Kengo Kuma Arsitek Top Jepang Dorong Desain Berbasis Material Lokal
Beritahitam.com – Kengo Kuma, arsitek top Jepang, mengajak arsitek Indonesia menjadikan kondisi alam, material setempat, dan budaya lokal sebagai dasar perancangan. Menurutnya, sebuah bangunan sebaiknya lahir dari pemahaman terhadap tempatnya, bukan semata-mata dari keinginan mengejar bentuk yang menarik.
Pendekatan tersebut relevan bagi Indonesia yang memiliki keragaman iklim, lanskap, tradisi, serta sumber daya bahan bangunan. Setiap daerah dapat menghadirkan karakter arsitektur yang berbeda apabila perancang benar-benar memahami konteks lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Material Dipilih Sesuai Kebutuhan Proyek
Kengo Kuma dikenal lewat banyak karya yang menggunakan kayu. Namun, ia menegaskan bahwa kayu bukan satu-satunya bahan yang digunakan dalam proyeknya. Material itu dapat dipadukan dengan besi, beton, dan bahan lain sesuai kebutuhan bangunan serta karakter lokasi.
“Menurut saya unsur kayu dalam suatu proyek dapat berkisar 10 persen atau belasan persen, sementara bagian lainnya memadukan besi, beton, dan berbagai material yang sesuai dengan lokasi.”
Pesan Kengo Kuma Arsitek Top Jepang ini menekankan bahwa pemilihan material tidak seharusnya hanya mengikuti tren. Setiap bahan memiliki fungsi, kekuatan, dan kesan tersendiri. Yang penting adalah bagaimana seluruh elemen tersebut disusun agar sesuai dengan fungsi ruang, aman digunakan, dan menyatu dengan lingkungan.
Dalam proyek hunian, bangunan publik, fasilitas pendidikan, maupun ruang anak, pertimbangan desain juga mencakup kenyamanan, daya tahan, serta keselamatan. Material lokal dapat menjadi bagian penting dari rancangan apabila penerapannya dilakukan dengan cermat, bukan sekadar sebagai hiasan visual.
Survei Lokasi Menentukan Arah Desain
Kuma menekankan pentingnya survei lokasi sebelum proses desain dimulai. Dengan mengamati tapak secara langsung, arsitek dapat memahami kondisi fisik dan sosial yang memengaruhi bangunan, termasuk cahaya, ruang luar, aktivitas warga, serta hubungan proyek dengan kawasan sekitarnya.
Penggunaan bahan yang tersedia di sekitar lokasi juga dapat membuat arsitektur terasa lebih dekat dengan alam dan masyarakat. Pendekatan ini diterapkan Kuma dalam proyek-proyeknya di Bali dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Budaya lokal, menurut gagasan tersebut, tidak perlu diwujudkan hanya melalui ornamen. Nilainya dapat hadir lewat cara ruang digunakan, susunan area bersama, keterhubungan bangunan dengan lanskap, hingga pemilihan material yang akrab dalam kehidupan masyarakat.
Belajar dari Dunia Tanpa Kehilangan Identitas
Arsitektur dari China, Eropa, dan Amerika dapat menjadi sumber pembelajaran bagi perancang Indonesia. Pertukaran gagasan lintas negara membuka peluang untuk memahami teknologi, metode kerja, dan kemungkinan baru dalam desain.
Namun, inspirasi global perlu diolah sesuai karakter tempat proyek dibangun. Kengo Kuma Arsitek Top Jepang menilai kreativitas perancang dan budaya setempat harus tetap menjadi pusat perhatian agar bangunan berkembang tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Bangunan yang mempertimbangkan konteks berpotensi lebih nyaman, mudah dipahami pengguna, dan relevan dengan keseharian. Nilai arsitektur tidak hanya terletak pada tampilan, melainkan pada kemampuannya membangun hubungan antara manusia, ruang, dan lingkungan.
Perhatian untuk Ruang Anak
Dalam pembahasan mengenai tempat penitipan anak, Kuma menaruh perhatian pada penggunaan bahan yang aman dan nyaman. Anak-anak berinteraksi langsung dengan lantai, dinding, furnitur, dan elemen permainan, sehingga desain perlu mempertimbangkan pengalaman mereka secara menyeluruh.
Ruang untuk anak bukan hanya perlu menarik secara visual, tetapi juga harus mendukung rasa aman, gerak, dan kegiatan sehari-hari. Prinsip ini memperlihatkan bahwa pilihan material berkaitan langsung dengan fungsi serta kualitas pengalaman pengguna bangunan.
FAQ
Apa pesan utama Kengo Kuma bagi arsitek Indonesia?
Arsitek perlu memulai desain dari pemahaman terhadap alam, material, budaya, dan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Apakah Kengo Kuma hanya menggunakan kayu?
Tidak. Kayu merupakan salah satu elemen dalam karyanya, tetapi dapat dipadukan dengan besi, beton, dan material lain sesuai kebutuhan lokasi serta fungsi bangunan.
Bagaimana budaya lokal dapat diterapkan dalam arsitektur?
Budaya lokal dapat hadir melalui penggunaan ruang, hubungan bangunan dengan lanskap, susunan area bersama, dan pilihan bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, tidak hanya lewat ornamen.

