Key Issue: Kesalahan Memasak Cumi dan Daging yang Bikin Alot, Tips dari Chef Bryan untuk Hindari Kering dan Tidak Empuk
Key Issue – Jakarta, 19 Juni 2026 – Memasak bahan seperti cumi-cumi, daging, atau udang sering kali mengalami kesalahan akibat pengaturan waktu dan suhu yang tidak tepat. Banyak masakan akhirnya tidak lembut dan terasa kering karena cumi atau daging matang berlebihan, yang menjadi perhatian utama Chef Bryan saat menjadi juri di Bosch Culinary Masters. Dalam acara tersebut, ia membahas faktor-faktor utama yang menyebabkan masakan kurang empuk, serta memberikan solusi praktis untuk menghindari hal tersebut.
Mengapa Cumi dan Daging Rentan Matang Berlebihan?
Seafood seperti cumi dan daging memiliki struktur protein yang sensitif terhadap panas. Jika masak terlalu lama, tekstur akan berubah menjadi keras dan kehilangan kelembutan. Chef Bryan menjelaskan bahwa cumi, khususnya, cepat matang karena kandungan airnya yang tinggi. “Cumi itu berbeda dengan daging, karena bisa kehilangan kelembutan jika dijaga kurang tepat,” kata pria yang terkenal dalam dunia kuliner tersebut.
“Matang berlebihan itu terjadi karena kamu tidak mengawasi perubahan warna dan tekstur, atau mengabaikan waktu masak yang disarankan. Dengan memahami sifat bahan, kamu bisa menghindari Key Issue ini,”
Daging panggang juga mengalami efek serupa. Jika suhu terlalu tinggi atau waktu memasak terlalu panjang, daging akan mengering dan hilang kelembutan. Chef Bryan menekankan pentingnya memperhatikan titik matang dan mengatur proses dengan hati-hati. “Key Issue dalam masakan daging adalah overcook, yang bisa mengurangi rasa dan tekstur. Jadi, selalu cek tanda-tanda kematangan sebelum menaruh di piring,” imbuhnya.
Tips untuk Memasak Cumi dan Daging dengan Teknik Terbaik
Menggunakan timer atau termometer bisa membantu menghindari Key Issue. Chef Bryan menyarankan untuk memasak cumi selama 5-10 menit terakhir agar tetap lembut. “Tidak usah dimasak terlalu dini, cukup hitung waktu agar tidak melebihi titik matang,” ujarnya. Selain itu, teknik marinating atau penyedapan bisa memperkuat rasa dan menjaga kelembutan bahan.
Untuk daging, istirahatkan sejenak setelah memasak agar mengembang dan merata. “Key Issue sering terjadi karena pemasak tidak menunggu daging beristirahat, jadi hasilnya kurang enak,” jelas Chef Bryan. Ia juga menyarankan untuk memanfaatkan metode seperti grilling atau panggang dengan suhu stabil agar bahan tidak terlalu kering.
Cara lain adalah dengan memilih bahan yang berkualitas. Cumi segar atau daging yang tidak busuk akan lebih mudah diatur teksturnya. “Key Issue juga tergantung pada kualitas bahan, jadi pastikan cumi dan daging yang digunakan masih segar dan siap masak,” tutur chef berpengalaman itu. Teknik ini bisa diterapkan baik untuk masakan rumahan maupun profesional.
Dalam praktiknya, Chef Bryan mengingatkan agar tidak mengabaikan perubahan warna bahan. Misalnya, cumi matang ketika berubah dari putih ke kuning keemasan. Sementara daging panggang mengalami perubahan warna yang terlihat lebih lambat. “Dengan mengamati perubahan tersebut, kamu bisa memastikan Key Issue tidak terjadi,” ujarnya.
Kesalahan memasak cumi dan daging bukan hanya terjadi pada pemula. Banyak pemasak profesional pun mengalami hal ini karena kesibukan atau kurangnya pengawasan. “Key Issue bisa muncul bahkan dari masakan yang terlihat sempurna, jadi teknik ini penting untuk semua tingkat,” pungkas Chef Bryan. Ia menyarankan untuk terus belajar dan mencoba variasi teknik untuk meningkatkan hasil masakan.
