Nasional

Facing Challenges: Anggota DPR Ateng Sutisna Ingatkan Kenaikan Harga Pertamax Bisa Picu Tarif Ojol hingga Logistik Naik

Facing Challenges: Anggota DPR Ateng Sutisna Ingatkan Kenaikan Harga Pertamax Picu Kenaikan Tarif Ojol dan Sektor Logistik Facing Challenges - Jakarta

Desk Nasional
Published Juni 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Facing Challenges: Anggota DPR Ateng Sutisna Ingatkan Kenaikan Harga Pertamax Picu Kenaikan Tarif Ojol dan Sektor Logistik

Facing Challenges – Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Anggota Komisi XII DPR, Ateng Sutisna, memberikan peringatan terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax yang berpotensi memicu kenaikan tarif layanan transportasi umum dan industri logistik. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya memperhatikan dampak langsung kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi, tetapi juga harus memantau efek lanjutan yang bisa menyebar ke berbagai sektor perekonomian.

Ateng Sutisna menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green sulit dihindari karena dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski begitu, ia menekankan pentingnya pemerintah melakukan prediksi dampak jangka panjang setelah kenaikan harga tersebut berlaku. “Permasalahan utama bukan hanya angka inflasi, tetapi efek berantai yang bisa memengaruhi berbagai sektor ekonomi,” kata Ateng kepada media, Kamis (11/6/2026).

Dalam Focusing Challenges, Ateng Sutisna menyebutkan bahwa sektor transportasi dan logistik menjadi rentan terhadap kenaikan harga BBM. Pertamax, sebagai bahan bakar utama, menyumbang hingga 30-40% dari total pengeluaran perusahaan transportasi. Kenaikan biaya operasional berpotensi memaksa perusahaan menyesuaikan tarif jasa kepada pengguna. “Biaya operasional yang meningkat bisa diteruskan ke konsumen melalui kenaikan tarif,” jelasnya.

Menurut Ateng, perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite akibat perbedaan harga juga bisa memicu tekanan pada sistem distribusi BBM nasional. Saat ini, Pertamax dijual seharga Rp16.250 per liter, sementara Pertalite berkisar di Rp10.000 per liter. Selisih harga mencapai Rp6.250 per liter dinilai cukup signifikan untuk mendorong perubahan pola konsumsi. Dalam Focusing Challenges, ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu mempersiapkan strategi penyesuaian pasokan BBM agar tidak terjadi gangguan dalam rantai distribusi.

Strategi Penyesuaian Pasokan BBM

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax, bisa menyebabkan ketimpangan dalam distribusi bahan bakar nasional. Kuota BBM yang biasanya disusun berdasarkan pola konsumsi biasa berisiko habis lebih cepat jika terjadi perpindahan massal ke Pertalite. “Ini memicu Facing Challenges di sistem logistik, karena kebutuhan bahan bakar menjadi lebih intensif,” tambah Ateng.

Ateng juga menyoroti bahwa kenaikan harga Pertamax berdampak pada tarif ojol dan biaya kebutuhan sehari-hari masyarakat. Jika biaya operasional perusahaan transportasi meningkat, tarif layanan akan naik, sehingga pengguna harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk pengangkutan. Dalam Focusing Challenges, ia menekankan pentingnya pemerintah memantau dinamika harga BBM untuk mencegah kenaikan tarif yang berlebihan.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, juga bisa memengaruhi sektor logistik yang bergantung pada kestabilan pasokan. Perusahaan logistik, terutama yang beroperasi di kota-kota besar, mengalami kenaikan biaya bahan bakar yang signifikan. “Ini mengancam ketersediaan barang di pasar,” kata Ateng. Ia menyarankan pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menjaga keseimbangan antara harga BBM dan daya beli masyarakat.

Analisis Ketergantungan Ekonomi pada BBM

Kenaikan harga Pertamax mencerminkan Focusing Challenges dalam ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap BBM nonsubsidi. Sebagai sumber energi utama, BBM memengaruhi hampir semua sektor. Kenaikan biaya operasional di bidang transportasi dan logistik berpotensi mengalir ke sektor lain seperti ritel dan industri, sehingga memperburuk kondisi inflasi secara keseluruhan.

Ateng Sutisna menambahkan bahwa perubahan harga BBM harus diimbangi dengan kebijakan subsidi yang bijak. “Focusing Challenges ini membutuhkan keterpaduan antara harga pasar dan subsidi pemerintah agar tidak mengganggu daya beli masyarakat,” jelasnya. Ia juga menyoroti pentingnya pemerintah mengadakan survei lebih lanjut terkait respons konsumen terhadap kenaikan harga Pertamax, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Kenaikan harga Pertamax bukan hanya Focusing Challenges ekonomi, tetapi juga tantangan sosial. Biaya hidup yang meningkat bisa memengaruhi akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, terutama bagi keluarga miskin. Ateng meminta pemerintah memperhatikan dampak ini secara lebih intensif, terutama dalam konteks penguatan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Leave a Comment