Ekspresi Kritik Terhadap Kebijakan Netanyahu: Perang Lawan Hizbullah Gagal Total, Tangan Pasukan Zionis Terikat
New Policy menjadi topik utama dalam kritik mantan Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Barak terhadap strategi pemerintah saat ini dalam perang melawan Hizbullah di Lebanon. Dalam tulisan opini di Hararetz, Barak menyebut bahwa kebijakan yang dijalankan selama beberapa bulan terakhir gagal memberikan hasil yang signifikan, sehingga memicu kekecewaan besar di kalangan militer dan rakyat Israel. Menurutnya, New Policy yang diterapkan oleh Netanyahu justru membuat pasukan Zionis “berjuang dengan tangan terikat” karena terlalu fokus pada aspek politik dibandingkan kemampuan operasional. Kritik ini muncul setelah sejumlah operasi yang sebelumnya dianggap sukses, seperti serangan rudal anti-tank dan penghancuran posisi Hizbullah, kini terlihat tidak lagi efektif dalam mengubah keadaan.
Analisis Kebijakan Militer di Bawah New Policy
Barak menyoroti bahwa New Policy yang diusung Netanyahu mengabaikan keamanan wilayah utara Israel, terutama dalam menghadapi ancaman drone dan rudal yang semakin berkembang. Meskipun pemerintah membanggakan keberhasilan menghentikan serangan, ia menegaskan bahwa perang terhadap Hizbullah justru mengalami kekalahan strategis, karena kekuatan militer Israel masih terjebak dalam siklus pertempuran yang tidak efisien. “Tangan pasukan Zionis terikat,” tulis Barak, yang menunjukkan ketidakmampuan mengadaptasi perang terhadap senjatasi yang semakin modern.
“Dalam perspektif PM, situasi di Lebanon bisa diringkas dalam satu kata: kegagalan. Dalam dua kata: kegagalan total,” tulis Barak dalam artikelnya.
Kritik tersebut menggambarkan bagaimana New Policy menjadi penentu kegagalan operasi militer, karena tidak mampu memberikan rencana jangka panjang untuk mengatasi ancaman dari Hizbullah. Barak menekankan bahwa kebijakan ini mengorbankan keamanan negara demi keuntungan politik, sehingga menghasilkan kesan tidak seimbang dalam upaya pertahanan.
Perkembangan Perang dan Strategi Hizbullah
Dalam konteks New Policy, Barak menyoroti bagaimana Hizbullah berhasil menyesuaikan diri dengan teknologi militer Israel, bahkan memanfaatkan kelemahan strategi tersebut untuk menyerang secara lebih efektif. Operasi yang sebelumnya dianggap menang, seperti pengeboman pager dan pembunuhan komandan utama Hizbullah, kini terlihat tidak lagi mengubah momentum perang. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan Sheikh Naim Qassem mengarahkan Hizbullah ke arah pertahanan yang lebih kuat, seiring keberhasilan dalam mengembangkan sistem serangan yang tak terduga.
Barak juga menunjukkan bahwa New Policy memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat sipil Israel. Korban yang terus mengalir sehari-hari, baik dalam bentuk kerusakan infrastruktur maupun kehilangan nyawa, menjadi bukti bahwa kebijakan tersebut tidak efektif dalam menjaga kestabilan negara. Selain itu, ia menyalahkan Netanyahu atas penegakkan kebijakan yang terkesan menyimpang dari prioritas utama keamanan, sehingga membuat situasi lebih rumit.
Dalam opini ini, Barak mengusulkan bahwa New Policy perlu direvisi guna memberikan fokus pada kemampuan militer Israel untuk menghadapi ancaman baru. Ia menegaskan bahwa kekalahan dalam pertempuran tidak hanya menunjukkan ketidakmampuan operasional, tetapi juga menunjukkan kegagalan dalam pengambilan keputusan politik yang seharusnya menjaga kedaulatan Israel. Kritik ini semakin menguatkan pandangan bahwa kebijakan Netanyahu dalam perang melawan Hizbullah adalah salah satu yang paling memalukan dalam sejarah keamanan negara tersebut.
“Kegagalan menghadapi ancaman drone adalah bukti bahwa New Policy tidak mampu mengubah dinamika perang yang sebelumnya dianggap telah dikuasai oleh Israel,” tegas Barak, menambahkan bahwa penyesuaian kebijakan harus segera dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar.
Analisis ini menyoroti pentingnya New Policy dalam konteks ketahanan militer Israel, di mana kesalahan kecil dalam strategi bisa berdampak besar pada hasil akhir. Dengan demikian, kritik yang dilontarkan Barak bukan hanya tentang kegagalan saat ini, tetapi juga tentang kurangnya persiapan dan adaptasi terhadap perubahan di medan perang.
