Remaja 17 Tahun Tewas Ditembak, Beda Pernyataan Polisi dan Sekolah
Remaja 17 Tahun yang Tewas Ditembak – Seorang remaja berusia 17 tahun, Nopison Tebay, meninggal usai ditembak oleh petugas keamanan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada hari Minggu (10 Mei 2026). Peristiwa ini memicu perdebatan antara pihak kepolisian dan pihak sekolah tempat Nopison mengenyam pendidikan, dengan klaim yang berbeda mengenai identitas korban. Sementara polisi menyebut Nopison sebagai pelaku yang terlibat dalam aksi KKB, sekolah menyatakan bahwa remaja 17 tahun itu adalah pelajar aktif yang tidak memiliki kaitan dengan kelompok bersenjata tersebut.
Klaim Polisi: Remaja Tewas karena Aksi KKB
Kapolres Dogiyai, AKBP Dennis Arya Putra, mengungkapkan bahwa aksi penembakan terjadi setelah petugas menghadapi serangan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Menurut keterangan polisi, Nopison Tebay ditembak saat mencoba menghambat operasi keamanan di Jalan Trans Dogiyai-Paniai. “Tim patroli diserang, lalu petugas mengambil langkah keras. Hasilnya, diduga satu pelaku berhasil ditembak dan tewas,” terang AKBP Dennis Arya Putra dalam pernyataan resmi.
Menurut laporan, petugas keamanan mendapat informasi bahwa seorang remaja 17 tahun melakukan aksi dengan senjata tajam, mengarahkan tembakan ke arah tim patroli. Aparat menyatakan bahwa Nopison adalah pelaku yang terlibat langsung dalam pembongkaran kendaraan dan serangan terhadap personel. Polisi menegaskan bahwa tindakan tegas tersebut dilakukan demi melindungi keselamatan masyarakat dan staf operasional di wilayah tersebut.
Klaim Sekolah: Nopison adalah Pelajar yang Tidak Bersalah
Di sisi lain, pihak SMA Negeri 2 Kabupaten Dogiyai membantah klaim polisi. Mereka menyatakan bahwa Nopison Tebay adalah pelajar yang aktif dan tidak terlibat dalam aksi KKB. “Korban tidak memiliki kaitan dengan kelompok teroris, ia hanya mengikuti kegiatan sehari-hari di sekolah,” kata perwakilan pihak sekolah dalam pernyataan resmi.
Pihak sekolah memperkuat klaim mereka dengan menunjukkan surat keterangan dari guru dan teman-teman Nopison. Mereka juga menekankan bahwa korban dikenal sebagai siswa yang baik dan tidak pernah terlibat dalam kegiatan radikal. Sementara itu, pihak sekolah meminta penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan bahwa kejadian tersebut bukan hasil kesalahpahaman atau kesalahan penilaian petugas keamanan.
Konteks Peristiwa dan Penyebab Serangan
Peristiwa penembakan terhadap Nopison Tebay terjadi dalam konteks meningkatnya intensitas aksi KKB di wilayah Dogiyai. Dalam beberapa minggu terakhir, kelompok tersebut dilaporkan melakukan serangan terhadap infrastruktur dan personel keamanan di sekitar jalan trans yang menjadi jalur utama transportasi. Menurut informasi dari warga setempat, aksi penembakan tersebut terjadi saat tim patroli sedang melakukan inspeksi rutin di daerah tersebut.
Dalam situasi darurat, petugas keamanan mengambil langkah keras untuk memastikan keamanan daerah. Menurut data dari BNPB, setidaknya tiga insiden serupa telah terjadi di sekitar area Dogiyai sejak awal tahun 2026. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa konflik antara aparat keamanan dan KKB masih berlangsung, dengan remaja 17 tahun yang tewas menjadi korban aksi yang memicu kekacauan.
Reaksi Masyarakat dan Keterlibatan Komunitas
Peristiwa kematian Nopison Tebay memicu reaksi beragam dari masyarakat setempat. Sebagian warga mengakui bahwa aksi KKB memang mengancam keamanan, tetapi ada juga yang mempertanyakan keterlibatan korban. Kepala Desa setempat mengungkapkan bahwa warga masih mengenang Nopison sebagai anak yang baik, dengan banyak teman dan keluarga yang merasa kecewa atas tindakan petugas keamanan.
Di sisi lain, para pelajar lain di sekolah Nopison menolak klaim bahwa ia terlibat dalam aksi KKB. Mereka menyatakan bahwa korban hanya ingin melanjutkan studinya dan tidak pernah memperkenalkan diri sebagai anggota kelompok bersenjata. “Korban adalah pelajar yang taat aturan, kami tidak percaya bahwa ia terlibat dalam aksi penembakan,” ujar salah satu siswa dalam wawancara singkat.
Penyelidikan Lanjutan dan Fakta yang Mencuat
Setelah kejadian penembakan, tim investigasi dari Kepolisian Daerah Papua mulai melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mereka mengumpulkan data dari saksi mata, termasuk pengemudi kendaraan yang dihancurkan oleh Nopison. Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh, ada perbedaan versi mengenai tanggal kejadian dan alasan aksi penembakan.
Menurut keterangan saksi, aksi penembakan terjadi sekitar pukul 14.00 WIT, ketika Nopison dan seorang temannya ditemukan berusaha membongkar kendaraan yang melintas. Polisi menyebut bahwa ini adalah bagian dari operasi KKB yang menargetkan aparat keamanan. Namun, sekolah dan warga mengklaim bahwa Nopison hanya ingin menghentikan kendaraan untuk menyelidiki aktivitas yang mencurigakan.
Konsekuensi dan Dampak pada Masyarakat
Kematian Nopison Tebay memicu kekacauan di sekolah dan komunitas lokal. Kepala sekolah menyatakan bahwa kejadian ini menyebabkan suasana di lingkungan sekolah menjadi tidak nyaman, dengan beberapa siswa merasa terancam oleh aksi aparat keamanan. “Kami khawatir adanya kesalahpahaman antara pelajar dan petugas keamanan bisa memicu lebih banyak konflik di masa depan,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Dogiyai.
Dalam rangka menghindari konflik, pihak kepolisian dan sekolah sepakat melakukan diskusi bersama untuk mengklarifikasi peristiwa tersebut. Kepolisian menegaskan bahwa Nopison memang terlibat dalam aksi KKB, sementara pihak sekolah mempertahankan klaim bahwa korban adalah pelajar yang tidak bersalah. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana konflik di wilayah perbatasan bisa memengaruhi hubungan antara pihak berwajib dan masyarakat sipil.