Eks Pejabat CIA Ditangkap FBI Usai Timbun 300 Emas Batangan Senilai Rp713 Miliar di Rumahnya
Solving Problems – Pada Kamis (28/5/2026), Biro Investigasi Federal (FBI) menangkap mantan pejabat badan intelijen Amerika Serikat, David Rush, setelah menemukan 300 batang emas di rumahnya di Virginia. Emas tersebut bernilai sekitar 40 juta dolar AS atau setara Rp713 miliar berdasarkan kurs rupiah Rp17.884. Informasi ini dihimpun dari laporan BBC, yang menyebutkan emas batangan tersebut diduga berasal dari pencurian.
Penyelidikan dan Koordinasi dengan CIA
Penangkapan Rush terjadi setelah FBI menerima laporan tentang dugaan pelanggaran hukum dari investigasi internal CIA. “Setelah penyelidikan internal CIA menemukan adanya pelanggaran hukum potensial, Direktur CIA John Ratcliffe membagikan informasi ini kepada FBI untuk penyelidikan lebih lanjut,” jelas salah satu agen FBI dalam pernyataan resmi. Agen tersebut menekankan komitmen FBI untuk memastikan keadilan dengan mengikuti fakta, menegakkan pertanggungjawaban, dan melaksanakan penegakan hukum secara konsisten.
“FBI bekerja sama erat dengan mitra kami di CIA dan Departemen Kehakiman sambil terus menyelidiki kasus ini secara menyeluruh. Kami berkomitmen untuk mengikuti fakta, memastikan pertanggungjawaban, dan menegakkan keadilan sesuai dengan hukum,” kata agen FBI.
Sebelumnya, Rush telah dihukum atas dugaan pencurian uang publik pada pekan lalu, berdasarkan laporan pengadilan federal Virginia. Kasus ini semakin mencuat setelah terungkap permintaan mencurigakan yang diajukan Rush kepada pemerintah AS terkait dana asing dan emas batangan. Laporan dari NBC News menyebutkan permintaan tersebut dilakukan antara November 2025 hingga Maret 2026.
Dalam dokumen pengadilan, diungkapkan bahwa CIA awalnya tidak mampu menemukan emas yang diminta Rush. Namun, pada 18 Mei 2026, CIA berhasil memperoleh surat perintah penggeledahan dari FBI untuk meninjau kediamannya. Dalam operasi tersebut, agen FBI menyita lebih dari 300 batang emas, masing-masing berbobot 1 kilogram.
Pertanyaan muncul dari publik AS mengenai efektivitas proses pemeriksaan keamanan yang dijalankan pemerintah federal. Proses ini seharusnya memastikan bahwa petugas intelijen atau pegawai pemerintah tidak melanggar kepercayaan masyarakat atau menjadi mata-mata negara asing. Sementara itu, pemerintah AS terus melakukan pemeriksaan latar belakang untuk setiap calon pegawai di CIA maupun lembaga lain yang memiliki akses ke data sensitif. Setelah lolos, individu tersebut tetap dipantau terkait aktivitas keuangan, perjalanan, dan catatan kreditnya.
