BRIN dan Kementan Soroti Dampak Batas Nikotin 1 mg, Tembakau Lokal Petani Berisiko Tak Terserap
BRIN dan Kementan Soroti Dampak kebijakan pembatasan nikotin yang sedang dirumuskan pemerintah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian
BRIN dan Kementan Soroti Dampak Batas Nikotin 1 mg bagi Petani
Beritahitam.com – BRIN dan Kementan Soroti Dampak kebijakan pembatasan nikotin yang sedang dirumuskan pemerintah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyoroti potensi dampak serius terhadap petani tembakau lokal. Rancangan aturan ini menetapkan batas maksimal 1 miligram nikotin dan 10 miligram tar per batang tembakau. Tanpa masa transisi yang memadai, industri diperkirakan akan kesulitan menyerap hasil panen tembakau lokal yang memiliki kadar nikotin tinggi secara alami.
Implementasi Terburu-buru Ancam Stabilitas Sektor
Setiari Marwanto, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, menekankan bahwa penerapan pembatasan nikotin secara tergesa-gesa berpotensi menciptakan gejolak di tingkat petani. Tanaman tembakau memiliki karakteristik unik yang sulit diubah dalam waktu singkat. Berbagai faktor teknis seperti teknik pemupukan nitrogen, pemilihan varietas unggul, serta formulasi campuran di industri pengolahan turut menentukan kadar nikotin dalam daun tembakau.
“Padahal kadar nikotin sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor karena unsur utamanya berkaitan dengan nitrogen,” jelas Setiari dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu (8/8/2026).
BRIN saat ini mengelola lebih dari 1.200 koleksi plasma nutfah tembakau lokal Indonesia. Sebagian besar koleksi tersebut memiliki kandungan nikotin alami di atas 2 persen. Kondisi ini menjadikan tembakau lokal sangat rentan mengalami penolakan pasar jika aturan baru segera diterapkan tanpa persiapan yang matang dan komprehensif.
“Itu juga menjadi perhatian kami. Karena itulah dalam rapat koordinasi sebelumnya disepakati agar kebijakan yang bersentuhan langsung dengan tembakau petani ditunda terlebih dahulu sampai semuanya benar-benar dipastikan aman,” ujarnya.
Perlu Masa Transisi 30 Tahun untuk Varietas Rendah Nikotin
Yudi Wahyudi, Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementan, menjelaskan bahwa proses pemuliaan tanaman melalui persilangan konvensional membutuhkan waktu yang sangat panjang. Target kadar nikotin di bawah 1 miligram per batang tidak dapat dicapai dalam periode singkat. Ia juga menambahkan bahwa Kementan belum dilibatkan secara optimal karena rancangan aturan ini mengacu pada mandat undang-undang kesehatan aspek hilir konsumsi, tanpa mempertimbangkan undang-undang pertanian di aspek hulu produksi.
Varietas lokal unggulan seperti Kemloko dari Temanggung dan Mole dari Jawa Barat memiliki kadar nikotin alami berkisar antara 3 hingga 8 miligram per batang. Karakteristik ini terbentuk dari kombinasi faktor lingkungan, termasuk kondisi tanah vulkanik yang subur dan intensitas sinar matahari di masing-masing daerah penanaman.
Upaya menurunkan kadar nikotin melalui persilangan tradisional memerlukan puluhan generasi seleksi genetik. Setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap serangan hama lokal yang umum ditemukan di Indonesia.
“Setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh. Untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap hama lokal, dibutuhkan puluhan generasi persilangan,” jelas Yudi.
Masa transisi selama 30 tahun pun belum tentu sepenuhnya menjamin keberhasilan pengembangan varietas rendah nikotin yang dapat tumbuh seragam di seluruh wilayah Indonesia. Karakteristik tembakau sangat dipengaruhi oleh konsep terroir, yaitu kesesuaian tanah, ketinggian wilayah, cuaca, dan mikroklimat di setiap daerah penanaman.
Edukasi masyarakat mengenai risiko nikotin dan asap rokok juga dinilai perlu diperkuat seiring dengan upaya penyesuaian kebijakan ini. Kedua lembaga tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara perlindungan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sektor pertanian tembakau nasional untuk masa depan yang lebih baik.
Frequently Asked Questions
Berapa batas nikotin yang ditetapkan dalam rancangan aturan baru? Rancangan aturan menetapkan batas maksimal 1 miligram nikotin dan 10 miligram tar untuk setiap batang tembakau yang diproduksi di Indonesia.
Mengapa tembakau lokal berisiko tidak terserap pasar? Tembakau lokal seperti Kemloko dan Mole memiliki kadar nikotin alami 3-8 miligram per batang, jauh di atas batas 1 miligram yang ditetapkan.
Berapa lama masa transisi yang disarankan? BRIN dan Kementan menyarankan masa transisi selama 30 tahun untuk memungkinkan pemuliaan tanaman melalui persilangan konvensional mencapai target kadar nikotin rendah.
Apa yang menjadi penyebab utama kadar nikotin tinggi pada tembakau lokal? Kadar nikotin dipengaruhi oleh faktor genetik, teknik pemupukan nitrogen, kondisi tanah vulkanik, intensitas sinar matahari, dan konsep terroir di setiap daerah.
