Bisnis

Produksi Ikan dan Alga Dunia Tembus 235 Juta Ton – FAO Sebut Asia Kuasai 76 Persen Pasar Global

Produksi Ikan dan Alga Global Capai 235 Juta Ton, Asia Dominasi 76% Pasar Produksi Ikan dan Alga Dunia Tembus 235 - Menurut laporan terbaru Organisasi Pangan

Desk Bisnis
Published Juni 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Produksi Ikan dan Alga Global Capai 235 Juta Ton, Asia Dominasi 76% Pasar

Produksi Ikan dan Alga Dunia Tembus 235 – Menurut laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), produksi ikan dan alga dunia pada 2024 mencapai rekor sejarah sebesar 235 juta ton. Laporan tersebut, berjudul The State of World Fisheries and Aquaculture 2026, dirilis selama Konferensi Our Ocean di Mombasa, Kenya. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dari sektor kelautan dan perikanan, dengan kontribusi utama dari akuakultur yang menjadi pendorong utama ketahanan pangan global dalam dua dekade terakhir.

Pertumbuhan Akuakultur dan Peran Asia

Asia tidak hanya menguasai sebagian besar produksi ikan dan alga global, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam inovasi dan ekspansi sektor ini. Dalam 2024, kawasan Asia menyumbang sekitar 76 persen dari total produksi, mencapai 179 juta ton. Sebanyak 130 juta ton di antaranya berasal dari budidaya perikanan, yang terus meningkat secara signifikan. Data FAO menunjukkan bahwa sektor akuakultur Asia tumbuh rata-rata 5 persen setiap tahun, menggeser kekuasaan dari negara-negara lain di dunia.

Menurut laporan FAO, produksi ikan dan alga dunia telah mengalami peningkatan signifikan sejak 2000. Dalam dua dekade terakhir, volume produksi hewan perairan budidaya meningkat lebih dari dua kali lipat, mencapai 91,5 juta ton pada 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah, investasi dalam teknologi, dan permintaan pasar yang terus meningkat, terutama di negara-negara berkembang.

“Kepemimpinan Asia dalam produksi ikan dan alga dunia mencerminkan kombinasi inovasi, kebijakan yang berkelanjutan, dan akses pasar yang luas,” jelas Alue Dohong, Asisten Direktur Jenderal FAO untuk Asia dan Pasifik, dalam keterangan Tribun, Rabu (17/6/2026).

Sumber Daya dan Potensi Ekonomi

Produksi ikan dan alga dunia juga memperlihatkan keberlanjutan sumber daya alam dan penggunaan teknologi modern. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh menjadi pusat pengembangan akuakultur yang efisien dan berbasis lingkungan. Tiongkok, misalnya, mencatatkan 60 juta ton produksi hewan perairan, sementara India dan Indonesia juga menunjukkan kinerja yang membanggakan dalam peningkatan kapasitas budidaya.

FAO menyoroti bahwa sektor ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan di Asia, tetapi juga menawarkan peluang ekonomi yang besar. Produksi ikan dan alga dunia telah menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan peluang pasar global yang terus berkembang, Asia diharapkan tetap menjadi penggerak utama dalam industri pangan berbasis laut.

Analisis FAO menunjukkan bahwa produksi ikan dan alga dunia berkontribusi pada perekonomian sekitar 300 juta orang di kawasan Asia. Industri ini menyerap tenaga kerja dalam skala besar, termasuk pekerjaan di sektor pengolahan, distribusi, dan ekspor. Kredit sektor kelautan-perikanan mencapai Rp2,23 triliun di kuartal I 2026, yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ini.

Peran Asia dalam produksi ikan dan alga dunia juga memperlihatkan keberhasilan dalam mengatasi tantangan lingkungan. Kebijakan pengelolaan sumber daya perairan yang lebih baik, seperti penggunaan teknologi penghematan air dan bahan baku lokal, telah mendukung peningkatan produksi tanpa merusak ekosistem. FAO menekankan bahwa keberlanjutan sektor ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan laut.

Menyambut era perekonomian hijau, produksi ikan dan alga dunia diharapkan terus meningkat seiring peningkatan kesadaran akan keberlanjutan. Negara-negara Asia terus berinvestasi dalam riset dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi risiko kehabisan sumber daya, serta mengoptimalkan rantai pasok global. Dengan pertumbuhan yang stabil, sektor ini berpotensi menjadi tulang punggung ketahanan pangan dunia di masa depan.

Leave a Comment