Nasional

Natalius Pigai Usulkan Sipil Bisa Jadi Pejabat Utama Polri – Anggota DPR: Tidak Relevan

jabat Utama Polri Natalius Pigai Usulkan Sipil Bisa Jadi - Natalius Pigai, Menteri HAM, telah mengajukan rencana untuk mengizinkan warga sipil profesional

Desk Nasional
Published Juni 5, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Natalius Pigai Usulan Sipil Bisa Jadi Pejabat Utama Polri

Natalius Pigai Usulkan Sipil Bisa Jadi – Natalius Pigai, Menteri HAM, telah mengajukan rencana untuk mengizinkan warga sipil profesional menjabat sebagai Pejabat Utama (PJU) di Polri. Ini menjadi isu kontroversial dalam dunia keamanan nasional, dengan beberapa anggota DPR mempertanyakan relevansi usulan tersebut. Usulan Pigai menyatakan bahwa sipil bisa ditempatkan dalam jabatan utama polri, termasuk manajemen SDM, keuangan, dan transformasi digital, yang sebelumnya dipegang oleh anggota polri.

Debat atas Revisi UU Polri

Menteri HAM Natalius Pigai mengatakan bahwa pemberdayaan sipil dalam posisi kepemimpinan di Polri bisa meningkatkan efisiensi dan keberagaman dalam pengelolaan institusi. Menurutnya, jabatan seperti Pejabat Utama Madya dan Eselon I tidak harus diisi oleh anggota polri eksklusif, asalkan mereka memiliki kompetensi dan pengalaman yang sesuai. “Sipil bisa menjadi bagian dari kekuatan Polri, terutama dalam fungsional yang membutuhkan keahlian teknis,” terang Pigai.

Usulan ini berada dalam ranah revisi Undang-Undang Polri (UU No. 2 Tahun 2002). Kalau disahkan, polri akan memiliki pengelolaan jabatan yang lebih fleksibel, dengan peluang untuk menempatkan sipil dalam posisi strategis. Namun, kritikus seperti Rudianto Lallo menyatakan bahwa kepolisian perlu terus dikendalikan oleh anggota yang memahami seluk-beluk tugas institusi tersebut.

Rudianto Lallo, anggota Komisi III DPR, menilai bahwa peran Polri sebagai alat negara yang diberikan oleh Presiden dalam Pasal 30 UUD 1945 mengharuskan jabatan utama diisi oleh pejabat yang memiliki pengalaman langsung dalam operasi kepolisian. “Jabatan utama di Polri adalah tanggung jawab besar yang seharusnya dipegang oleh anggota polri yang telah melalui pendidikan berjenjang,” ujar Rudianto.

Perbedaan Pandangan Pembentukan PJU

Kritik terhadap usulan Natalius Pigai mencuat karena beberapa peneliti menyatakan bahwa reformasi seperti ini bisa memicu pengurangan keterlibatan polri dalam fungsi utama mereka. Selain itu, penggunaan kata “sipil” dalam konteks jabatan utama polri dianggap mengabaikan kompetensi spesifik yang dibutuhkan oleh institusi keamanan. “Penegakan hukum membutuhkan pemahaman mendalam tentang prosedur dan semangat kepolisian,” kata Rudianto.

Pigai mengakui bahwa beberapa jabatan utama di Polri mungkin kurang relevan untuk diisi oleh anggota polri yang tidak memiliki latar belakang teknis. Ia juga menekankan bahwa peran sipil dalam kepemimpinan polri bisa mengurangi ketergantungan pada jajaran polri yang terlalu berbasis pengalaman. “Sipil profesional dapat memberikan perspektif baru, terutama dalam manajemen dan transformasi digital,” ujar Pigai.

Di sisi lain, ada pihak yang mendukung rencana Pigai, termasuk kalangan akademisi dan organisasi profesi. Mereka menilai bahwa keberagaman dalam struktur kepemimpinan polri bisa meningkatkan kinerja dan efektivitas institusi. “Sipil bisa menjadi sumber inovasi, terutama dalam bidang administrasi dan teknologi,” kata salah satu pengamat kepolisian.

Menurut analisis, pergeseran dari anggota polri ke sipil dalam jabatan utama bisa memperkuat sistem pemerintahan dan mengurangi potensi konflik kepentingan. Namun, keberhasilan ini bergantung pada kualifikasi sipil yang dipilih serta kesesuaian dengan fungsi Polri sebagai alat negara. “Usulan Pigai perlu dievaluasi dengan saksama, karena bisa berdampak pada struktur kekuasaan dan kinerja polri di masa depan,” tambah seorang ahli hukum.

Leave a Comment