Nasional

Manipulasi Foto AI untuk Jualan Makanan Bisa Langgar Maqashid Syariah, Berikut Penjelasannya

KONTROVERSI-KULINER-AI-Ilustrasi-pro-kontra-penggunaan-foto-AI-untuk-promosi-makanan

Penggunaan Foto AI untuk Promosi Makanan Perlu Dijaga Kejujurannya

Beritahitam.com – Visual makanan yang dibuat dengan kecerdasan buatan kini semakin mudah dipakai oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Gambar yang tampak menggugah selera dapat membantu promosi, mempercepat pembuatan materi pemasaran, serta menarik perhatian calon pembeli. Namun, pemakaian teknologi tersebut tetap memerlukan batas etis agar iklan tidak membangun harapan yang jauh berbeda dari produk yang benar-benar diterima konsumen.

Dalam pandangan Islam, persoalan ini berkaitan dengan Maqashid Syariah, yaitu tujuan-tujuan syariat yang menjaga kemaslahatan manusia. Pada promosi kuliner, kejujuran pedagang dan perlindungan pembeli menjadi bagian penting yang tidak boleh dikalahkan oleh keinginan memperindah tampilan produk.

Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I., M.H., Ketua PW IKADI DIY atau Ikatan Dai Indonesia DI Yogyakarta, membahas isu tersebut dalam program OASE pada Jumat, 2 Oktober 2026. Tokoh yang dikenal sebagai Ustaz Abdullah Sunono itu menguraikan risiko penggunaan gambar AI yang tidak selaras dengan kondisi nyata makanan yang dijual.

Hifzul Mal dan hak pembeli atas informasi yang jujur

Salah satu prinsip yang relevan ialah hifzul mal, yakni perlindungan terhadap harta. Dalam praktik jual beli makanan, konsumen mengeluarkan uang dengan mempertimbangkan informasi yang mereka lihat, termasuk foto, ukuran porsi, kualitas bahan, dan penyajian produk. Karena itu, gambar promosi memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian.

Masalah muncul ketika foto hasil AI dibuat terlalu berlebihan. Misalnya, tampilan porsi terlihat jauh lebih besar, bahan makanan tampak lebih melimpah, atau kualitas sajian digambarkan jauh melampaui produk yang sebenarnya. Perbedaan seperti itu dapat mendorong orang membeli atas dasar ekspektasi yang keliru.

“Kalau foto AI-nya itu dimanipulasi, ada jarak yang sangat jauh antara barang yang diterima dengan promosi makanan yang ditawarkan. Itu maksudnya sudah tadlis (penipuan), sehingga konsumen rugi dalam mengeluarkan hartanya karena realisasi fisiknya, baik kualitas, ukuran, bentuk, hingga rasanya, jadi berbeda,” ungkap Ustaz Abdullah Sunono dalam program OASE.

Tadlis merujuk pada tindakan menyembunyikan atau mengaburkan keadaan barang sehingga pihak lain mengambil keputusan tanpa informasi yang benar. Dalam konteks promosi digital, persoalan ini tidak terbatas pada kata-kata iklan. Visual yang memberi kesan tidak sesuai kenyataan juga dapat menjadi bagian dari praktik yang merugikan pembeli.

Kejujuran bukan berarti pelaku usaha dilarang memakai teknologi AI. Ilustrasi digital tetap dapat digunakan apabila fungsinya jelas, wajar, dan tidak mengubah karakter utama produk secara menyesatkan. Keterangan yang terbuka mengenai gambar ilustratif, variasi tampilan, atau kemungkinan perbedaan penyajian dapat membantu konsumen memahami apa yang ditawarkan.

Visual menarik harus sejalan dengan produk nyata

Bagi UMKM, materi promosi yang baik tidak selalu harus dibuat dengan biaya besar. AI dapat menjadi alat untuk membantu menyusun konsep desain, latar gambar, atau materi kampanye. Namun, produk utama tetap perlu ditampilkan secara proporsional. Foto makanan yang mendekati kondisi sebenarnya akan membangun kepercayaan pembeli dalam jangka panjang.

Pelaku usaha dapat memeriksa kembali beberapa hal sebelum mengunggah materi promosi: apakah ukuran produk dalam gambar sesuai dengan porsi jualan, apakah topping atau pelengkap memang tersedia, apakah warna dan tekstur makanan masih masuk akal, serta apakah harga yang dicantumkan sesuai dengan produk pada visual. Langkah sederhana ini penting agar kreativitas pemasaran tidak berubah menjadi janji yang sulit dipenuhi.

Pembeli pun dapat bersikap lebih cermat saat melihat promosi makanan di internet. Mereka dapat membaca deskripsi produk, mengecek pilihan ukuran atau varian, serta memperhatikan ulasan pelanggan bila tersedia. Sikap teliti membantu mengurangi kekecewaan, tetapi tanggung jawab utama untuk menghadirkan iklan yang jujur tetap berada pada penjual.

Hifzun nafs, privasi, dan dampak psikologis

Pembahasan etika AI dalam promosi tidak berhenti pada urusan uang. Ustaz Abdullah Sunono juga menyoroti hifzun nafs, yang dalam cakupan luas berkaitan dengan perlindungan jiwa, kehormatan, dan kondisi psikologis. Manipulasi visual dapat membawa persoalan lain, termasuk penggunaan gambar tanpa izin, pelanggaran hak cipta, serta pemanfaatan aset digital milik pihak lain secara tidak patut.

Materi promosi berbasis AI perlu dibuat dengan perhatian terhadap asal-usul aset visual. Pemakaian foto, wajah, karya desain, atau identitas pihak lain tanpa hak dapat memicu masalah etis dan merugikan pemiliknya. Selain itu, visual yang terlalu sempurna atau tidak realistis dapat membentuk standar yang keliru di tengah masyarakat.

Dalam dunia kuliner, dampaknya mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman pembeli tetap penting. Ketika makanan yang datang sangat berbeda dari gambar, rasa kecewa dapat memengaruhi kepercayaan terhadap usaha tersebut. Sebaliknya, promosi yang terbuka membuat hubungan antara penjual dan pelanggan lebih sehat.

Teknologi sebagai alat, bukan alasan untuk mengabaikan etika

Kecerdasan buatan dapat memberi manfaat bagi pelaku usaha, terutama dalam menghasilkan materi pemasaran secara cepat dan efisien. Nilai positif itu akan lebih kuat jika disertai tanggung jawab. Kreativitas visual sebaiknya dipakai untuk menjelaskan keunggulan produk, bukan untuk menutupi kekurangannya atau menciptakan gambaran yang tidak mungkin diwujudkan.

Prinsip Maqashid Syariah menempatkan perlindungan harta, kehormatan, dan kemaslahatan sebagai pertimbangan dalam aktivitas ekonomi. Bagi penjual makanan, penerapannya dapat dimulai dari hal yang sangat praktis: menyajikan informasi yang jujur, menghormati hak digital pihak lain, serta memastikan foto promosi tidak menipu calon pembeli.

Dengan pendekatan tersebut, penggunaan AI tidak hanya menjadi sarana mempercantik iklan. Teknologi dapat membantu UMKM berkembang sambil tetap menjaga amanah dalam perdagangan, melindungi hak konsumen, dan memelihara integritas pelaku usaha Muslim.

Frequently Asked Questions

What is Manipulasi Foto AI untuk Jualan Makanan?

Manipulasi Foto AI untuk Jualan Makanan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Manipulasi Foto AI untuk Jualan Makanan matter?

Manipulasi Foto AI untuk Jualan Makanan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *