Hermawan Sulistyo: Jejak Racun Arsenik atau Sianida Mudah Hilang Jika Sutrimo Dibunuh
Beritahitam.com – Kasus kematian Sutrimo masih menyisakan pertanyaan hingga saat ini. Lima belas hari telah berlalu sejak pria yang merupakan eks pegawai di rumah mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Penemuannya terjadi di depan sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis, 23 Juli 2026.
Setelah dievakuasi ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, kondisi sang korban dinyatakan meninggal dunia. Informasi mengenai kematiannya baru menyebar luas tiga hari kemudian, tepatnya pada Minggu, 26 Juli 2026, melalui pesan berantai di WhatsApp dan media sosial. Dalam foto yang beredar, terlihat Sutrimo ditemukan dengan mulut berbusa dan tubuhnya diselimuti kain berwarna biru.
Analisis Prof Hermawan Sulistyo
Guru Besar Universitas Bhayangkara, Prof Hermawan Sulistyo, menilai bahwa polisi mungkin terlalu berhati-hati dalam menangani kasus ini. Ia menduga adanya “faktor X” yang membuat petugas bertindak lambat, mengingat kediaman pejabat tersebut dijaga oleh tentara.
“Tindakan itu kurang cepat karena pada faktor X lah. Saya bayangkan itu rumah juga dijaga oleh tentara. Rumah pejabat sangat tinggi. Polisi pasti sangat hati-hati,” kata dia, Rabu (5/8/2026) dikutip dari Kompas.TV.
Hermawan menjelaskan bahwa jika kematian disebabkan oleh racun gas seperti arsenik atau sianida, jejak racun tersebut akan menghilang dalam waktu beberapa jam. Oleh karena itu, keterlambatan dalam melakukan ekshumasi atau autopsi dapat membuat residu racun menjadi tipis dan sulit dideteksi.
“Problemnya adalah kalau hati-hati, kalau dia memang dibunuh dengan racun maka arsenikum atau sianida, dua racun yang sangat efektif itu, itu gas dalam waktu beberapa jam hilang,” tegasnya.
Ekshumasi merupakan proses penggalian kembali makam seseorang yang telah dikuburkan untuk diperiksa melalui ilmu kedokteran forensik. Tindakan ini dilakukan oleh pihak berwenang demi mewujudkan keadilan hukum. Hermawan menambahkan bahwa karena sudah seminggu berlalu, akan sangat sulit menghubungkan kasus ini dengan racun jika ekshumasi dilakukan nanti.
“Apalagi ini sudah seminggu, jadi sangat sulit menghubungkan nanti kalau itu diracun. Kita tunggu saja hasil ekshumasinya. Kalau jadi dilakukan, tidak boleh ditunda lagi,” ujarnya.
Tempat penemuan jenazah, yaitu Klinik Mordent Aesthetic Clinic di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dinilai tampak sudah lama tidak beroperasi berdasarkan tangkapan layar peta digital.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Hermawan Sulistyo?
Hermawan Sulistyo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Hermawan Sulistyo matter?
Hermawan Sulistyo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
