Regional

Cerita Lansia 81 Tahun Jadi Korban Kecelakaan Malah Dituduh Lakukan Pemerasan

Cerita Lansia 81 Tahun Jadi korban kecelakaan lalu lintas yang kemudian dituduh melakukan pemerasan telah menjadi perbincangan hangat di masyarakat Jakarta

Desk Regional
Published Agustus 7, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Emily Rodriguez - beritahitam.com
Table of Contents
  1. Cerita Lansia 81 Tahun Jadi Korban Kecelakaan Dituduh Pemerasan
  2. FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Kasus Ini
  3. Related Reading

Cerita Lansia 81 Tahun Jadi Korban Kecelakaan Dituduh Pemerasan

Beritahitam.com – Cerita Lansia 81 Tahun Jadi korban kecelakaan lalu lintas yang kemudian dituduh melakukan pemerasan telah menjadi perbincangan hangat di masyarakat Jakarta. Akiam, seorang pria berusia 81 tahun, mengalami nasib malang setelah menjadi korban tabrak lari pada Sabtu pagi, tanggal 25 Juli 2026. Kejadian ini terjadi di kawasan Jalan Tomang Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Kendaraan angkutan JakLingko menabrak korban saat ia sedang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan normal. JakLingko sendiri adalah layanan transportasi terintegrasi di ibu kota yang menyatukan rute, sistem pembayaran, dan layanan dari berbagai moda seperti MRT, LRT, TransJakarta, serta Mikrotrans atau angkot.

Parahnya, Akiam tidak hanya mengalami luka serius di beberapa bagian tubuhnya, tetapi juga sempat pingsan akibat benturan tersebut. Menantunya segera membawa korban ke Rumah Sakit Sumber Waras untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun, kondisi yang semakin memburuk membuat Liana, istri korban, memutuskan untuk memindahkan suaminya ke RS Siloam. “Awalnya di sana ditangani dulu, tapi akhirnya saya bawa ke RS Siloam,” jelas Liana dalam rekaman program Saksi Kata di channel Youtube TribunJakarta Official.

Janji Sopir yang Berubah Menjadi Tuduhan

Sebelumnya, sopir JakLingko yang menabrak Akiam tampak bersikap baik dan berjanji akan menanggung segala konsekuensi atas kecelakaannya. Liana memberikan tenggat waktu selama dua minggu kepada sopir tersebut. Namun, ketika masa tenggat itu berakhir dan anaknya menghubungi sopir untuk menanyakan status pertanggungjawaban, sikap sopir berubah drastis. “Dua minggu kemudian, anak saya telepon sopir, ‘Pak, bagaimana pertanggungjawabannya, Pak?’,” kenang Liana sambil menirukan suara anaknya.

“Jadi bagaimana, kamu mau memeras nih?” kata Liana menirukan omongan sopir JakLingko.

Tuduhan pemerasan itu datang dari sopir yang seharusnya bertanggung jawab. Padahal, Akiam bahkan harus menjalani proses pengobatan di Malaysia karena kondisinya yang parah. Alih-alih menunjukkan itikad baik, sopir JakLingko justru menuduh keluarga korban melakukan pemerasan saat dimintai pertanggungjawaban. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya bukti dan kesaksian dalam menyelesaikan sengketa lalu lintas.

Kontradiksi Keterangan Saat Mediasi

Ketika kasus ini dibawa ke proses mediasi, sopir JakLingko masih terlihat membela diri. Lebih membingungkan lagi, keterangan yang diberikan oleh sopir tersebut berbeda dengan kesaksian warga yang melihat kejadian di lokasi. Liana dan suaminya Akiam saat didatangi TribunJakarta.com juga mengonfirmasi bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Warga sekitar menyatakan bahwa mereka melihat sopir JakLingko berhenti sejenak setelah menabrak Akiam, namun kemudian melanjutkan perjalanan tanpa memberikan bantuan.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana korban kecelakaan bisa mendapatkan perlakuan tidak adil. Akiam yang seharusnya mendapatkan perawatan dan kompensasi, malah dituduh melakukan hal yang salah oleh sopir yang menjadi penyebab kecelakaannya. Masyarakat berharap proses hukum dapat berjalan lancar dan memberikan keadilan bagi korban.

Proses Mediasi dan Tindakan Hukum

Proses mediasi kasus ini melibatkan beberapa pihak termasuk keluarga korban, sopir JakLingko, dan perwakilan perusahaan transportasi. Selama mediasi, Liana menjelaskan bahwa ia hanya meminta pertanggungjawaban yang wajar atas kecelakaan yang menimpa suaminya. Namun, sopir JakLingko justru menuduh keluarga korban melakukan pemerasan dengan alasan yang tidak jelas. Warga sekitar yang menjadi saksi juga memberikan kesaksian yang mendukung klaim keluarga korban.

Menurut informasi yang dihimpun, kasus ini akan dilanjutkan ke proses hukum jika mediasi tidak menghasilkan kesepakatan. Liana menyatakan bahwa ia tidak akan mundur dari tuntutan keadilan bagi suaminya. “Kami hanya ingin keadilan, bukan pemerasan,” tegas Liana. Proses hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Kasus Ini

Apa yang terjadi pada Akiam setelah kecelakaan?

Akiam mengalami luka serius dan sempat pingsan akibat benturan. Ia awalnya dibawa ke RS Sumber Waras, kemudian dipindahkan ke RS Siloam karena kondisinya memburuk. Bahkan, Akiam harus menjalani proses pengobatan di Malaysia karena kondisinya yang parah.

Mengapa sopir JakLingko menuduh keluarga korban melakukan pemerasan?

Sopir JakLingko menuduh keluarga korban melakukan pemerasan setelah Liana memberikan tenggat waktu dua minggu untuk pertanggungjawaban. Ketika masa tenggat berakhir dan anaknya menghubungi sopir, sopir tersebut tiba-tiba menuduh keluarga korban melakukan pemerasan.

Bagaimana proses mediasi kasus ini?

Proses mediasi melibatkan keluarga korban, sopir JakLingko, dan perwakilan perusahaan transportasi. Selama mediasi, Liana menjelaskan bahwa ia hanya meminta pertanggungjawaban yang wajar atas kecelakaan yang menimpa suaminya. Namun, sopir JakLingko justru menuduh keluarga korban melakukan pemerasan dengan alasan yang tidak jelas.

Apa langkah selanjutnya dalam kasus ini?

Kasus ini akan dilanjutkan ke proses hukum jika mediasi tidak menghasilkan kesepakatan. Liana menyatakan bahwa ia tidak akan mundur dari tuntutan keadilan bagi suaminya. Proses hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

Untuk informasi lebih lanjut tentang kasus ini, pembaca dapat mengunjungi Tribunnews Regional atau mengikuti perkembangan melalui channel Youtube TribunJakarta Official.

Leave a Comment