Regional

Latest Program: Antrean di Sejumlah SPBU Daerah Usai Harga Pertamax Naik, Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

Latest Program: Kenaikan Harga Pertamax Memicu Antrean BBM di Wilayah Daerah, Pengendara Beralih ke Pertalite Latest Program - Program terbaru yang

Desk Regional
Published Juni 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Kenaikan Harga Pertamax Memicu Antrean BBM di Wilayah Daerah, Pengendara Beralih ke Pertalite

Latest Program – Program terbaru yang diluncurkan oleh pemerintah melalui kenaikan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter, berdampak signifikan pada tingkat antrean bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai daerah. Kebijakan ini dianggap sebagai bagian dari Latest Program untuk mengatur alokasi subsidi BBM, dengan harapan bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan industri energi nasional. Perubahan harga terjadi pada Rabu (10/6/2026), saat PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga Pertamax, yang membuat banyak pengendara memilih beralih ke Pertalite, BBM subsidi dengan harga lebih terjangkau.

Penyebaran Antrean di Wilayah Tertentu

Kenaikan harga Pertamax di beberapa daerah menyebabkan antrean kendaraan yang cukup panjang, terutama di SPBU yang terletak di jalur utama atau daerah dengan populasi pengguna BBM yang tinggi. Wilayah seperti Bogor, Daan Mogot Jakarta Barat, Fatmawati Jakarta Selatan, Gadung Toboali Bangka Belitung, Kalabbirang Takalar, Lumajang Jawa Timur, Pangkalan Kerinci Riau, Samata Kabupaten Gowa, Sukoharjo Jawa Tengah, serta Tanete Bulukumba Sulawesi Selatan menjadi titik paling terkena dampak. Fenomena ini mencerminkan kecenderungan masyarakat beralih ke BBM subsidi, terutama Pertalite, karena perbedaan harga yang lebih jauh.

“Saya biasanya isi Pertamax, tapi karena harga naik signifikan, sekarang lebih memilih Pertalite,” kata Andi, seorang pengemudi truk yang terjebak antrean di SPBU Samata. Ia mengatakan, penggunaan Pertalite jauh lebih efisien karena hemat biaya, terutama bagi pengendara yang rutin mengisi bahan bakar setiap hari. “Kalau Latest Program ini berlangsung terus-menerus, mungkin akan ada dampak lebih luas pada kebutuhan harian masyarakat.”

Antrean kendaraan di SPBU 74.921.04 Samata, Kabupaten Gowa, terlihat mengular hingga beberapa kilometer. Harga Pertamax di sana naik dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter, sedangkan Pertalite tetap berada di bawah harga yang lebih rendah. Situasi serupa terjadi di SPBU lain, seperti di Samata, tempat di mana antrean mobil dan truk sudah mulai terjadi sejak pagi hari. Banyak pengendara memarkir kendaraannya di badan jalan karena antrian yang terus bertambah, terutama di daerah dengan akses ke SPBU yang terbatas.

Kebijakan Harga dan Dampak Ekonomi

Perubahan harga Pertamax yang menjadi bagian dari Latest Program ini diambil dalam rangka menjaga keseimbangan antara aksesibilitas bagi masyarakat dan keberlanjutan pasokan energi nasional. Pemerintah menilai, kenaikan harga bisa membantu mengurangi subsidi BBM yang terus menumpuk, sekaligus mendorong penggunaan BBM subsidi untuk kebutuhan yang lebih mendesak. Kebijakan ini juga memicu respons dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pengguna kendaraan pribadi dan angkutan umum.

“Program ini memberi kesempatan bagi warga untuk lebih memperhatikan penggunaan BBM subsidi,” ungkap Rina, seorang ibu rumah tangga yang mengisi Pertalite setiap hari. Ia menilai, kenaikan harga Pertamax menguntungkan bagi pengguna Pertalite, terutama dari segi biaya. Namun, untuk pengendara yang bergantung pada BBM premium, kenaikan ini bisa mengurangi daya beli sehari-hari. “Kita harus adaptasi, tapi harapan saya harga Pertalite tetap stabil,” tambahnya.

Kebijakan harga Pertamax sebagai bagian dari Latest Program juga dihubungkan dengan situasi ekonomi nasional. Selama periode kepemimpinan SBY, subsidi BBM dialokasikan sebesar Rp300 T, sementara di masa Jokowi fokus pada pembangunan infrastruktur. Di masa Prabowo, kemungkinan besar subsidi hanya diberikan untuk MBG (Minyak Bakar Gas). Kenaikan harga Pertamax dianggap sebagai langkah untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar, meski masih ada kekhawatiran terkait dampaknya terhadap ekonomi rakyat.

Latest Program ini juga mengubah pola konsumsi BBM di Indonesia. Sebelumnya, Pertamax menjadi pilihan utama bagi pengendara yang mengutamakan performa kendaraan, namun kini Pertalite menjadi alternatif yang lebih diminati karena kenaikan harga Pertamax. Perubahan ini mengisyaratkan bahwa kebijakan harga BBM akan terus berdampak pada keputusan pengguna, terutama dalam konteks ekonomi yang semakin dinamis.

Dalam jangka panjang, Latest Program diharapkan bisa membantu mengurangi defisit subsidi BBM, sekaligus memberikan insentif bagi pengguna yang lebih memerlukan bahan bakar berharga murah. Namun, ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan industri. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan ini tidak mengganggu aksesibilitas BBM bagi lapisan masyarakat menengah ke bawah. Kenaikan harga Pertamax memicu pergeseran ke Pertalite, yang menjadi indikator perubahan kebijakan energi nasional.

Leave a Comment