Internasional

Latest Program: Ansarallah Curiga Trump Tolak Tanggapan Iran setelah Telepon Netanyahu: Sudah Bisa Ditebak

arallah Curiga Latest Program - Gerakan Ansarallah di Yaman menyatakan kecurigaan terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak

Desk Internasional
Published Mei 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Trump Tolak Jawaban Iran, Ansarallah Curiga

Latest Program – Gerakan Ansarallah di Yaman menyatakan kecurigaan terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak respons Iran terkait proposal perdamaian terbaru. Kecurigaan ini muncul setelah Trump berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menurut Ansarallah mencerminkan kebijakan luar negeri AS yang selalu memihak kepentingan Israel. Wakil Kepala Kantor Media Ansarallah, Nasruddin Amer, mengkritik keputusan Trump melalui akun X pribadinya, menegaskan bahwa sikap Washington telah menjadi jelas sejak awal.

Histori Konflik dan Kebijakan AS

Dalam pernyataannya, Amer menyebutkan bahwa kebijakan AS terhadap Iran selama ini tidak adil, dan tindakan Trump menunjukkan keseragaman dalam pola yang sudah diprediksi. Ia menuding bahwa keputusan Presiden AS didorong oleh tekanan dari pemerintah Israel, sehingga membuatnya “alergi terhadap kebenaran” dan sering mengabaikan upaya diplomasi yang sebenarnya bisa memberikan hasil positif. Trump, dalam sebuah pesan di platform Truth Social, menyatakan sikap tegas: “Jawaban Iran tidak bisa diterima!”

Sebelumnya, Iran telah mengirimkan tanggapan resmi atas proposal perdamaian yang disampaikan oleh Amerika Serikat pada 10 Mei 2026. Respons tersebut diserahkan melalui mediator Pakistan, sebagai bagian dari upaya untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan antara Iran dan Ansarallah. Meski respons Iran dianggap memadai, Trump menolaknya dan memutuskan untuk mempercepat persiapan tindakan militer terhadap Iran. Ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan Trump tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga memperparah ketegangan yang sudah memanas sejak lama.

Proses Perdamaian yang Terhambat

Proposal perdamaian yang ditawarkan AS sebelumnya bertujuan untuk mengakhiri perang di Yaman, yang berkepanjangan selama lebih dari satu dekade. Dalam beberapa minggu terakhir, para diplomat dan pejabat internasional secara aktif terlibat dalam upaya mediasi. Namun, keputusan Trump menolak jawaban Iran mempercepat kecepatan krisis, karena dianggap sebagai langkah yang tidak kooperatif dan membahayakan peluang untuk mencapai kesepakatan. Kecurigaan Ansarallah terhadap keputusan AS semakin meningkat, dengan argumen bahwa kebijakan Trump selalu berpijak pada kepentingan Israel, bukan kepentingan umum.

“Tanggapan Iran justru memperlihatkan keinginan untuk mencapai kesepakatan, namun Washington menolaknya karena tidak sesuai dengan agenda mereka,” ujar Amer, seperti dilaporkan WANA News Agency. “Ini menunjukkan bahwa Trump hanya menunggu kesempatan untuk menyerang Iran, bukan mencari solusi yang adil.”

Kebijakan Trump ini juga memperhatikan respons dari pihak internasional. Banyak pihak mengkritik keputusan AS yang dianggap terlalu keras dan tidak mempertimbangkan kemungkinan alternatif. Pemimpin gerakan Ansarallah, Houthi, menegaskan bahwa mereka siap untuk terus berjuang tanpa bantuan AS, meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebaliknya, Israel menyambut baik keputusan Trump, karena dianggap sebagai dukungan untuk kebijakan defensif mereka di Timur Tengah.

“Kami yakin bahwa Trump mengambil keputusan ini berdasarkan tekanan dari Netanyahu, karena menurut kita selama ini Washington selalu mengutamakan kepentingan Israel,” tulis Amer dalam pesan yang diunggahnya. “Latest Program ini tidak hanya tentang Yaman, tetapi juga tentang rencana jangka panjang AS terhadap Iran.”

Implikasi di Tingkat Internasional

Penolakan Trump terhadap jawaban Iran mengubah dinamika diplomasi global, khususnya dalam isu konflik Timur Tengah. Beberapa negara seperti Tiongkok dan Rusia mengecam keputusan AS, karena dianggap melanggar prinsip multilateralisme dan memperburuk ketegangan. Dalam sebuah pernyataan resmi, Departemen Luar Negeri Tiongkok menyebut bahwa AS harus “lebih fleksibel” dalam menghadapi permintaan Iran. Sementara itu, Rusia menekankan bahwa penolakan tersebut bisa memicu reaksi serupa dari negara-negara lain yang ingin mencapai perdamaian.

Di sisi lain, anggota gerakan Ansarallah memberikan reaksi yang beragam. Beberapa menyatakan dukungan terhadap tindakan Trump, sementara yang lain menuntut tindakan lebih keras terhadap Israel. Kebijakan Trump menurut mereka menunjukkan bahwa AS tidak lagi memprioritaskan kepentingan Yaman, tetapi mengutamakan kepentingan kecil dan kecil. Dalam konteks ini, “Latest Program” terus menjadi topik utama dalam berbagai media, karena dianggap menggambarkan arah kebijakan AS yang konsisten.

Perdana Menteri Netanyahu, yang menjadi pemicu keputusan Trump, telah lama memimpin upaya diplomatik untuk mendukung kebijakan defensif Israel. Dalam telepon dengan Trump, ia menekankan bahwa jawaban Iran tidak cukup memenuhi syarat untuk memulai gencatan senjata. Keputusan Trump kemudian dianggap sebagai bentuk dukungan penuh terhadap upaya Israel untuk mengurangi pengaruh Iran di kawasan tersebut. Kritik Ansarallah terhadap tindakan ini semakin memperkuat bahwa kebijakan Trump memperparah situasi.

Leave a Comment