Regional

Historic Moment: Dulu Kerja Serabutan, Andre Kini Pekerjakan 30 Pemetik Kangkung di Lombok

Andre Pekerjakan 30 Pemetik Kangkung di Lombok, Kisah Sukses dari Nol Historic Moment - Sebuah historic moment terjadi di Desa Tereng, Kecamatan Narmada

Desk Regional
Published Juni 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Andre Pekerjakan 30 Pemetik Kangkung di Lombok, Kisah Sukses dari Nol

Historic Moment – Sebuah historic moment terjadi di Desa Tereng, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang pria bernama Andre (35) yang dulu hanya bekerja harian di berbagai tempat kini telah mampu membangun usaha kangkung yang menyerap tenaga kerja sebanyak 30 orang. Usaha ini tidak hanya mengubah hidup Andre, tetapi juga memberi dampak signifikan pada ekonomi masyarakat sekitar. Dari seorang pekerja sambilan, ia kini menjadi pengusaha sukses yang berkomitmen pada pembangunan lokal.

Perjalanan Andre: Dari Pekerja Harian ke Pengusaha Kangkung

Perjalanan Andre memulai pada tahun 2017, ketika ia hanya berdagang kangkung secara sederhana di pasar lokal. Namun, dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk menanam kangkung air secara massal di lahan seluas 6 hektare. Awalnya, ia mengelola seluruh proses, mulai dari menanam, memetik, hingga memasarkan hasil panen. Proses ini memakan waktu dan tenaga, tetapi berbuah kesuksesan yang tak terduga.

“Sebelumnya, saya hanya bekerja sambilan, tetapi keinginan untuk mandiri membuat saya mulai menanam kangkung air,” ujar Andre saat ditemui Tribunnews.com. Ia mengakui, awalnya usaha ini terbilang sulit. “Tahun pertama, saya bahkan harus menyisihkan uang pribadi untuk membeli benih dan alat pertanian,” tambahnya. Namun, setelah satu tahun berjalan, usaha Andre mulai menunjukkan hasil yang memuaskan.

Keberhasilan ini membawa perubahan drastis. Pada 2018, pesanan kangkung dari Lombok Utara mulai datang, sehingga Andre merekrut karyawan untuk mempercepat produksi. Setahun kemudian, usahanya berkembang hingga menyuplai produk ke Denpasar, Bali. “Saya ingin menunjukkan bahwa kisah sukses bisa dimulai dari nol, terutama di daerah pedesaan,” katanya. Keberlanjutan usaha ini juga didukung oleh penggunaan bahan daur ulang dalam sistem produksi, yang menjadi historic moment dalam inovasi pertanian.

Pembangunan Ekonomi dan Keterlibatan Komunitas

Dengan menggandeng 30 pekerja pemetik kangkung, Andre tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberi peluang kerja kepada perempuan di Desa Tereng. Para pekerja ini bekerja dengan jadwal tetap, yaitu dari pukul 07.00 hingga 16.00 WITA, termasuk waktu untuk makan, salat, dan istirahat. Tarif upah yang diberikan sekitar Rp100.000 hingga Rp120.000 per hari, dengan penghitungan berdasarkan jumlah kangkung yang dipetik, yaitu Rp43.000 per bal.

Selain itu, Andre juga menjalin kerja sama dengan 10 petani lokal yang menanam kangkung di lahan mereka sendiri. “Mereka membantu mengurangi biaya produksi, sambil mendapatkan keuntungan tambahan,” jelas Andre. Kolaborasi ini memastikan pasokan kangkung tetap stabil, meski menghadapi tantangan seperti musim kemarau atau harga bahan pokok yang melonjak. “Saya percaya bahwa historic moment ini bisa menjadi contoh untuk usaha lain di daerah ini,” tambahnya.

Upaya Peningkatan Kualitas Produksi

Untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produksi, Andre terus mengembangkan sistem manajemen yang lebih terstruktur. Ia memperkenalkan teknik penanaman yang lebih efisien, seperti penggunaan pupuk organik dan pengendalian hama secara alami. “Membuat kangkung lebih sehat dan cepat tumbuh bisa mengurangi biaya produksi, serta membuat hasil lebih menarik untuk konsumen,” katanya. Selain itu, Andre juga berencana memperluas usaha dengan menambahkan variasi sayuran lain, seperti bayam dan kangkung darat.

Dalam jangka panjang, Andre berharap usahanya bisa menjadi tulang punggung ekonomi Desa Tereng. “Saya ingin ada lebih banyak pekerja harian yang menjadi pengusaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian,” ujarnya. Ia juga berencana menyediakan pelatihan kepada pekerjanya, agar mereka bisa memahami seluk-beluk pertanian dan meningkatkan keterampilan.

Contribusi Andre ke Pembangunan Sosial dan Lingkungan

Di samping usaha kangkung, Andre juga terlibat dalam proyek ruang kelas tahan gempa di SDN 2 Pohgading, Lombok Timur. Ia menggunakan bahan daur ulang dari hasil pertaniannya untuk membangun sekolah yang lebih aman. “Saya ingin memberikan kontribusi ke bidang pendidikan dan lingkungan sekaligus,” katanya. Proyek ini menunjukkan komitmen Andre untuk mengembangkan potensi lokal secara holistik.

Kisah Andre menjadi inspirasi bagi banyak warga Lombok yang ingin beralih ke pertanian. Dengan usaha yang terus berkembang, ia memperlihatkan bahwa historic moment tidak hanya terjadi di bidang politik atau budaya, tetapi juga bisa terwujud dalam dunia usaha pertanian. “Saya ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa menjadi bisnis modern yang menguntungkan, terutama bagi warga desa,” pungkas Andre. Dengan visi ini, ia berharap ekonomi Lombok bisa tumbuh secara berkelanjutan.

Leave a Comment