Nasional

Prabowo Pertanyakan Beking LSM dan Pengamat Nyinyir: Yang Bayar Handphone dan Listrik Kalian Siapa?

Prabowo Pertanyakan Beking LSM dan Pengamat yang sering menyuarakan kritik pedas terhadap pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto menyoroti asal-usul

Desk Nasional
Published Juli 23, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Emily Garcia - beritahitam.com

Prabowo Pertanyakan Beking LSM dan Pengamat

Beritahitam.com – Prabowo Pertanyakan Beking LSM dan Pengamat yang sering menyuarakan kritik pedas terhadap pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto menyoroti asal-usul pendanaan bagi berbagai lembaga swadaya masyarakat serta para pengamat yang rutin menyampaikan pandangan pesimistis mengenai kondisi bangsa. Ia menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara demokrasi, selalu terbuka terhadap setiap bentuk kritik. Namun, ia merasa prihatin dengan adanya kelompok tertentu yang menurutnya secara sadar melayani kepentingan luar negeri untuk melemahkan kedaulatan tanah air.

Dalam pidatonya, Prabowo mengaitkan fenomena ini dengan istilah historis “Londo Ireng” yang muncul pada era kolonial Belanda. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang Indonesia yang mendukung pihak asing, namun ada yang memang senang mengabdi kepada negara lain. Istilah ini merujuk pada orang-orang pribumi yang berpihak kepada penjajah Belanda saat melawan rakyat Indonesia sendiri.

“Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada,”

Ungkapan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Lahir PKB ke-28 di Jakarta Convention Center, Senayan, pada Kamis, 23 Juli 2026. Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta sejumlah pejabat negara lain turut meramaikan acara tersebut. Peristiwa ini menjadi momen penting bagi Presiden untuk menyampaikan pesan kepada publik.

Siapa yang Membayar Hidup Mereka?

Lebih jauh, Presiden mempertanyakan identitas para penyandang dana di balik pihak-pihak yang sering muncul dengan narasi negatif. Ia menyoroti bahwa saat ini kondisi ekonomi Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja. Banyak masyarakat yang kesulitan mencari pekerjaan, sementara segelintir orang hidup nyaman dengan bantuan pihak tertentu.

“Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone mu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan,”

Menurut Prabowo, kelompok-kelompok tersebut secara gencar menyebarkan kampanye untuk mengguncang mental masyarakat. Salah satu narasi yang sering diulang adalah prediksi bahwa Indonesia akan segera mengalami keruntuhan atau kolaps. Mereka seolah-olah selalu siap memberikan peringatan tentang kehancuran yang akan datang.

Narasi “Indonesia Akan Kolaps” Tiap Bulan

Prabowo mencontohkan bagaimana prediksi tersebut terus berulang tanpa henti. Ia menjelaskan bahwa setiap bulan selalu ada klaim bahwa negara akan runtuh, namun kenyataannya tidak demikian. Kondisi ekonomi dan politik tetap berjalan normal tanpa ada tanda-tanda keruntuhan yang diprediksi.

“Jadi Saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,”

Untuk menggambarkan sikap kelompok tersebut, Prabowo menggunakan analogi dengan para suporter sepak bola yang tidak waras. Ia menjelaskan bahwa ketika tim kesayangan sedang bertanding, seharusnya para pendukung memberikan semangat, bukan justru menurunkan moral. Sikap yang kontraproduktif hanya akan membuat tim semakin lemah.

“Saudara-saudara, kita kalau kita cinta sama satu kesebelasan. Umpamanya ya kesebelasan kita lagi main sepak bola. Dia lagi bertarung dia lagi bertanding di lapangan. Kita kan sebagai suporter ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ. Oh nanti gol masuk, nanti kamu kalah nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya,”

Prabowo menilai bahwa sikap seperti itu justru kontraproduktif di tengah upaya-upaya perbaikan yang sedang dilakukan oleh pemerintah. Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa kritik yang konstruktif berbeda dengan upaya sengaja melemahkan semangat bangsa. Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat terus maju menuju masa depan yang lebih baik.

Leave a Comment