Presiden Tinjau Hilirisasi Bioetanol untuk Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional
New Policy – Dalam rangka mendorong kemandirian pangan dan energi nasional, Pemerintah meluncurkan New Policy yang fokus pada hilirisasi tebu menjadi bioetanol. Upaya ini dilakukan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jumat (17/7/2026), sebagai bagian dari acara Panen Raya TNI. Presiden Prabowo Subianto hadir dalam acara tersebut, didampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan serta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. New Policy ini bertujuan memperkuat cadangan bahan pangan dan energi, sambil menekankan kerja sama lintas sektor untuk mencapai keberlanjutan nasional.
Pembangunan Kebijakan Baru untuk Keberlanjutan Energi
New Policy menekankan pentingnya integrasi antara sektor pertanian dan energi. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk menjamin pasokan bahan bakar yang lebih stabil. Ia menambahkan, kebijakan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendukung transisi menuju energi terbarukan, seperti bioetanol, yang bisa diproduksi dari tebu lokal. “Kita harus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam New Policy ini, karena ini adalah bagian dari gerakan nasional,” ujarnya.
“Dengan New Policy, kita bisa meningkatkan ketergantungan pada sumber daya lokal dan mengurangi impor bahan bakar,” katanya.
Produksi Bioetanol: Langkah Nyata dari Kebijakan Terbaru
Sebagai contoh nyata implementasi New Policy, PT Energi Agro Nusantara (Enero) menunjukkan potensi tebu sebagai bahan baku bioetanol. Direktur Utama PTPN I, Dr Ir Abdul Rivai Ras, menjelaskan bahwa fasilitas produksi bioetanol Enero mampu menghasilkan 100 kiloliter per hari, yang berkontribusi pada pasokan bahan bakar nasional. Bioetanol ini tidak hanya digunakan sebagai campuran bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan baku industri kosmetik, farmasi, dan pupuk hayati.
Program New Policy diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja baru. PTPN I (Persero) menyatakan bahwa mereka terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi bioetanol, seiring dengan peningkatan permintaan pasar. “Kebijakan terbaru ini akan memberikan dampak langsung pada produktivitas pertanian dan keberlanjutan energi,” tambah Rivai.
Kolaborasi Lintas Sektoral Meningkatkan Efisiensi
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan bahwa hilirisasi tebu adalah bagian dari New Policy yang menekankan sinergi antar lembaga. Ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya melibatkan Kementerian Pertanian, tetapi juga BUMN, dunia usaha, serta institusi pemerintah lainnya. “Kerja sama ini menjadi kunci keberhasilan New Policy, karena masing-masing pihak memiliki peran penting dalam mewujudkan visi keberlanjutan,” ujarnya.
Presiden Prabowo menekankan bahwa New Policy ini harus dijalankan secara berkelanjutan. Ia menyoroti pentingnya pendidikan dan pengawasan terhadap proses hilirisasi, agar tidak hanya menghasilkan produk ber nilai tambah, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Kita perlu memastikan bahwa semua sektor turut berpartisipasi dalam New Policy ini,” tambahnya.
Strategi Pengurangan Impor dan Peningkatan Produksi
Program New Policy juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Dengan mengembangkan bioetanol dari tebu, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas harga bahan bakar. Presiden menegaskan bahwa kebijakan ini harus dijalankan secara konsisten, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah.
Keberhasilan New Policy ini ditunjukkan dengan peningkatan produksi bioetanol yang signifikan. PTPN I dan Enero menjadikan tebu sebagai bahan baku utama, yang diharapkan bisa menghasilkan energi terbarukan dalam jumlah besar. “Dukungan dari berbagai pihak akan mempercepat realisasi New Policy ini, dan mengurangi risiko krisis energi di masa depan,” jelas Rivai.
Potensi Ekonomi dan Lingkungan dari Kebijakan Terbaru
New Policy juga membawa dampak positif terhadap lingkungan. Bioetanol yang dihasilkan dari tebu dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil. Presiden Prabowo menekankan bahwa kebijakan ini selain meningkatkan ketahanan pangan, juga membantu mengurangi emisi karbon. “Kita harus membangun ekonomi yang hijau, dan New Policy adalah bagian dari upaya tersebut,” ujarnya.
Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hilirisasi tebu bisa menjadi solusi untuk memperkuat ekonomi pertanian. Dengan New Policy yang dijalankan, pemerintah mengharapkan kenaikan produksi bioetanol seiring dengan peningkatan volume ekspor bahan baku industri. “Kebijakan terbaru ini akan mendorong keberlanjutan ekonomi, khususnya di daerah penghasil tebu,” tambahnya.
