Kompor Biomassa Buka Pilihan Energi dan Usaha bagi Warga di Sorong
Beritahitam.com – Keterbatasan akses minyak tanah masih menjadi tantangan bagi sebagian warga di kawasan transmigrasi Klamono Segun dan wilayah sekitarnya di Kabupaten Sorong, Papua Selatan. Di tengah kondisi tersebut, penggunaan kompor biomassa diperkenalkan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan memasak sekaligus mendukung penguatan ekonomi masyarakat.
Inisiatif ini dijalankan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya. Kompor yang dikenalkan memanfaatkan bahan bakar yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, seperti kayu, arang, serbuk gergaji, hingga batok kelapa. Ketersediaan bahan bakar lokal menjadi salah satu pertimbangan penting karena warga tidak selalu dapat memperoleh minyak tanah maupun gas dengan mudah.
Alternatif bagi kebutuhan dapur sehari-hari
Kompor biomassa dirancang untuk memakai material organik sebagai sumber panas. Pemanfaatannya dipandang dapat mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap minyak tanah, terutama di wilayah yang distribusi energinya belum merata. Selain itu, alat tersebut disebut lebih hemat energi, lebih ramah terhadap lingkungan, dan mampu memberikan panas yang relatif stabil.
Manfaat kompor ini tidak berhenti pada urusan memasak di rumah. TEP Universitas Brawijaya melihatnya sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas: warga dapat memanfaatkan sumber daya sekitar untuk menjalankan usaha pengolahan pangan, sehingga pilihan energi yang tersedia ikut menopang kegiatan produktif.
Anggota TEP Universitas Brawijaya, Yogi, menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan bersamaan dengan pembagian unit kompor dalam jumlah terbatas. Warga lokal serta transmigran yang siap mengikuti pelatihan atau telah menjalankan usaha menjadi kelompok yang diprioritaskan.
“Selanjutnya, kami tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga membagikan unit kompor biomassa secara terbatas dengan prioritas bagi warga lokal dan transmigran yang bersedia dilatih atau sudah memiliki wirausaha,” ujar Yogi dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Kamis (10/9/2026).
Pelatihan menjadi unsur penting dalam program tersebut. Dengan pemahaman mengenai penggunaan kompor dan pengelolaan bahan bakar, warga diharapkan dapat memakai teknologi ini secara lebih aman dan konsisten. Pendekatan itu juga memberi ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya menerima bantuan alat, tetapi turut mengembangkan pemanfaatannya sesuai kebutuhan setempat.
Pengolahan talas dan pisang untuk nilai tambah
Dalam kegiatan yang sama, warga mendapat pendampingan untuk mengolah talas serta pisang menjadi keripik bernilai jual. Produk pangan olahan tersebut dapat menjadi pilihan tambahan bagi keluarga yang ingin mengembangkan usaha skala kecil. Ketersediaan kompor biomassa mendukung proses produksi, sedangkan pengolahan bahan pangan lokal membuka peluang nilai tambah dari komoditas yang ada.
Pelaku UMKM bernama Ulike menyambut positif pengadaan kompor tersebut. Ia menggambarkan bahwa akses bahan bakar dapat menjadi persoalan bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas, meskipun gas tersedia bagi sebagian pihak.
“Luar biasa. Kami yang ada di Sorong kebanyakan kalau untuk bahan bakar kadang ada kendala. Ada juga gas, tapi gas terbatas. Ada orang-orang di atas yang bisa jangkau, tapi masyarakat ke bawah terkadang sulit. Jadi, pengadaan kompor ini bagi saya sangat baik dan sangat bagus. Saya percaya akan sangat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah,” ujar pelaku UMKM, Ulike.
Program TEP Universitas Brawijaya telah berlangsung di empat lokasi dan menjangkau puluhan orang, termasuk warga lokal di Distrik Klasafet. Hasil inovasi kompor biomassa serta produk olahan masyarakat juga telah diperkenalkan dalam dua pameran UMKM daerah di Kabupaten Sorong. Kehadiran dalam pameran memberi kesempatan bagi produk warga untuk dikenal lebih luas sekaligus menguji minat pasar terhadap hasil usaha mereka.
Rintisan kios untuk distribusi dan pemasaran
Keberlanjutan program turut disiapkan melalui rintisan kios hilirisasi yang dibangun bersama masyarakat setempat. Kios tersebut direncanakan menjadi titik distribusi kompor biomassa dan akses air bersih. Selain itu, fasilitas ini akan digunakan untuk menampung produk olahan warga sebelum dipasarkan, baik ke konsumen lokal maupun pasar di kawasan perkotaan.
Model kios itu dapat menghubungkan beberapa kebutuhan sekaligus: akses terhadap peralatan energi, pelayanan dasar berupa air bersih, serta jalur pemasaran bagi usaha warga. Dengan demikian, manfaat program tidak semata terletak pada pembagian kompor, melainkan juga pada upaya membangun ekosistem kegiatan ekonomi yang dapat dijalankan masyarakat.
Gagasan penguatan energi lokal dan kewirausahaan masyarakat sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto tentang swasembada energi nasional yang juga menjangkau wilayah perdesaan. Pemanfaatan sumber daya setempat dipandang perlu berjalan bersama perlindungan lingkungan dan penciptaan kesempatan kerja.
“Sumber daya alam harus kita olah menjadi nilai tambah dan pekerjaan. Tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan,” kata AHY.
Pernyataan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut menekankan perlunya keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks kompor biomassa, penggunaan bahan yang tersedia di sekitar warga dapat menjadi salah satu contoh pemanfaatan sumber daya dengan nilai praktis bagi kehidupan sehari-hari.
Program ini juga berkaitan dengan komitmen Kementerian Transmigrasi untuk menyusun arah pembangunan melalui pemetaan kondisi nyata di lapangan. Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai peran Tim Ekspedisi Patriot penting dalam menyediakan gambaran kebutuhan masyarakat kawasan transmigrasi.
“Para patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” terang Iftitah.
Bagi warga Klamono Segun, kompor biomassa menawarkan lebih dari sekadar peralatan memasak. Kehadirannya menghadirkan pilihan saat bahan bakar konvensional sulit dijangkau, sekaligus dapat mendukung produksi keripik talas dan pisang yang berpotensi menambah penghasilan keluarga. Pendampingan, distribusi alat, dan rencana kios hilirisasi menjadi rangkaian langkah yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi serta usaha masyarakat di Sorong.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is TEP Universitas Brawijaya Dorong Kemandirian Energi?
TEP Universitas Brawijaya Dorong Kemandirian Energi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does TEP Universitas Brawijaya Dorong Kemandirian Energi matter?
TEP Universitas Brawijaya Dorong Kemandirian Energi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

