Nasional

Ketua Dewan Pers: Orang Sekarang Enggan Baca Buku, Lebih Suka Budaya Gosip

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik berdasarkan survei Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Indonesia pada tahun

Desk Nasional
Published Agustus 19, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments
Ketua-Dewan-Pers-Komaruddin-Hidayat-18082026
Foto : Emily Garcia - beritahitam.com
Table of Contents
  1. Indeks Kegemaran Membaca Anjlok, Dewan Pers Soroti Pergeseran Budaya ke Arah Gosip
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Indeks Kegemaran Membaca Anjlok, Dewan Pers Soroti Pergeseran Budaya ke Arah Gosip

Beritahitam.com – Data yang dirilis Badan Pusat Statistik berdasarkan survei Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Indonesia pada tahun 2025 hanya mencapai 54,80, masuk kategori rendah. Angka ini merosot tajam dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat 72,44. Tren penurunan tersebut menjadi sorotan tajam di sebuah forum akademik di ibu kota.

Konteks: Peluncuran Buku “Menata Ulang Reformasi”

Pandangan tersebut disampaikan oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, ketika hadir dalam acara peluncuran sekaligus bedah buku karya Letjen (Purn) Kiki Syahnakri—mantan Wakil Kepala Staf TNI AD—berjudul Menata Ulang Reformasi. Kegiatan berlangsung di Gedung Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Jakarta, pada Selasa (18/8/2026).

Komaruddin, yang juga mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menilai bahwa masyarakat Indonesia kini jauh lebih condong menikmati obrolan sensasional ketimbang menyimak tulisan yang berbobot. Ia menyebut pergeseran ini sebagai tanda bahwa budaya tulis-baca telah tergantikan oleh budaya gosip.

“Orang sekarang itu enggan baca buku. Enggan sekali baca buku. Tapi orang lebih tertarik, senang mendengarkan. Jadi budaya masyarakat kita itu bukan lagi budaya tulis-baca, budaya gosip ngomong yang sensasional.”

Perbandingan Pengikut di Platform Digital

Dalam paparannya, Komaruddin mengaitkan fenomena ini dengan dinamika media sosial yang ia amati secara rutin. Ia menyinggung akun YouTube milik pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti yang, meski menyajikan konten substansial, jumlah pengikutnya jauh lebih sedikit dibanding kanal-kanal yang mengandalkan sensasi tanpa kedalaman.

“Kalau follower-nya itu penuh gosip yang enggak usah mikir, yang sensasional, nah itu banyak. Tapi kalau diajak mikir, rakyat kita sudah malas mikir.”

Saran Adaptasi Konten Buku ke Format Singkat

Menghadapi realitas tersebut, Komaruddin merekomendasikan agar gagasan-gagasan besar dalam Menata Ulang Reformasi dipecah menjadi potongan-potongan pendek yang mudah beredar di media sosial. Ia mengusulkan agar Kiki Syahnakri beserta timnya merekam kutipan-kutipan berdurasi sekitar satu menit dari isi buku, sehingga setiap fragmen dapat menjadi topik pembicaraan tersendiri.

“Andaikan buku ini di-spill dikit-dikit misalnya Pak Kiki membuat satu kutipan-kutipan rekaman satu menit saja, ini menjadi berapa topik? Itu akan lebih tersebar ke mana-mana.”

Ia menegaskan bahwa substansi buku tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini, sehingga cara penyampaiannya perlu diubah agar mampu menjangkau khalayak luas.

“Jadi bagaimana ini di-spill di media sosial menjadi satu gebrakan, menggerakkan ya, gerakan ini dan menggerakkan ide dan kesadaran masyarakat.”

Komaruddin juga menyinggung bahwa ketika ruang kritik formal tersumbat, wacana justru meluber melalui kanal-kanal media sosial yang sulit dikendalikan—sebuah kondisi yang memperparah rendahnya kualitas diskursus publik.

Frequently Asked Questions

What is Ketua Dewan Pers?

Ketua Dewan Pers is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ketua Dewan Pers matter?

Ketua Dewan Pers matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment