Internasional

Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran-AS: Ringgit Menguat – Bagaimana dengan Rupiah?

Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran-AS: Ringgit Menguat, Bagaimana dengan Rupiah?

Desk Internasional
Published Mei 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran-AS: Ringgit Menguat, Bagaimana dengan Rupiah?

Perkembangan Pasar Valuta Asing

Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran – Nilai tukar Ringgit Malaysia mengalami penguatan signifikan pada hari Senin (25/5/2026) akibat sentimen positif yang muncul dari prospek perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Kurs mata uang ini melanjutkan tren peningkatan setelah tiga hari pekan sebelumnya, dengan data dari The Star menunjukkan Ringgit berada pada level 3,9635/3,9705 terhadap dolar AS. Sentimen risk-on yang dihasilkan dari kemungkinan pencapaian kesepakatan di Selat Hormuz menjadi faktor utama pendorong keputusan investor untuk mengalihkan dana ke aset yang lebih stabil, seperti Ringgit.

Perundingan AS-Iran yang berlangsung sejak akhir 2025 telah menimbulkan harapan baru bagi pasar global. Pasar keuangan terpantau bergerak lebih optimis, terutama di Asia Tenggara, karena selat tersebut menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia. Kinerja indeks Dolar AS (DXY) yang turun 0,25 persen ke 98,987 poin dan kenaikan S&P 500 hingga 0,61 persen ke 7.536,50 poin mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kesepakatan bilateral ini. Dalam konteks tersebut, Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran menjadi katalis utama bagi nilai tukar Ringgit.

Kinerja Ekonomi dan Proyeksi Pasar

Kurs Ringgit terhadap dolar AS memperlihatkan kestabilan yang mengejutkan di tengah volatilitas global. Perusahaan ekonomi seperti Bank Muamalat Malaysia Bhd memperkirakan penguatan ini akan berlangsung setidaknya hingga akhir kuartal pertama 2026, dengan proyeksi bahwa Ringgit bisa mendekati level RM3,95. Faktor utama yang mendorong dinamika ini adalah keberhasilan negosiasi AS-Iran dalam menurunkan tekanan politik terhadap pasokan minyak, yang menjadi penentu utama dalam perilaku pasar.

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah Indonesia mengalami kinerja yang berbeda. Dikutip Kompas.com, Rupiah sempat melemah 0,05 persen ke level Rp17.726 per dolar AS pada pukul 09.21 WIB, meski kemudian kembali menguat tipis menjadi Rp17.715. Hal ini menunjukkan bahwa meski Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran memberikan dampak positif pada Ringgit, Rupiah masih terpantau lebih rentan terhadap fluktuasi eksternal seperti kebijakan moneter AS atau keadaan geopolitik regional.

“Kurs Rupiah masih dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi seperti defisit neraca perdagangan dan inflasi,” jelas ekonom dari sebuah lembaga riset keuangan kepada detik.com. Meski ada harapan dari pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi akan memperkuat nilai Rupiah di 2027, tekanan dari beberapa aspek seperti ketergantungan pada impor dan nilai tukar mata uang Asia lainnya yang lebih baik menjadi tantangan utama.”

Mata Uang Asia dan Perbandingan Global

Dalam konteks pasar Asia, Ringgit Malaysia tercatat sebagai satu-satunya mata uang yang bergerak positif di tengah melemahnya Rupiah. Mayoritas mata uang Asia seperti Yen Jepang, Won Korea, dan Baht Thailand mencatat kenaikan kurs terhadap dolar AS, sedangkan Rupiah konsisten terpantau lemah. Ini menunjukkan ketimpangan ekonomi antar-negara ASEAN akibat dampak berbeda dari Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran. Ekonom menyebutkan bahwa Rupiah membutuhkan reformasi struktural untuk menyaingi kinerja Ringgit dalam jangka panjang.

Penguatan Ringgit juga terkait dengan dinamika inflasi yang lebih rendah dibandingkan Indonesia. Negara-negara yang terlibat dalam perundingan AS-Iran cenderung menunjukkan stabilitas makroekonomi lebih baik, terutama dalam mengelola ekspor minyak mentah. Sementara itu, Rupiah Indonesia masih menghadapi tantangan dari defisit neraca transaksi berjalan yang menggerogoti daya tarik investasi asing. Dengan demikian, Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran tidak hanya memengaruhi satu mata uang, tetapi juga menciptakan perbandingan yang jelas antar-negara.

Analisis Ekonomi dan Prospek Masa Depan

Analisis dari lembaga keuangan menunjukkan bahwa keberhasilan perundingan AS-Iran akan memiliki dampak luas pada ekonomi global. Pasar berharap bahwa kesepakatan ini bisa mengurangi ketegangan geopolitik yang sebelumnya menghambat perdagangan minyak. Hal ini berpotensi meningkatkan kinerja mata uang yang terkait langsung dengan sektor energi, seperti Ringgit Malaysia. Sementara Rupiah Indonesia menghadapi perjalanan yang lebih berat, dengan faktor-faktor internal seperti ketergantungan pada pertumbuhan ekspor dan kebijakan fiskal yang memerlukan penyesuaian.

Di tengah persaingan mata uang Asia, Rupiah perlu memperkuat strategi untuk menarik investor. Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di kuartal pertama 2026, seperti surplus neraca transaksi berjalan dan penurunan defisit fiskal, menjadi titik awal optimisme. Namun, angka tersebut masih perlu didukung oleh perbaikan struktur kebijakan moneter dan stabilitas politik di dalam negeri. Jika tidak, Sentimen Positif Terkait Perundingan Iran mungkin hanya memperkuat kinerja Ringgit sementara Rupiah tetap terpantau melemah.

Leave a Comment