minyak, terutama menghadapi tekanan AS yang ingin memperkecil dominasi Iran di pasar energi global. Selat ini menjadi jalur alternatif yang penting, terutama jika akses ke Selat Hormuz terganggu.
Perubahan strategi ini juga memengaruhi persaingan dengan Arab Saudi, yang juga mengandalkan jalur laut untuk ekspor minyak. Para analis memperingatkan bahwa konflik ini bisa berujung pada perang harga minyak, dengan akibat berantai bagi perekonomian negara-negara yang bergantung pada pasokan energi. Pemerintah AS telah memperkenalkan pembatasan ekspor ke negara-negara tertentu sebagai bagian dari kebijakan ini, yang dinilai lebih memperparah situasi.
Dalam konteks ini, selat-selat strategis seperti Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi titik kritis. Jika Iran benar-benar menutup salah satu dari kedua jalur ini, kemungkinan terjadi penghentian ekspor minyak selama beberapa hari. Hal ini dapat memicu krisis energi yang lebih luas, terutama di negara-negara Asia Timur dan Afrika Utara. Dengan Latest Program, Iran berharap mengurangi ketergantungan pasar internasional pada ekspor minyak dari negara-negara Barat.
