Ingatkan Pemerintah Fokus Korban Luka dan Kelompok Rentan, Daryono: Prioritas Pengungsian Gempa NTT
Penanganan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) memerlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada evakuasi
Table of Contents
Ingatkan Pemerintah Fokus Korban Luka, Daryono: Prioritas Pengungsian Gempa NTT
Beritahitam.com – Penanganan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) memerlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada evakuasi korban dan distribusi bantuan. Dr. Daryono, Pakar Gempa Bumi sekaligus Anggota Senior Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), secara tegas mengingatkan pemerintah untuk memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan yang berada di lokasi pengungsian. Pernyataan ini menjadi sangat relevan mengingat kompleksitas situasi pasca-bencana di wilayah tersebut.
Kelompok rentan seperti lansia, bayi, ibu hamil, penyandang disabilitas hingga korban luka harus menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat. "Perlindungan kelompok rentan, lansia, bayi, ibu hamil dan penyandang disabilitas harus mendapatkan perhatian lebih karena mereka rentan," kata Daryono saat diwawancarai, Sabtu (15/8/2026). Peringatan tersebut menjadi penting setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 47 orang meninggal dunia akibat gempa M7,7 hingga Sabtu pukul 18.48 WIB.
Sebaran Korban dan Tantangan Pasca-Gempa
Korban tersebar di berbagai kabupaten di NTT dengan rincian sebagai berikut: Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka tiga orang, Manggarai Barat satu orang, Ngada satu orang dan Ende satu orang. Selain korban meninggal, petugas gabungan masih melakukan evakuasi dan memberikan perawatan medis terhadap warga yang mengalami luka-luka. Daryono mengingatkan, risiko terhadap masyarakat tidak berhenti setelah guncangan gempa mereda.
Ada rangkaian bencana sekunder yang harus diantisipasi pemerintah dalam fase tanggap darurat. Bangunan yang roboh masih berpotensi menyimpan korban. Akses menuju sejumlah wilayah dapat terputus. Distribusi logistik juga dapat terganggu, sementara warga yang bertahan di pengungsian menghadapi persoalan air bersih dan sanitasi.
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi persoalan kemanusiaan apabila tidak segera ditangani. "Yang perlu diantisipasi juga pengungsi agar tidak terjangkit penyakit-penyakit," ujar Daryono. Karena itu, pemerintah tidak hanya dituntut menemukan korban dan memenuhi kebutuhan makanan, tetapi juga memastikan tempat pengungsian memenuhi standar dasar kesehatan dan keselamatan.
72 Jam Masa Kritis untuk Mencegah Tragedi Kemanusiaan
Daryono menekankan bahwa 72 jam pertama merupakan masa kritis dalam penanganan bencana. Selama periode ini, pemerintah harus memastikan bahwa semua kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi dengan baik. Air bersih dan sanitasi menjadi dua hal yang wajib dipastikan ketersediaannya di setiap lokasi pengungsian. Tanpa penanganan yang tepat, potensi wabah penyakit meningkat signifikan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu mengkoordinasikan seluruh sumber daya yang ada untuk memastikan respons yang cepat dan efektif. Koordinasi ini mencakup evakuasi, perawatan medis, distribusi logistik, dan pemantauan kondisi kesehatan pengungsi secara berkala. "Kita tidak boleh membiarkan situasi berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang lebih besar," tegas Daryono.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pengungsian Gempa NTT
Q: Berapa jumlah korban meninggal akibat gempa NTT? A: Hingga Sabtu pukul 18.48 WIB, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia akibat gempa magnitudo 7,7.
Q: Kabupaten mana yang paling banyak mengalami korban? A: Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban tertinggi dengan 24 orang, diikuti Manggarai Timur dengan 17 orang.
Q: Apa saja kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian khusus? A: Kelompok rentan meliputi lansia, bayi, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan korban luka yang memerlukan perawatan medis intensif.
Q: Mengapa 72 jam pertama disebut sebagai masa kritis? A: Karena dalam periode ini, pemerintah harus memastikan evakuasi selesai, logistik terdistribusi, dan pengungsi tidak terjangkit penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan penanganan bencana di NTT, pembaca dapat mengunjungi halaman khusus bencana di Tribunnews Regional.
