Internasional

Latest Program: Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Netanyahu: Mojtaba Masih Hidup dan Sembunyi

Latest Program: Netanyahu Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Mojtaba Masih Hidup dan Bersembunyi Latest Program - Dalam sebuah wawancara

Desk Internasional
Published Mei 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Netanyahu Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Mojtaba Masih Hidup dan Bersembunyi

Latest Program – Dalam sebuah wawancara terkini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan negaranya tidak sepenuhnya memperkirakan konsekuensi strategis dari pengendalian Selat Hormuz oleh Iran. Ia menyatakan keyakinan bahwa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, masih hidup dan sedang bersembunyi di lokasi yang belum diketahui. Hal ini memperjelas upaya Iran untuk mempertahankan pengaruhnya di wilayah kritis tersebut.

Khamenei Bersembunyi Setelah Serangan Gabungan AS-Israel

Menurut Netanyahu, Mojtaba kemungkinan berada dalam bunker atau area penjagaan tersembunyi setelah jarang terlihat di publik sejak diduga terkena serangan udara bersama AS dan Israel. “Saya rasa dia masih hidup. Namun, kondisinya sulit dijelaskan. Dia bersembunyi di tempat yang tidak diketahui,” ujarnya Senin (11/5/2026). Pernyataan ini menggambarkan kekhawatiran Netanyahu bahwa Iran belum sepenuhnya runtuh meski mengalami tekanan besar.

“Perang belum berakhir karena masih ada material nuklir, uranium terkaya, yang harus diangkut keluar dari Iran. Juga fasilitas pengayaan yang belum selesai dibongkar,” kata Netanyahu.

Strategi Iran dan Konflik di Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan energi global, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20% minyak dunia melewati area sempit ini, menjadikannya titik kritis dalam hubungan geopolitik antara Iran dan negara-negara Barat. Netanyahu menegaskan bahwa kemenangan AS dan Israel atas Iran belum sepenuhnya mencapai titik akhir, karena ada kekuatan yang mungkin mengubah skenario perang.

Netanyahu menjelaskan bahwa kemampuan nuklir Iran telah terbatasi, termasuk jaringan proksi dan kapasitas rudalnya. Namun, ia menyatakan bahwa Iran tetap berpotensi memperkuat keberadaannya melalui Mojtaba, yang berupaya membangun kembali kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa konflik di Selat Hormuz bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga strategi politik dan diplomasi yang berkelanjutan.

Kekhawatiran Global terhadap Stabilitas Selat Hormuz

Ketegangan di Selat Hormuz telah menarik perhatian global, dengan negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Eropa mengawasi kondisi keamanan jalur perdagangan mereka. Netanyau menyebutkan bahwa pengendalian kembali wilayah ini bisa menjadi faktor pemicu perang yang lebih luas, terutama jika Iran memperoleh kekuatan nuklir yang lebih signifikan. “Ini bukan hanya masalah satu negara, tapi dampaknya akan terasa di seluruh dunia,” tambahnya.

Latest Program menyoroti bahwa pernyataan Netanyahu menambah kompleksitas konflik yang sedang berlangsung. Pemimpin tertinggi Iran yang masih hidup berdampak pada kemungkinan terjadinya perubahan kebijakan atau peningkatan kerja sama internasional untuk menghadapi ancaman Iran. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pihak berkuasa Israel dan AS tetap aktif dalam strategi jangka panjang mereka terhadap Iran.

Konteks Sejarah dan Dinamika Politik Iran

Khamenei telah menjadi simbol kekuatan Iran sejak krisis tahun 1979. Meski mengalami serangan terhadap kehadirannya, ia masih menjadi pilar utama dalam kepemimpinan Iran. Netanyahu menyoroti bahwa keberadaan Mojtaba memungkinkan Iran beradaptasi dalam situasi yang terus berubah, termasuk mengubah arah kebijakan nuklirnya. “Iran belum sepenuhnya kolaps, dan mereka akan terus mengambil langkah-langkah yang strategis,” jelasnya.

Selat Hormuz juga menjadi perangkat utama dalam perang dingin antara Iran dan negara-negara Barat. Sejak perang sipil di Suriah dan konflik Yaman, Iran terus memperluas pengaruhnya melalui proksi. Dalam konteks ini, pemimpin tertinggi Iran yang masih hidup berarti negara tersebut bisa menyesuaikan strategi tanpa kehilangan arah utama. Latest Program menyebutkan bahwa tekanan internasional terhadap Iran akan terus berlanjut, terutama jika perang melibatkan lebih banyak negara.

Konsekuensi dan Perspektif Masa Depan

Menurut analisis pihak berkuasa, pengendalian Selat Hormuz memainkan peran krusial dalam stabilitas geopolitik. Netanyahu mengungkapkan bahwa meski AS dan Israel berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran, perang tidak akan segera berakhir. “Masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, termasuk memastikan bahwa material nuklir tidak kembali mengancam dunia,” kata ia dalam wawancara terkini.

Latest Program menegaskan bahwa keberadaan Mojtaba Khamenei memberikan harapan bagi pihak Iran untuk memulihkan posisi mereka. Dengan bersembunyi, ia bisa mengatur strategi baru, termasuk membangun kembali kekuatan nuklir dan memperkuat hubungan dengan negara-negara lain. Netanyahu memprediksi bahwa konflik ini akan terus berkembang, dan keberhasilan pihak AS-Israel dalam menekan Iran masih menjadi sorotan utama.

Leave a Comment