Nasional

Nyala Lilin dan Doa di Bundaran HI: Asa Insan Pers Menanti Kabar Baik dari Selat Sunda

Ratusan-insan-pers-menggelar-doa-bersama-bagi-keselamatan-dan-kabar-baik-rombongan-jurnalis

Lilin dan Doa Mengiringi Harapan bagi Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda

Beritahitam.com – Ratusan pekerja media berkumpul dalam suasana sunyi di area belakang Pos Polisi Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Jumat malam, 11 September 2026. Mengenakan pakaian hitam, mereka datang dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya untuk menyatukan harapan bagi rombongan jurnalis yang hilang kontak saat menuju perairan Gunung Anak Krakatau.

Tak ada seruan keras yang mendominasi pertemuan tersebut. Kesedihan dan kecemasan justru disampaikan melalui doa bersama, poster, serta nyala lilin yang dijaga oleh para peserta di tengah angin malam ibu kota. Aksi itu menjadi wujud solidaritas bagi delapan orang yang belum ditemukan setelah berangkat untuk melakukan peliputan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Pesan untuk Terus Melanjutkan Pencarian

Sejumlah poster menampilkan wajah para jurnalis yang masih dicari. Pesan-pesan yang dibawa peserta menekankan keinginan agar upaya pencarian tetap berjalan dan para korban tidak dilupakan. Kalimat seperti “Terus berharap, bawa mereka pulang” serta “Jangan hentikan pencarian, jangan biarkan mereka dilupakan” mencerminkan kegelisahan sekaligus optimisme yang dipertahankan oleh rekan-rekan seprofesi.

Satu demi satu lilin dinyalakan. Cahaya kecil berwarna keemasan itu menerangi trotoar yang remang dan menjadi lambang harapan agar kabar baik segera datang dari tim pencarian dan pertolongan. Dalam keheningan, para jurnalis yang hadir memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing untuk keselamatan rombongan di Selat Sunda.

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI), Dwi Pambudo atau Dido, menyebut dukungan moral dari masyarakat dan sesama insan pers memiliki arti penting bagi keluarga serta rekan-rekan yang menunggu perkembangan pencarian.

“Soliditas ini secara tidak langsung menjadi suatu budaya bagi masyarakat Indonesia. Bahwa yang kita butuhkan dari PFI atau teman – teman jurnalis itu adalah doa dan dukungan, doa moral,” kata Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo (Dido) di lokasi.

Dido juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terus terlibat dalam pencarian. Operasi tersebut melibatkan Basarnas, Polri, TNI, serta pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Harapan terbesar para peserta aksi adalah ditemukannya petunjuk yang dapat membawa proses pencarian menuju titik terang.

“Kami juga berterima kasih kepada semua tim gabungan melalui Basarnas, Polri dan TNI beserta pemerintah provinsi dan pemerintah pusat yang selama ini telah mengembangkan pencarian. Dan semoga ada titik terang,” katanya.

Perjalanan Menuju Anak Krakatau

Delapan orang itu meninggalkan Dermaga Pagedongan di Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dengan tujuan kawasan Gunung Anak Krakatau.

Sebelum komunikasi terputus, masih ada informasi yang diterima oleh orang-orang terdekat rombongan. Sekitar 42 menit setelah keberangkatan, M. Bagus Khoirunnas sempat mengirimkan lokasi kepada rekannya. Kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB, Heriyanto masih berkomunikasi dengan keluarganya dan menyampaikan bahwa keadaan rombongan dalam kondisi aman.

Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian waktu terakhir yang diketahui sebelum kontak dengan rombongan hilang. Bagi keluarga, kolega, dan komunitas pers, setiap perkembangan pencarian memiliki arti besar karena dapat membantu memperjelas keberadaan mereka.

Solidaritas bagi Rekan Seprofesi

Pertemuan di Bundaran HI memperlihatkan bahwa pekerjaan jurnalistik kerap dijalankan dalam situasi yang penuh tantangan. Peliputan di kawasan perairan dan di sekitar aktivitas vulkanik membutuhkan kesiapan, namun risiko di lapangan tetap dapat muncul. Karena itu, dukungan publik terhadap proses pencarian dipandang sebagai bentuk kepedulian yang nyata bagi para jurnalis dan keluarga mereka.

Di tengah kepedihan yang terasa, nyala lilin di tangan para peserta juga membawa pesan bahwa harapan belum padam. Mereka memilih berkumpul bukan sekadar untuk mengenang, melainkan untuk menjaga perhatian terhadap delapan orang yang masih dicari dan untuk memperkuat doa bagi keselamatan mereka.

Para insan pers yang hadir meninggalkan Bundaran HI dengan harapan yang sama: pencarian terus diperluas, kabar baik segera diterima, dan delapan anggota rombongan dapat ditemukan serta dibawa pulang.

Frequently Asked Questions

What is Nyala Lilin dan Doa di Bundaran?

Nyala Lilin dan Doa di Bundaran is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Nyala Lilin dan Doa di Bundaran matter?

Nyala Lilin dan Doa di Bundaran matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *