Regional

Ibu di Medan Janjikan Bayinya Diadopsi, Berujung Menculik Bayi dari Rumah Sakit

PENCULIKAN-BAYI-Satu-dari-dua-pelaku-penculikan-bayi

Dua Wanita Dicokok Polisi Usai Curi Bayi Laki-laki dari RS Sundari Medan

Beritahitam.com – Polisi di Kota Medan, Sumatra Utara, menetapkan dua perempuan berinisial AM dan F sebagai tersangka dalam kasus penculikan bayi laki-laki yang terjadi di Rumah Sakit Sundari, kawasan Medan Sunggal. Penetapan tersangka diumumkan pada Kamis, 3 September 2026, setelah penyelidikan singkat mengungkap bahwa kedua pelaku merencanakan pencurian tersebut dengan modus operandi yang cukup terstruktur.

Kasus ini mencuat ketika orang tua bayi menyadari bahwa anak mereka tidak lagi berada di ruang perawatan bayi. Ketidakhadiran sang bayi memicu kepanikan, dan keluarga segera melapor ke pihak kepolisian. Dari laporan itulah penyelidikan dibuka dan berujung pada identifikasi dua pelaku.

Modus Operandi: Pura-pura Jadi Perawat

Rekaman kamera pengawas di dalam rumah sakit memperlihatkan bahwa AM masuk ke area perawatan bayi dengan mengenakan seragam perawat yang telah ia siapkan sebelumnya. Menariknya, AM bukan orang asing bagi lingkungan rumah sakit tersebut. Ia pernah mengabdi sebagai perawat di RS Sundari pada periode 2010 hingga 2012, sehingga ia memahami tata letak ruangan dan rutinitas harian staf medis.

Dari rekaman CCTV, AM terlihat bergerak di dalam area rumah sakit selama kurang lebih satu setengah jam sebelum akhirnya berhasil membawa keluar bayi incarannya. Ia mendatangi ruangan tempat bayi bersama keluarganya berada, lalu menyampaikan bahwa sang bayi akan dibawa untuk pemeriksaan oleh dokter. Orang tua, yang memang sedang memberikan ASI kepada bayinya dan mengetahui jadwal pemeriksaan dokter pukul 12.00 WIB, tidak menaruh curiga ketika AM mengambil bayi pada pukul 11.30 WIB.

“Awalnya bayi itu sama orangtuanya untuk diberikan ASI. Lalu pukul 12.00 WIB seharusnya diambil oleh dokter. Cuma 11.30 diambil sama pelaku dengan modus akan diperiksa ke dokter. Jadi tak ada kecurigaan orang tua,” ujar Iptu Dearma, Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Medan.

Peran F: Pengawal di Luar dengan Sepeda Motor

Sementara AM beraksi di dalam gedung, F bertugas di luar rumah sakit. Perannya adalah mengawasi situasi sekitar sekaligus menunggu AM keluar membawa bayi. F telah menyiapkan sepeda motor agar keduanya dapat segera meninggalkan lokasi begitu penculikan berhasil.

“Yang satu inisial F, dia nunggu di luar rumah sakit, dia yang bawa motor,” kata AKBP Adrian Risky Lubis, Kasat Reskrim Polrestabes Medan.

“Yang satu inisial AM, itulah yang berpura-pura jadi perawat, itulah yang mengambil bayinya. Dia juga mantan perawat di rumah sakit itu,” lanjut Lubis.

Motif: Janji Adopsi yang Tak Terpenuhi

Polisi mendalami motif di balik aksi nekat tersebut. Dari pengakuan para pelaku, penculikan itu dilatarbelakangi tekanan ekonomi. F sebelumnya berjanji kepada pasangan suami istri yang mereka kenal bahwa bayinya akan diserahkan untuk diadopsi. Perjanjian itu menetapkan tanggal 31 Agustus sebagai batas waktu penyerahan bayi.

Namun, hingga tenggat tersebut tiba, F belum melahirkan. Alih-alih membatalkan perjanjian atau mencari solusi lain, keduanya memilih jalan pintas: mencuri bayi pengganti langsung dari rumah sakit. Keputusan ini menunjukkan betapa desakan ekonomi dan komitmen sosial dapat mendorong seseorang mengambil tindakan yang berujung pada tindak pidana serius.

Implikasi bagi Keamanan Fasilitas Kesehatan

Kasus ini menyoroti kerentanan yang kerap luput dari perhatian di fasilitas kesehatan, khususnya di area perawatan bayi baru lahir. Rumah sakit yang menerima banyak pengunjung, staf berganti-ganti, dan mobilitas tinggi menjadi lingkungan yang relatif mudah dieksploitasi oleh pihak luar yang memahami prosedur internal.

Fakta bahwa AM pernah bekerja di RS Sundari selama dua tahun memperkuat kekhawatiran bahwa mantan tenaga medis memiliki akses pengetahuan tentang jadwal, tata letak, dan kebiasaan staf yang tidak dimiliki orang asing biasa. Hal ini membuka pertanyaan tentang apakah rumah sakit memiliki mekanisme verifikasi identitas yang memadai bagi setiap orang yang memasuki area rawan seperti ruang bayi.

Pihak kepolisian menyatakan masih mendalami kemungkinan adanya jaringan perdagangan anak di balik kasus ini. Penyelidikan lanjutan akan mengungkap apakah pasangan suami istri yang menjadi tujuan adopsi mengetahui bahwa bayi yang akan mereka terima bukan anak kandung F, serta apakah terdapat pihak lain yang terlibat dalam rantai transaksi tersebut.

Bagi masyarakat Medan dan sekitarnya, kasus ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap orang asing di lingkungan rumah sakit tetap diperlukan, terutama di area yang menyimpan nyawa dan masa depan generasi paling rentan. Orang tua yang sedang berada di fasilitas kesehatan disarankan untuk selalu memastikan identitas staf sebelum menyerahkan bayi kepada siapa pun, bahkan jika yang bersangkutan mengenakan seragam resmi.

Frequently Asked Questions

What is Ibu di Medan Janjikan Bayinya Diadopsi?

Ibu di Medan Janjikan Bayinya Diadopsi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ibu di Medan Janjikan Bayinya Diadopsi matter?

Ibu di Medan Janjikan Bayinya Diadopsi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *