Internasional

Hubungan Para Pemimpin Iran Diisukan Retak, Pezeshkian Sebut Komunikasi dengan Mojtaba Sangat Sulit

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka mengakui bahwa ia mengalami hambatan signifikan dalam berinteraksi dengan Mojtaba Khamenei. Pengakuan ini

Desk Internasional
Published Agustus 6, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : David Lopez - beritahitam.com
Table of Contents
  1. Isu Retaknya Hubungan Para Pemimpin Iran, Pezeshkian Akui Sulit Komunikasi
  2. Related Reading

Isu Retaknya Hubungan Para Pemimpin Iran, Pezeshkian Akui Sulit Komunikasi

Beritahitam.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka mengakui bahwa ia mengalami hambatan signifikan dalam berinteraksi dengan Mojtaba Khamenei. Pengakuan ini muncul di tengah berbagai laporan yang mengindikasikan adanya ketegangan di antara para pemimpin tertinggi Iran. Situasi politik di Teheran semakin kompleks seiring dengan meningkatnya tekanan dari luar negeri dan dinamika internal yang tidak menentu.

Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikenal sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam politik Iran. Ia merupakan korban dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari silam. Sejak peristiwa yang juga menewaskan ayahnya, sang presiden belum terlihat di khalayak ramai. Meskipun demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Mojtaba tetap menjadi figur krusial dalam strategi pembalasan Iran.

“Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya saat ini, tetapi bagaimanapun juga, kehadirannya merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi kami sehingga kami dapat melanjutkan,” ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip AFP.

Mojtaba Memilih Jalur Komunikasi Tertulis

Mojtaba Khamenei memilih jalur komunikasi tertulis sebagai sarana menyampaikan pesan. Sikapnya yang cenderung tertutup di tengah ketegangan Iran-Amerika Serikat memicu berbagai spekulasi mengenai dinamika hubungannya dengan pejabat tinggi lainnya. Salah satu indikasi paling jelas adalah ketidakhadirannya dalam upacara pemakaman sang ayah baru-baru ini.

Merespons hal tersebut, Pezeshkian membela Mojtaba dengan menyatakan bahwa pertemuan produktif telah mereka lakukan. Ia juga menyebutkan bahwa sambutan dari Mojtaba cukup baik serta respons yang diberikan sangat masuk akal. Namun, ia mengakui bahwa situasi saat ini memungkinkan beberapa orang yang berniat jahat untuk menggambarkannya secara berbeda dan menampilkan citra yang berbeda tentang dirinya.

Ultimatum dan Ancaman Mundur

Pernyataan Pezeshkian muncul bersamaan dengan klaim bahwa Mojtaba Khamenei telah memberikan “ultimatum terakhir” kepada sang presiden. Menurut laporan NDTV, Mojtaba dikabarkan memberikan dukungan penuh kepada Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, dalam berbagai keputusan strategis terkait negosiasi dan konflik.

Stasiun televisi Israel Channel 14, merujuk pada sumber-sumber yang memahami perkembangan di Iran, melaporkan bahwa Mojtaba secara efektif telah menurunkan pengaruh politik Pezeshkian. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sikap terbaru Khamenei menunjukkan keselarasan penuh dengan lembaga militer Iran, sehingga membatasi ruang gerak presiden dalam pembuatan kebijakan strategis.

Sebelumnya, Pezeshkian diduga telah berkali-kali menggunakan ancaman pengunduran diri sebagai respons atas perbedaan kebijakan dengan kepemimpinan Iran. Ia bahkan dikabarkan secara resmi berupaya mundur pada bulan Mei lalu dengan alasan bahwa pemerintahannya dikesampingkan dari pengambilan keputusan soal keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.

Pezeshkian Bantah Klaim Ancaman Mundur

Meskipun demikian, Pezeshkian menolak keras klaim bahwa ia berulang kali mengancam akan mengundurkan diri. Seperti dilansir Guardian, penolakan ini datang di tengah perselisihannya dengan faksi-faksi garis keras yang menentang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat mengenai Selat Hormuz.

Pertanyaan mengenai apakah presiden Iran tersebut benar-benar akan mundur menjadi sorotan publik. Fakta-fakta di balik kabar viral tersebut menunjukkan dinamika politik yang kompleks di Iran saat ini. Pezeshkian tetap berusaha mempertahankan posisinya sambil menghadapi berbagai tantangan dari dalam maupun luar negeri.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Situasi Politik Iran

Apa penyebab utama ketegangan antara Pezeshkian dan Mojtaba Khamenei? Ketegangan ini disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam pengambilan keputusan strategis, terutama terkait negosiasi dengan Amerika Serikat dan kebijakan luar negeri.

Apakah Pezeshkian benar-benar akan mengundurkan diri? Pezeshkian secara resmi membantah klaim bahwa ia akan mundur, meskipun ia pernah mencoba mundur pada bulan Mei lalu karena merasa pemerintahannya dikesampingkan.

Bagaimana Mojtaba Khamenei berkomunikasi saat ini? Mojtaba memilih jalur komunikasi tertulis sebagai sarana menyampaikan pesan, yang menunjukkan sikapnya yang cenderung tertutup.

Apa dampak ultimatum Mojtaba terhadap Pezeshkian? Ultimatum tersebut dianggap menurunkan pengaruh politik Pezeshkian dan membatasi ruang geraknya dalam pembuatan kebijakan strategis.

Bagaimana posisi Iran dalam konflik dengan AS-Israel? Iran menghadapi tekanan dari AS-Israel, terutama setelah serangan gabungan pada 28 Februari yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei, sebagai putra almarhum, kini menjadi figur kunci dalam strategi pembalasan Iran.

Leave a Comment