Momen Gibran dan Dasco di HUT PAN Dinilai Cerminkan Soliditas Politik
Beritahitam.com – Kebersamaan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Achmad menjadi salah satu perhatian dalam puncak peringatan ulang tahun ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta Convention Center, Jumat, 18 September 2026. Keduanya terlihat berjalan berdampingan dalam agenda yang turut mempertemukan berbagai tokoh politik nasional tersebut.
Ketua Umum Relawan Jokowi untuk Prabowo-Gibran (ReJO), Darmizal MS, memandang peristiwa itu sebagai gambaran komunikasi yang hangat antara unsur eksekutif dan legislatif. Baginya, adegan sederhana tersebut memiliki arti lebih luas di tengah beredarnya perbincangan publik mengenai hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran.
“Bagi saya, ini bukan sekadar sebuah momen kebersamaan. Wapres Gibran dan Prof. Dasco berjalan bersama dengan penuh kehangatan. Di tengah derasnya berbagai isu tentang seolah-olah adanya keretakan antara Prabowo dan Gibran, masyarakat justru diperlihatkan sebuah suasana komunikasi yang cair dan positif,” ujar Darmizal dalam keterangannya, Sabtu.
Komunikasi Antarlembaga Jadi Sorotan
Darmizal menilai kebersamaan Gibran dan Dasco dapat dibaca sebagai isyarat pentingnya sinergi antarlembaga negara. Pemerintahan membutuhkan kerja sama yang sehat dengan parlemen agar agenda pembangunan, pembentukan kebijakan, pengawasan, dan pelaksanaan demokrasi dapat berlangsung dalam jalur yang semestinya.
Dalam sistem ketatanegaraan, eksekutif dan legislatif memang memiliki fungsi berbeda. Pemerintah menjalankan pemerintahan, sementara DPR menjalankan peran legislasi, anggaran, serta pengawasan. Perbedaan pandangan dalam proses politik tidak otomatis menunjukkan adanya konflik. Dinamika seperti itu justru dapat menjadi bagian dari mekanisme demokrasi selama berlangsung terbuka, bertanggung jawab, dan berpijak pada aturan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak cepat menyimpulkan adanya keretakan hanya karena potongan peristiwa, unggahan singkat, atau narasi yang ramai di media sosial. Informasi politik, terutama yang tersebar cepat melalui ruang digital, perlu disikapi dengan penilaian yang lebih cermat.
“Jangan setiap perbedaan dianggap pertengkaran. Jangan setiap dinamika politik dianggap keretakan. Dan jangan membangun kesimpulan besar hanya dari potongan video atau narasi yang belum teruji,” tegasnya.
Pengawalan Pemerintahan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Darmizal juga menekankan bahwa mandat Prabowo-Gibran lahir melalui mekanisme konstitusional. Karena itu, pengawalan terhadap pemerintahan tidak hanya menjadi urusan kelompok politik tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara.
Dukungan kepada pemerintah, dalam pandangannya, tidak identik dengan membenarkan seluruh kebijakan tanpa kritik. Pengawalan publik justru berarti memastikan penyelenggaraan negara tetap berpegang pada Undang-Undang Dasar 1945, hukum, demokrasi, dan kepentingan rakyat. Sikap kritis yang berbasis fakta dapat berjalan seiring dengan komitmen menjaga stabilitas nasional.
“Prabowo-Gibran memperoleh mandat melalui mekanisme konstitusional. Karena itu, kepemimpinan nasional ini harus dikawal oleh seluruh rakyat Indonesia. Dikawal bukan berarti membenarkan semua hal, tetapi memastikan pemerintahan berjalan sesuai UUD 1945, hukum, demokrasi dan kepentingan rakyat,” katanya.
Pesan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari kesinambungan demokrasi. Setiap pemilu menghasilkan mandat baru yang harus dijaga melalui partisipasi warga, pengawasan publik, serta penghormatan terhadap tata aturan yang berlaku. Ruang kritik tetap diperlukan, tetapi perlu dibedakan dari tuduhan yang belum memiliki dasar jelas.
Waspadai Hoaks dan Polarisasi Digital
Perkembangan teknologi informasi membuat berbagai kabar dapat menjangkau masyarakat hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini memberi manfaat besar, namun juga membuka ruang bagi informasi yang belum diverifikasi, opini yang disajikan sebagai fakta, hingga provokasi yang memanfaatkan sentimen politik.
Darmizal mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan politik identitas maupun hoaks memecah persatuan. Perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam negara demokratis, tetapi perbedaan itu tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan atau mengalahkan kepentingan bersama sebagai bangsa.
“Kita boleh berbeda pilihan, tetapi kita tidak boleh berbeda dalam menjaga Indonesia. Oleh karna itu, jangan biarkan politik identitas dan hoaks memecah bangsa,” ujar Darmizal.
Ia meminta publik membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum bereaksi atau membagikannya kembali. Pembaca perlu membedakan fakta, pendapat, kritik, dugaan, dan kabar yang belum terkonfirmasi. Langkah sederhana seperti membaca informasi secara utuh, memperhatikan konteks, serta tidak terpancing judul atau potongan video dapat membantu meredam penyebaran narasi yang menyesatkan.
“Rakyat harus cerdas. Bedakan fakta, opini, kritik, dugaan dan informasi yang belum terverifikasi. Jangan mudah marah, jangan mudah terprovokasi dan jangan pula ikut menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya,” katanya.
Momen Gibran dan Dasco berjalan bersama di acara PAN pada akhirnya dipandang Darmizal sebagai pengingat bahwa komunikasi, kerukunan, dan soliditas tetap dibutuhkan dalam kehidupan politik. Perbedaan peran maupun pandangan antartokoh tidak perlu selalu diterjemahkan sebagai pertentangan, selama kepentingan bangsa, konstitusi, dan demokrasi menjadi pijakan utama.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Soroti Gibran dan Dasco Jalan Beriringan?
Soroti Gibran dan Dasco Jalan Beriringan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Soroti Gibran dan Dasco Jalan Beriringan matter?
Soroti Gibran dan Dasco Jalan Beriringan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

